<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Blog anak teknik yang merantau sampai ampah</title>
	<atom:link href="http://anakampah.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://anakampah.wordpress.com</link>
	<description>Berbuatlah dimanapun kamu berada</description>
	<lastBuildDate>Tue, 03 Jan 2012 03:56:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='anakampah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/5ad82c3fb50ef36f525d97fcc92d95cd?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Blog anak teknik yang merantau sampai ampah</title>
		<link>http://anakampah.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://anakampah.wordpress.com/osd.xml" title="Blog anak teknik yang merantau sampai ampah" />
	<atom:link rel='hub' href='http://anakampah.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Tuntunan Qiyamul Lail Dan Sholat Tarawih</title>
		<link>http://anakampah.wordpress.com/2011/07/24/tuntunan-qiyamul-lail-dan-sholat-tarawih/</link>
		<comments>http://anakampah.wordpress.com/2011/07/24/tuntunan-qiyamul-lail-dan-sholat-tarawih/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jul 2011 23:16:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agung Suparjono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anakampah.wordpress.com/?p=379</guid>
		<description><![CDATA[Tuntunan Qiyamul Lail Dan Sholat Tarawih Penulis: Al-Ustadz Dzulqarnain Bin Muhammad Sunusi Al-Atsary Definisi Qiyamul Lail dan Sholat Tarwih Secara umum sholat di malam hari setelah sholat ‘Isya sampai subuh disebut Qiyamul Lail. Di dalam Al-Qur`an Al-Karim, Allah Subhanahu berfirman : “Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anakampah.wordpress.com&amp;blog=6274777&amp;post=379&amp;subd=anakampah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tuntunan Qiyamul Lail Dan Sholat Tarawih<br />
Penulis: Al-Ustadz Dzulqarnain Bin Muhammad Sunusi Al-Atsary</strong></p>
<p>Definisi Qiyamul Lail dan Sholat Tarwih<br />
Secara umum sholat di malam hari setelah sholat ‘Isya sampai subuh disebut Qiyamul Lail. Di dalam Al-Qur`an Al-Karim, Allah Subhanahu berfirman :<br />
“Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih<br />
dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur&#8217;an itu dengan perlahan-lahan.” (QS. Al-Muzzammil : 1-4)<br />
Dan sholat di malam hari juga disebut sholat Tahajjud. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman : “Dan pada sebahagian malam hari bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu:<br />
mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.”. (QS. Al-Isra` : 79)<br />
Tahajjud secara bahasa adalah bermakna membuang tidur. Berkata Imam Ath-Thobary : “Tahajjud adalah begadang setelah tidur” kemudian beliau membawakan beberapa nukilan dari<br />
ulama Salaf tentang hal tersebut.<br />
Adapun sholat Tarawih, definisinya adalah Qiyamul Lail secara berjama’ah di malam Ramadhan. Menurut keterangan Al-Hafizh Ibnu Hajar dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, dinamakan Tarawih –yang<br />
dia merupakan kata jamak dari tarwihah yang bermakna ditebalkan- dikarenakan pada awal kali pelaksanaannya orang-orang memperpanjang berdiri, rukuk dan sujud, apabila telah selesai<br />
empat raka’at dengan dua kali salam maka mereka beristirahat kemudian sholat empat raka’at dengan dua kali salam lalu beristirahat kemudian sholat tiga raka’at sebagaimana dalam hadits<br />
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha riwayat Al-Bukhary dan Muslim :<br />
“Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam tidaklah menambah pada (bulan) Ramadhan dan tidak pula pada selain Ramadhan lebih dari sebelas raka&#8217;at. Beliau sholat empat (raka&#8217;at)<span id="more-379"></span><br />
jangan kamu tanya tentang baiknya dan panjangnya, kemudian beliau sholat empat (raka&#8217;at) jangan kamu tanya tentang baiknya dan panjangnya kemudian beliau sholat tiga (raka&#8217;at)”.<br />
Dan perlu diketahui bahwa penamaan sholat lail di malam Ramadhan dengan nama Tarawih adalah penamaan yang sudah lama dan di kenal dikalangan para Ulama tanpa ada yang<br />
mengingkari. Perhatikan bagaimana Imam Al-Bukhary (Wafat tahun 256 H) dalam Shohih-nya menulis kitab khusus dengan judul Kitab Sholat At-Tarawih dan demikian pula Muhammad bin<br />
Nashr Al-Marwazy (Wafat tahun 294 H) dalam Mukhtashor Qiyamul Lail. Demikian pula disebut oleh para Ulama lainnya, abad demi abad tanpa ada yang mengingkarinya.<br />
Karena itu alangkah sedikit pemahaman agama sebahagian orang di zaman ini yang mengingkari penamaan sholat lail di malam Ramadhan dengan nama sholat Tarawih, dan lebih menakjubkan<br />
lagi, ada sebahagian orang tanpa rasa malu menganggap bahwa sholat Tarawih adalah bid’ah.<br />
Nas`alullaha As-Salamata Wal ‘Afiyah.<br />
Baca : Fathul Bari 3/3, 4/250, Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah karya Syaikh Ibnu Baz 11/317-318, Asy-Syarh Al-Mumti’ 4/12-13 dan Majmu’ Fatawa wa Rasa`il Syaikh Ibnu ‘Utsaimin 14/210.</p>
<p>Fadhilah dan Keutamaan Qiyamul Lail dan Sholat Tarwih<br />
Secara umum Qiyamul lail adalah perkara yang sangat dianjurkan dalam syari’at Islam. Berikut ini beberapa dalil selain dari beberapa ayat yang telah disebutkan di atas :<br />
Allah Ta’ala berfirman :<br />
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman terhadap ayat-ayat Kami, adalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat (Kami), mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta<br />
memuji Tuhannya, sedang mereka tidak menyombongkan diri. Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdo`a kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka<br />
menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. As-Sajadah : 15-16)<br />
Dan Allah Jalla Tsana`uhu menjelaskan diantara sifat hamba-Nya :<br />
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka.<br />
Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik; Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).”<br />
(QS. Adz-Dzariyat : 15-17)<br />
Dan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu riwayat Muslim, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :<br />
“Seutama-utama puasa setelah (puasa) Ramadhan adalah (puasa) Bulan Allah Muharram dan seutama-utama sholat setelah (sholat) fardhu adalah sholat lail.”<br />
Dalam hadits ‘Amr bin ‘Abasah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :<br />
“Sedekat-dekat keberadaan Allah terhadap seorang hamba adalah para pertengahan malam terakhir. Maka kalau engkau mampu termasuk dari orang mengingat Allah pada saat itu maka hendaknya engkau termasuk (darinya)” (HR. At-Tirmidzy 5/569/3578, An-Nasa`i 1/279, Ibnu Khuzaimah 1/182/1147, Al-Hakim 1/453, Al-Baihaqy 3/4 dan dishohihkan oleh Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’ Ash-Shohih 2/171)<br />
Dan sholat lail termasuk penyebab seseorang terhindar dari fitnah, sebagaimana dalam hadits Ummu Salamah riwayat Al-Bukhary :<br />
“Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam terbangun pada suatu malam lalu beliau bersabda: “Subhanallah, apa yang diturunkan malam ini berupa fitnah dan apa yang dibuka dari berbagai<br />
perbendaharaan, bangunkanlah (para perempuan) pemilik kamar karena kadang (perempuan) berpakaian di dunia tetapi telanjang di akhirat”.”<br />
Dan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata :<br />
“Sesungguhnya Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam melakukan Qiyamul lail sampai pecah-pecah kedua kaki beliau maka saya bertanya : “Mengapa engkau melakukan ini wahai Rasulullah padahal Allah telah mengampuni apa telah berlalu dari dosamu dan apa yang akan datang?” maka beliau menjawab : “Tidakkah saya cinta untuk menjadi hamba yang bersyukur”.”<br />
Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :<br />
“Allah merahmati seorang lelaki yang terbangun di malam hari lalu sholat dan membangunkan istrinya, kalau dia enggan maka ia memercikkan air ke wajahnya. Allah merahmati seorang perempuan bangun di malam hari lalu sholat dan membangunkan suaminya, kalau dia enggan maka ia memercikkan air ke wajahnya.” (HR. Abu Daud no. 1308, 1450, An-Nasa`i 3/205, Ibnu Majah no. 1336, Ibnu Khuzaimah 2/183/1148, Ibnu Hibban 6/306/2567 -Al-Ihsan-, Al-Hakim 1/453 dan Al-Baihaqy 2/501. Dan dishohihkan oleh Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’ Ash-Shohih 2/172)<br />
Dan khusus tentang sholat lail di malam Ramadhan, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam telah menjelaskan keutamaannya dalam sabdanya :<br />
“Siapa yang Qiyam Ramadhan (berdiri sholat di malam Ramadhan) dengan keimanan dan mengharap pahala maka telah diampuni apa yang telah lalu dari dosanya” (HR. Al-Bukhary dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.)<br />
Berkata Imam An-Nawawy dalam Syarah Muslim 6/38 : “Yang dimaksud dengan Qiyam Ramadhan adalah sholat Tarawih”. Bahkan Al-Kirmany menukil kesepakatan bahwa yang dimaksud dengan Qiyam Ramadhan dalam hadits di atas adalah sholat Tarawih. Namun nukilan kesepakatan dari Al-Kirmany dianggap aneh oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar karena kapan Qiyamul lail dilakukan di malam Ramadhan dengan berjama’ah (Tarawih) atau tanpa berjama’ah maka telah tercapai apa yang diinginkan. Demikian makna keterangan beliau dalam Fathul Bari 4/251.<br />
Dan dalam hadits ‘Amr bin Murrah Al-Juhany radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata :<br />
“Datang kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam seorang lelaki dari Qudho’ah lalu berkata : “Wahai Rasulullah, bagaimana menurut engkau andaikata saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah dan engkau rasul Allah, saya sholat lima waktu, saya puasa bulan (Ramadhan), saya melakukan Qiyam Ramadhan dan saya mengeluarkan zakat?. Maka Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda : “Siapa yang meninggal di atas hal ini maka ia termasuk dari para shiddiqin dan orang-orang yang mati syahid”.” (Berkata Syaikh Al-Albany dalam Qiyam Ramadhan hal. 18 : “Dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam Ash-Shohih mereka berdua dan juga diriwayatkan oleh selain keduanya dengan sanad yang shohih”.)<br />
Dan tentang malam Lailatul Qadri, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :<br />
“Siapa yang berdiri (sholat) malam lailatul qadri dengan keimanan dan mengharap pahala maka telah diampuni apa yang telah lalu dari dosanya” (HR. Al-Bukhary dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.)</p>
<p>Syari’at Sholat Tarawih Secara Berjama’ah<br />
Ada beberapa hadits yang menunjukkan akan disyari’atkannya pelaksanaan sholat Tarawih secara berjama’ah. Di antara hadits-hadits itu adalah sebagai berikut :<br />
Dari Abu Dzar Al-Ghifary radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata : “Kami berpuasa Ramadhan bersama Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dan beliau tidak berdiri (sholat lail) bersama kami sedikitpun dari bulan itu kecuali setelah tersisa tujuh hari. Kemudian beliau berdiri (mengimami) kami sampai berlalu sepertiga malam. Dan ketika malam keenam (dari malam yang tersisa,-pent.) beliau tidak berdiri (mengimami) kami. Kemudian saat malam kelima (dari malam yang tersisa,-pent.) beliau berdiri (mengimami) kami sampai berlalu seperdua malam. Maka berkata : “Wahai Rasulullah, andaikata engkau menjadikan nafilah untuk kami Qiyam malam ini,” maka beliau bersabda : “Sesungguhnya seorang lelaki apabila ia sholat bersama imam sampai selesai maka terhitung baginya Qiyam satu malam”. Dan ketika malam keempat (dari malam yang tersisa,-pent.) beliau tidak berdiri (mengimami) kami. Dan saat malam ketiga (dari malam yang tersisa,-pent.) beliau mengumpulkan keluarganya, para istrinya dan manusia lalu beliau berdiri (mengimami) kami<br />
sampai kami khawatir ketinggalan Al-Falah. Saya –rawi dari Abu Dzar- bertanya : “Apakah Al-Falah itu?” (Abu Dzar menjawab : “Waktu sahur”. Kemudian beliau tidak berdiri lagi (mengimami)<br />
kami pada sisa bulan.” (HR. Ahmad, Abu Daud, An-Nasa`i, Ibnu Majah dan lain-lainnya. Dan dishohihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Irwa`ul Gholil 2/193/447 dan Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’ Ash-Shohih 2/175.)<br />
Dan Abu Tholhah Nu’aim bin Ziyad, beliau berkata : Saya mendengar Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma di mimbar Himsh, beliau berkata :<br />
“Kami berdiri (sholat) bersama Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam di bulan Ramadhan pada malam 23 sampai sepertiga malam pertama, kemudian kami berdiri (sholat) bersama beliau pada malam 25 sampai seperdua malam, kemudian kami berdiri (sholat) bersama beliau pada malam 27 sampai kami menyangka tidak mendapati Al-Falah yang mereka namakan untuk waktu sahur” (HR. Ibnu Abi Syaibah 2/394, Ahmad 4/272, An-Nasa`i 3/203, Ibnu Khuzaimah 3/336/2204 dan Al-Hakim 1/607. Dan dihasankan oleh Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’ Ash-Shohih 2/174.)<br />
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata :<br />
“Sesungguhnya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam keluar di kegelapan malam lalu beliau sholat di masjid maka sekelompok orang sholat mengikuti sholat beliau. Kemudian manusia di pagi harinya membicarakan tentang hal tersebut maka berkumpullah lebih banyak dari mereka, maka keluarlah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam pada malam kedua lalu merekapun sholat mengikuti sholat beliau. Di waktu paginya manusia membicarakan hal tersebut sehingga menjadi banyaklah yang hadir di masjid pada malam ketiga, lalu beliau keluar dan mereka sholat mengikuti sholat beliau. Begitu malam yang keempat masjid tidak mampu menampung penduduknya. Akan tetapi Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam tidak keluar kepada mereka sampai sekelompok orang dari mereka berteriak : “Sholat”<br />
namun Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam tidak keluar kepada mereka sampai beliau keluar untuk sholat subuh. Tatkala beliau menyelesaikan (sholat) subuh, beliau menghadap kepada manusia kemudian beliau tasyahhud lalu berkata : “Amma Ba’du, sesungguhnya keadaan kalian malam ini tidak luput dari pemantauanku, akan tetapi aku khawatir akan diwajibkannya atas kalian sholat lail kemudian kalianpun tidak sanggup terhadapnya’.”<br />
(HR. Al-Bukhary dan Muslim dan lafazh hadits bagi Imam Muslim)<br />
Dari hadits ini diketahui mengapa sholat Tarawih di bulan Ramadhan tidak dilakukan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam terus menerus yaitu karena kekhawatiran beliau sholat tersebut diwajibkan atas umatnya sehingga memberatkan mereka. Namun kekhawatiran ini telah lenyap setelah wafatnya beliau dan agama telah sempurna. Karena itu sunnah ini dihidupkan oleh ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu.<br />
Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhary dari ‘Abdurrahman bin ‘Abd Al-Qary, beliau berkata :<br />
“Saya keluar bersama ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu menuju ke masjid pada suatu malam di Ramadhan, ternyata manusia terbagi-bagi berpisah-pisah, seseorang sholat sendirian<br />
dan seseorang sholat dimana sekelompok orang (mengikuti) sholatnya. Maka ‘Umar berkata :<br />
“Saya berpandangan andaikata saya kumpulkan mereka pada satu qori` maka itu lebih tepat.”Lalu beliau ber’azam lalu beliau kumpulkan mereka pada Ubay bin Ka’ab. Kemudian saya keluar<br />
bersama beliau pada malam lain dan manusia sedang sholat (mengikuti) sholat qori’ mereka maka ‘Umar berkata : “Sebaik-baik bid’ah adalah ini dan yang tidur darinya lebih baik dari yang<br />
menegakkannya” yang beliau inginkan adalah orang yang sholat pada akhir malam sementara manusia menegakkannya di awal malam”<br />
Ucapan ‘Umar radhiyallahu ‘anhu “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”, beliau maksud bid’ah secara bahasa karena beliau yang pertama kali menghidupkan sunnah ini setelah Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam memberikan dasar tuntunannya pada masa hidupnya. Wallahu A’lam.<br />
Berkata Syaikh Al-Albany dalam Qiyamu Ramadhan hal. 21-22 : “Dan disyari’atkan bagi para perempuan untuk menghadirinya (Jama’ah Tarawih,-pent.) sebagaimana dalam hadits Abu Dzar<br />
yang berlalu, dan telah tsabit (tetap, syah) dari ‘Umar bahwa tatkala beliau mengumpulkan manusia untuk Qiyam maka beliau menjadikan Ubay bin Ka’ab untuk laki-laki dan Sulaiman bin<br />
Abi Hatsmah untuk para perempuan. Dari ‘Arfajah Ats-Tsaqofy, beliau berkata : “Adalah ‘Ali bin Abi Tholib memerintah manusia untuk melakukan Qiyam bulan Ramadhan dan beliau menjadikan<br />
untuk laki-laki seorang imam dan untuk perempuan seorang imam. Berkata (‘Arfajah) : “Saya adalah imam para perempuan”.<br />
Saya berkata : Ini keadaannya menurutku bila masjidnya luas sehingga salah satu dari keduanya tidak mengganggu yang lainnya.”<br />
Dan perlu diketahui bahwa syari’at sholat Tarawih ini hanya dilakukan di bulan Ramadhan berdasarkan keterangan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam hadits riwayat Al-Bukhary dan Muslim bahwa pelaksanaan Tarawih secara berjama’ah ini dilakukan oleh beliau di bulan Ramadhan.<br />
Bertolak dari sini, nampaklah kesalahan sebahagian orang yang sering melakukan pelaksanaan Qiyamul Lail secara berjama’ah di luar Ramadhan. Memang Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi<br />
wa sallam kadang melakukan Qiyamul Lail secara berjama’ah di rumahnya bersama Ibnu ‘Abbas dan juga pernah bersama Ibnu Mas’ud dan pernah bersama Hudzaifah. Namun beliau tidak melakukan hal tersebut terus menerus dan tidak pula beliau melakukannya di masjid, karena itu siapa yang melakukan Qiyamul Lail secara berjama’ah di luar Ramadhan secara terus menerus atau secara berjama’ah di masjid maka tidak diragukan lagi bahwa hal tersebut tersebut termasuk dari perkara bid’ah yang tercela. Baca keterangan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam Asy-Syarh Al-Mumti’ 4/82-83.</p>
<p>Hukum Sholat Tarawih<br />
Berkata Imam An-Nawawy dalam Al-Majmu’ 3/526: “Dan sholat Tarawih adalah sunnah menurut kesepakatan para ‘ulama.” Lihat juga Syarah Muslim 6/38.<br />
Dan berkata Ibnu Rusyd dalam Bidayatul Mujtahid 1/209 : “Dan (para ulama) sepakat bahwa Qiyam bulan Ramadhan sangat dianjurkan lebih dari seluruh bulan.”<br />
Berkata Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny 2/601 : “Ia adalah sunnah muakkadah dan awal kali yang menyunnahkannya adalah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam.”<br />
Dan Al-Mardawy dalam Al-Inshof 2/180 juga memberi pernyataan sama dalam madzhab Hanbaliyah namun beliau menyebutkan bahwa Ibnu ‘Aqil menghikayatkan dari Abu Bakr Al-Hanbaly akan wajibnya.<br />
Tidaklah diragukan bahwa sholat Tarawih adalah sunnah muakkadah berdasarkan dalil-dalil yang telah disebut di atas.<br />
Baca juga : Al-Istidzkar 2/63-64, Syarhus Sunnah 4/118-119 dan Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah 7/194.<br />
Namun para ulama berselisih pendapat tentang mana yang afdhol dalam pelaksanaan sholat Tarawih, apakah dilakukan secara berjama’ah di masjid atau sendiriaan di rumah?. Ada dua<br />
pendapat di kalangan para ulama :<br />
1. Yang afdhol adalah secara berjama’ah. Ini adalah pendapat Asy-Syafi’iy dan kebanyakan pengikutnya, Ahmad, Abu Hanifah, sebahagian orang Malikiyah dan selainnya. Dan Ibnu Abi Syaibah menukil pelaksanaan secara berjama’ah dari ‘Ali, Ibnu Mas’ud, Ubay bin Ka’ab, Suwaid bin Ghafalah, Zadzan, Abul Bakhtary dan lain-lainnya. Alasannya karena ini adalah sunnah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam yang dihidupkan oleh ‘Umar dan para shohabat radhiyallahu ‘anhum dan sudah menjadi symbol agama yang nampak seperti sholat ‘Ied. Bahkan Ath-Thohawy berlebihan sehingga mengatakan bahwa sholat Tarawih<br />
secara berjama’ah adalah wajib kifayah.<br />
2. Sendirianlah yang afdhol. Ini adalah pendapat Imam Malik, Abu Yusuf, sebagian orang-orang Syafi’iyyah dan selainnya. Alasannya adalah hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi<br />
wa sallam yang berbunyi : “Sesungguhnya sebaik-baik sholat seseorang adalah dirumahnya kecuali sholat wajib.”<br />
Baca : Syarah Muslim 6/38-39, Al-Majmu’ 2/526, 528, Thorhut Tatsrib 3/94-97, Al-Mughny 2/605, Al-Istidzkar 2/71-73, Fathul Bari 4/252 dan Nailul Author 3/54.</p>
<p>Hukum Sholat Witir<br />
Menurut jumhur ulama sholat witir hukumnya adalah sunnah muakkadah. Ini pendapat Imam Malik, Asy-Syafi’iy, Ahmad, Ishaq dan lain-lainnya.<br />
Di sisi lain Abu Hanifah berpendapat bahwa sholat witir hukumnya wajib. Mereka berdalilkan dengan beberapa dalil, diantaranya hadits Buraidah radhiyallahu ‘anhu riwayat Abu Daud dan<br />
lain-lainnya, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda : “Witir adalah haq, siapa yang tidak witir maka bukanlah dari kami, witir adalah haq, siapa yang tidak witir maka bukanlah dari kami, witir adalah haq, siapa yang tidak witir maka bukanlah dari kami.” (Dihasankan oleh Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’ Ash-Shohih 2/159)<br />
Tarjih<br />
Yang benar dalam masalah ini bahwa sholat witir tidak wajib. Hal ini berdasarkan hadits Tholhah bin ‘Ubaidullah radhiyallahu ‘anhu riwayat Al-Bukhary dan Muslim, ketika Rasulullah shollallahu<br />
‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam menyebutkan kewajiban sholat lima waktu maka beliau di tanya, “Apakah ada kewajiban lain atasku” beliau menjawab : “Tidak, kecuali hanya sekedar sholat tathawwu’ (sholat sunnah).”<br />
Dan juga akan diterangkan tentang sholat witirnya Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam di atas hewan tunggangannya padahal dimaklumi bahwa sholat wajib tidaklah dilakukan di atas hewan tunggangan.<br />
Dan masih ada dalil-dalil lain yang menunjukkan tidak wajibnya. Baca : Al-Istidzkar 2/80, Al-Majmu’ 3/514-517, Al-Mughny 2/591-594, Al-Fatawa 23/88, Syarah Ibnu Rajab 6/210-212 dan Nailul Author 3/34.</p>
<p>Waktu Sholat Lail dan Sholat Tarawih<br />
Waktu pelaksanaanya adalah :<br />
1. Awal Waktu<br />
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 23/119-220 : “Sunnah dalam sholat Tarawih dilaksanakan setelah sholat ‘Isya sebagaimana yang telah disepakati oleh Salaf dan para<br />
Imam … dan tidaklah para Imam melakukan sholat (Tarawih) kecuali setelah ‘Isya di masa Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dan dimasa para Khulafa` Ar-Rasyidin dan di atas hal ini<br />
para Imam kaum muslimin…”<br />
Dan berkata Ibnul Mundzir : “Ahlul ‘Ilmi telah sepakat bahwa (waktu) antara sholat ‘Isya sampai terbitnya fajar adalah waktu untuk witir.”<br />
Maka ukuran awal waktu pelaksanaan Qiyam adalah setelah sholat ‘Isya, apakah sholat ‘Isyanya di awal waktu, pertengahan atau akhir waktunya. Demikian pula -menurut keterangan Syaikh<br />
Ibnu ‘Utsaimin dan selainnya- boleh dilaksanakan oleh seorang yang musafir bila ia telah menjamak taqdim waktu ‘Isya dengan waktu maghrib.<br />
Hal ini berdasarkan hadits Abu Bashrah radhiyallahu ‘anhu riwayat Ahmad dan selainnya, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :<br />
“Sesungguhnya Allah telah menambahkan bagi kalian suatu sholat yaitu witir, maka laksanakanlah sholat itu antara sholat ‘Isya sampai Subuh.” (Dishohihkan oleh Syaikh Al-Albany<br />
dalam Ash-Shohihah no. 108)<br />
Dan dalam hadits Kharijah bin Hudzafah radhiyallahu ‘anhu riwayat Abu Daud, At-Tarmidzy, Ibnu Majah dan lain-lainnya, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :<br />
“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla telah menganugerahi kalian suatu sholat yang lebih baik bagi kalian dari onta merah, yaitu sholat witir. (Allah) telah menjadikannya untuk kalian antara ‘Isya<br />
sampai terbitnya fajar”. (Dishohihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Al-Irwa` no. 423 dengan seluruh jalan-jalannya. Baca juga Fathul Bari karya Ibnu Rajab 6/235)<br />
Ada satu sisi pendapat lemah dikalangan pengikut madzhab Syafi’iyyah dan juga fatwa sebahagian dari orang-orang belakangan dari kalangan Hanbaliyah menyatakan bolehnya<br />
melakukan witir sebelum pelaksanaan ‘Isya. Tentunya itu adalah pendapat yang sangat lemah, bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : “Siapa yang melakukannya sebelum ‘Isya maka<br />
ia telah menempuh jalan para pengikut bid’ah yang menyelisihi sunnah”.<br />
Namun para ulama berselisih pendapat tentang orang yang sholat witir sebelum Isya dalam keadaan lupa atau ia menyangka telah melaksanakan sholat ‘Isya, apakah witirnya diulang<br />
kembali atau tidak?.<br />
Ada dua pendapat di kalangan para ulama tentang masalah ini :<br />
1. Pendapat pertama <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> iulangi kembali. Ini adalah pendapat jumhur ulama seperti Al-Auza’iy, Malik, Asy-Syafi’iy, Ahmad, Abu Yusuf, Muhammad dan lain-lainnya.<br />
2. Pendapat kedua : Tidak diulangi. Ini pendapat Sufyan Ats-Tsaury dan Abu Hanifah.<br />
Dan tidak diragukan lagi bahwa yang kuat adalah pendapat pertama berdasarkan dalil-dalil yang telah disebutkan.<br />
2. Akhir Waktu (Waktu Terakhir) Dari Sholat Lail (Tarawih)<br />
Para ulama sepakat bahwa seluruh malam sampai terbitnya fajar adalah waktu pelaksanaan witir.<br />
Namun ada perselisihan pada batasan akhir waktu witir, ada beberapa pendapat dikalangan para ulama :<br />
Satu : Akhir waktunya sampai terbit fajar. Ini adalah pendapat Sa’id bin Jubair, Makhul, ‘Atho`, An-Nakha’iy, Ats-Tsaury, Abu Hanifah dan riwayat yang paling masyhur dari Asy-Syafi’iy dan Ahmad. Dan diriwayatkan pula dari ‘Umar, Ibnu ‘Umar, Abu Musa dan Abu Darda` radhiyallahu anhum.<br />
Dua : Akhir waktunya sepanjang belum sholat subuh. Ini adalah pendapat Al-Qosim bin Muhammad, Malik, Asy-Syafi’iy -dalam madzhabnya yang terdahulu- dan salah satu riwayat dari Ahmad. Dan juga merupakan pendapat Ishaq bin Rahawaih, Abu Tsaur dan lain-lainnya. Dan diriwayatkan pula dari ‘Ali, Ibnu Mas’ud, ‘Ubadah bin Shomit, Hudzaifah dan lain-lainnya.<br />
Tarjih<br />
Yang kuat adalah pendapat pertama, karena dua hadits yang telah berlalu penyebutannya di atas sangatlah tegas menunjukkan bahwa akhir waktunya adalah sampai terbitnya fajar subuh. Dan<br />
juga dalam hadits Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma riwayat Muslim, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam ketika ditanya tentang kaifiyat sholat lail beliau bersabda :<br />
“(Sholat malam) dua dua, apabila engkau khawatir (masuk) waktu subuh maka sholatlah satu raka’at dan jadikan akhir sholatmu witir”<br />
Adapun untuk pendapat kedua, Ibnu Rajab menyebutkan beberapa dalil yang menjadi landasan mereka dan beliau terangkan kelemahannya, kemudian beliau menyatakan : “Berdasarkan<br />
anggapan bahwa hadits-hadits ini shohih (seluruhnya) atau sebahagiannya, maka maknanya diarahkan kepada (bolehnya) meng-qhodo` witir setelah berlalu waktunya yaitu malam hari, bukan menunjukkan bahwa setelah fajar (subuh) masih waktunya.” Dan pada halaman sebelumnya, beliau juga menyebutkan dari Ibnu ‘Abdil Barr bahwa mungkin yang diinginkan oleh pendapat kedua tentang bolehnya witir setelah terbitnya fajar adalah bagi orang yang lupa melakukan witir atau kelupaan, bukan untuk orang yang sengaja mengakhirkannya sampai keluar waktunya.<br />
Dalam masalah meng-qhodo` witir memang ada persilangan pendapat dikalangan para ulama, namun –secara umum- apa yang disimpulkan oleh Ibnu ‘Abdil Barr dan Ibnu Rajab adalah tepat dan sejalan dengan hadits Abu Sa’id Al-Khudry radhiyallahu ‘anhu riwayat Ahmad, Abu Daud, At- Tirmidzy, Ibnu Majah dan lain-lainnya, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :<br />
“Siapa yang tidur dari witirnya atau melupakannya maka hendaknya ia sholat bila ia mengingatnya” (Dishohihkan oleh Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’ Ash-Shohih 2/168)<br />
Adapun orang yang punya udzur sehingga belum melaksanakan witir sampai sholat subuh maka ia meng-qhodo` witirnya setelah matahari terbit dengan menggenapkan jumlah kebiasaan witirnya, bila kebisaannya witir 3 raka’at maka digenapkan 4 raka’at, jika kebiasaannya 5 raka’at maka digenapkan 6 raka’at dan seterusnya. Hal tersebut berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu‘anha riwayat Muslim, bahwasanya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam :<br />
“Bila beliau dikuasai oleh tidurnya atau sakit dari (melakukan) Qiyam lail maka beliau sholat di waktu siang 12 raka’at”<br />
Baca pembahasan mengenai awal dan akhir waktu Qiyam lail dalam : Al-Istidzkar 2/117-118, Bidayatul Mujtahid 1/202-203, Al-Majmu’ 3/518, Syarah Muslim 6/30-31, Thorhut Tatsrib<br />
3/79-80, Al-Mughny 2/595-596, Al-Fatawa karya Ibnu Taimiyah 23/119-121, Fathul Bari karya Ibnu Rajab 6/234-243, Al-Inshof 2/181, Asy-Syarh Al-Mumti’ 4/15-16 dan Nailul Author 3/45-46.<br />
Dan baca masalah meng-qodho` witir dalam : Al-Fatawa 23/89-91, Fathul Bari karya Ibnu Rajab 6/243-247, Syarhus Sunnah 4/88-89 dan Nailul Author 3/52-53.</p>
<p>Waktu Yang Afdhol (Paling Utama) Dalam Pelaksanaan Qiyam<br />
Ibnu Rajab menyebutkan bahwa banyak dari shahabat melakukan witir di awal malam, di antara mereka adalah Abu Bakr, ‘Utsman bin ‘Affan, ‘A`idz bin ‘Amr, Anas, Rafi’ bin Khajid, Abu Hurairah, Abu Dzar dan Abu Darda` radhiyallahu ‘anhum. Dan pendapat ini merupakan salah satu sisi pendapat di kalangan orang-orang Syafi’iyyah dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad dan diikuti oleh sebahagian orang Hanbaliyah. Alasan mereka untuk lebih berhati-hati.<br />
Namun Jumhur Ulama menilai bahwa witir akhir malam lebih utama. Ini pendapat kebanyakan ulama Salaf seperti ‘Umar, ‘Ali, Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas dan selain mereka dari kalangan shahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in.<br />
Bahkan Ibnu Sirin berkata : “Tidaklah mereka (yaitu Para Shohabat dan Tabi`in di zaman beliau,-pent.) berselisih bahwa witir di akhir malam itu Afdhol (lebih utama).”<br />
Pendapat ini pula yang dipegang oleh An-Nakha’iy, Malik, Ats-Tsaury, Abu Hanifah, Ahmad &#8211; dalam riwayat yang paling masyhur darinya- dan Ishaq.<br />
Tarjih<br />
Insya Allah yang kuat dalam masalah ini adalah pendapat yang menyatakan afdholnya pelaksanaan Qiyam di akhir malam. Hal ini berdasarkan beberapa dalil, diantaranya adalah hadits<br />
Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma riwayat Muslim, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :<br />
“Siapa yang khawatir tidak akan Qiyam di akhir malam maka hendaknya ia witir di akhir malam dan siapa yang semangat untuk witir di akhirnya maka hendaknya ia witir di akhir malam karena<br />
sholat di akhir malam adalah disaksikan1”<br />
Dan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu riwayat Al-Bukhary dan Muslim, Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :<br />
“Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir (Dalam salah satu riwayat Muslim : “ketika telah berlalu sepertiga malam pertama”, dan<br />
riwayat beliau yang lainnya : “apabila telah berlalu seperdua malam atau dua pertiganya” ) kemudian berfirman : “Siapa yang berdoa kepada-Ku maka Aku kabulkan untuknya, siapa yang meminta kepada-Ku maka Aku berikan untuknya dan siapa yang memohon anpun kepada-Ku maka Aku akan mengampuninya”.<br />
Baca : Al-Mughny 2/596-597 dan Fathul Bari karya Ibnu Rajab 6/247-250.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jumlah Raka’at Sholat Tarawih<br />
Berkata Ibnu ‘Abdil Barr dalam Al-Istidzkar 2/99 : “Dan para Ulama telah sepakat bahwa tidak ada batasan dan tidak ada ukuran tertentu dalam sholat lail dan ia adalah sholat nafilah (sunnah). Siapa yang berkehendak maka ia dapat memperpanjang berdiri dan mengurangi raka’at, dan siapa yang berkehendak maka ia dapat memperbanyak ruku’ dan sujud.”<br />
Terdapat perselisihan pendapat di kalangan para ulama tentang jumlah raka’at sholat Tarawih. Menurut Abu Hanifah, Ats-Tsaury, Asy-Syafi’iy, Ahmad dan lain-lainnya bahwa jumlah raka’at sholat Tarawih tanpa witir adalah 20 raka’at. Dan pendapat ini oleh Al-Qhody ‘Iyadh dan selainnya disandarkan kepada pendapat Jumhur Ulama.<br />
Disisi lain Imam Malik berpendapat bahwa jumlah raka’at sholat Tarawih adalah 36 raka’at. Dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 23/112-113 menyebutkan bahwa Imam Ahmad memberi nash bahwa 20, 36 (tanpa witir), 11 dan 13 (dengan witir) semuanya adalah bagus.<br />
Tarjih<br />
Dalam hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha riwayat Al-Bukhary dan Muslim, beliau berkata :<br />
“Tidaklah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam menambah dalam Ramadhan dan tidak (pula) pada yang lannya melebihi 11 raka’at”<br />
Dan juga dalam hadits &#8216;Aisyah radhiyallahu ‘anha riwayat Muslim, beliau berkata : “Rasulullah shollallahu &#8216;alaihi wa &#8216;ala alihi wa sallam sholat antara selesainya dari sholat isya` sampai sholat fajr (sholat subuh) sebelas raka&#8217;at, Beliau salam setiap dua raka&#8217;at dan witir dengan satu raka&#8217;at”.<br />
Dan juga disebutkan jumlah 13 raka’at dalam hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma riwayat Al-Bukhary dan Muslim, beliau berkata :<br />
“Adalah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam sholat di malam hari 13 raka’at” Dan dalam hadits Zaid bin Kholid Al-Juhany radhiyallahu ‘anhu riwayat Muslim, beliau berkata :<br />
“Sungguh saya akan mengamati sholat Rasulullah shollallahu &#8216;alaihi wa &#8216;ala alihi wa sallam di malam hari maka beliau sholat dua raka&#8217;at ringan kemudian beliau sholat dua raka&#8217;at panjang, panjang, panjang sekali kemudian beliau sholat dua raka&#8217;at lebih pendek dari dua raka&#8217;at sebelumnya kemudian beliau sholat dua raka&#8217;at dan keduanya lebih pendek dari dua raka&#8217;at sebelumnya kemudian beliau sholat dua raka&#8217;at dan keduanya lebih pendek dari dua raka&#8217;at sebelumnya kemudian beliau sholat dua raka&#8217;at dan keduanya lebih pendek dari dua raka&#8217;at sebelumnya kemudian beliau berwitir maka itu (jumlahnya) tiga belas raka&#8217;at”.<br />
Berkata Ibnu ‘Abdil Barr : “Kebanyakan atsar menunjukkan bahwa sholat beliau adalah 11 raka’at dan diriwayatkan juga 13 raka’at.”<br />
Namun 11 dan 13 raka’at ini bukanlah pembatasan. Dan siapa yang ingin sholat lebih dari itu maka tidaklah mengapa berdasarkan hadits ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma riwayat Al-<br />
Bukhary dan Muslim, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :<br />
“Sholat malam dua-dua, apabila engkau khawatir (masuknya) waktu shubuh maka (hendaknya) ia sholat witir satu raka&#8217;at maka menjadi witirlah sholat yang telah ia lakukan&#8221;.<br />
Demikian pendapat yang dikuatkan oleh Al-Lajnah Ad-Da`imah yang diketuai oleh Syaikh Ibnu Baz dan juga merupakan pendapat Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, Syaikh Muqbil dan lain-lainnya.<br />
Adapun Syaikh Al-Albany beliau berpendapat akan wajibnya terbatas pada 11 atau 13 raka’at.<br />
Dan Syaikh Al-Albany dalam Sholatut Tarawih hal. 19-21 (Cet. Kedua) menjelaskan dengan lengkap bahwa hadits yang mengatakan bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam<br />
melakukan sholat Tarawih 20 raka’at adalah hadits yang lemah sekali.<br />
Dan di hal. 48-56, Syaikh Al-Albany menegaskan lemahnya penisbatan pelaksanaan 20 raka’at pada ‘Umar bin Khoththob disertai dengan nukilan pelemahan dari beberapa Imam dan beliau sebutkan bahwa yang benar dari ‘Umar adalah pelaksanaan 11 raka’at.<br />
Dan di hal. 65-71, beliau menerangkan bahwa tidak ada nukilan yang syah dari seorang shahabatpun tentang pelaksanaan Tarawih 20 raka’at.<br />
Dan di hal. 72-74, beliau membantah sangkaan sebagian orang yang mengatakan bahwa syari’at sholat Tarawih 20 raka’at merupakan kesepakatan para ulama.<br />
Baca pembahasan tentang masalah di atas dalam : Al-Istidzkar 2/68-70, 95, Al-Majmu’ 3/527, Thorhut Tatsrib 3/97-98, Fathul Bari 4/252, Al-Mughny 2/601-604, Al-Inshof 2/180, Nailul Author 3/57, Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah 7/194-198, Asy-Syarh Al-Mumti’ 4/65-77, Majmu’ Fatawa wa Rasa`il Syaikh Ibnu ‘Utsaimin 14/187-189 dan Taudhih Al-Ahkam 2/410-415 (Cet. Kelima).</p>
<p>Jumlah Raka’at Sholat Witir<br />
Ada beberapa hadits yang menjelaskan tentang jumlah raka’at sholat witir Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam, diantaranya adalah :<br />
Dari ‘Abdullah bin Abi Qais radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata :<br />
“Saya berkata kepada ‘Aisyah : “Berapa kebiasaan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam melakukan witir?,” beliau menjawab : “Adalah beliau melakukan witir dengan empat dan<br />
tiga, dengan enam dan tiga, dengan delapan dan tiga dan dengan sepuluh dan tiga, tidaklah pernah beliau melakukan witir kurang dari tujuh dan tidak (pula) lebih dari tiga belas”.”<br />
(Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, Ath-Thohawy, Al-Baihaqy dan lain-lainnya. Sanadnya Jayyid menurut Syaikh Al-Albany dalam Sholatut Tarawih hal. 83-84 (Cet. Kedua) dan<br />
dihasankan oleh Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’ Ash-Shohih 2/162-163)<br />
Dan dari Abu Ayyub Al-Anshory radhiyallahu ‘anhu riwayat Abu Daud, An-Nasa`i, Ibnu Majah dan lain-lainnya, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :<br />
“Witir adalah haq atas setiap muslim, maka siapa yang suka untuk witir dengan 5 (raka’at) maka hendaknya ia kerjakan, siapa yang suka untuk witir dengan 3 (raka’at) maka hendaknya ia kerjakan dan siapa yang suka untuk witir dengan 1 (raka’at) maka hendaknya ia kerjakan.”<br />
(Dishohihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Sholatut Tarawih hal. 84 (Cet. Kedua) dan dihasankan oleh Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’ Ash-Shohih 2/163. Dan Ibnu Rajab dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa Abu Hatim, An-Nasa`i, Al-Atsram dan lain-lainnya menguatkan riwayat hadits ini secara mauquf.)<br />
Dari dua hadits di atas dan beberapa hadits yang akan datang diketahui bahwa pelaksanaan witir Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam tidaklah kurang dari 7 raka’at dan tidak lebih dari 13 raka’at, dan beliau juga memberi tuntunan bolehnya witir dengan 5, 3, dan 1 raka’at. Dan pelaksanaan witir 1 raka’at adalah boleh menurut jumhur Ulama dari kalangan Shahabat, Tabi’in dan para Imam yang mengikuti mereka<br />
dengan baik.<br />
Adapun bentuk pelaksanaannya adalah sebagai berikut :<br />
_ Bila witirnya 11 dan 13 raka’at maka dengan cara salam untuk setiap dua raka’at dan<br />
ditambah satu raka’at.<br />
_ Bila witirnya 9 raka’at maka dengan cara dua kali tasyahhud, yaitu tasyahhud pada raka’at<br />
kedelapan tanpa salam kemudian berdiri ke raka’at sembilan tasyahhud kemudian salam.<br />
_ Bila witirnya 7 raka’at maka boleh tidak tasyahhud kecuali di akhir kemudian salam, dan juga<br />
boleh tasyahhud pada raka’at keenam tanpa salam lalu melanjutkan raka’at ketujuh<br />
kemudian tasyahhud dan salam.<br />
_ Bila witirnya 5 raka’at maka tidak tasyahhud kecuali di akhirnya kemudian salam.<br />
_ Bila witirnya 3 raka’at maka boleh dua cara dengan ketentuan tidak menyerupai sholat<br />
maghrib menurut pendapat yang paling kuat, yaitu :<br />
1. Melakukan 3 raka’at sekaligus dengan sekali tasyahhud dan salam.<br />
2. Melakukan 2 raka’at lalu salam kemudian berdiri lagi 1 raka’at lalu salam.<br />
_ Bila witirnya dengan 1 raka’at maka tentunya dengan satu kali salam.<br />
Masalah jumlah raka’at witir ini telah diterangkan oleh Ibnu Rajab secara meluas dan mendetail lengkap dengan uraian perbedaan pendapat para Ulama. Dan kesimpulan ringkas di atas adalah kesimpulan dari keterangan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam masalah ini. Wallahu Ta’ala A’lam.<br />
Baca pembahasan masalah ini dalam : Al-Istidzkar 2/106-107, Fathul Bari karya Ibnu Rajab 6/198-210, Asy-Syarh Al-Mumti’ karya Ibnu ‘Utasimin 4/18-21, Al-Mughny 2/578 dan 588, Bidayatul Mujtahid 1/200, Thorhut Tatsrib 3/78 dan Nailul Author 3/36-40.</p>
<p>Beberapa Kaifiyat Pelaksanaan Witir Dan Tarawih<br />
Berikut ini beberapa kaifiyat pelaksanaan witir dan Tarawih beserta dalil-dalilnya :<br />
1. Sholat 13 raka’at dibuka dengan 2 raka’at ringan. Hal ini berdasarkan hadits hadits Zaid bin Kholid Al-Juhany radhiyallahu ‘anhu riwayat Muslim, beliau berkata :<br />
“Sungguh saya akan memperhatikan sholat Rasulullah shollallahu &#8216;alaihi wa &#8216;ala alihi wa sallam di malam hari maka beliau sholat dua raka&#8217;at ringan kemudian beliau sholat dua raka&#8217;at panjang, panjang, panjang sekali kemudian beliau sholat dua raka&#8217;at lebih pendek dari dua raka&#8217;at sebelumnya kemudian beliau sholat dua raka&#8217;at dan keduanya lebih pendek dari dua raka&#8217;at sebelumnya kemudian beliau sholat dua raka&#8217;at dan keduanya lebih pendek dari dua raka&#8217;at sebelumnya kemudian beliau sholat dua raka&#8217;at dan keduanya lebih pendek dari dua raka&#8217;at sebelumnya kemudian beliau berwitir maka itu (jumlahnya) tiga belas raka&#8217;at”.<br />
Dan dalam hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha riwayat Muslim, beliau berkata : “Adalah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam apabila beliau berdiri di malam hari untuk sholat maka beliau membuka sholatnya dengan dua raka’at yang ringan”<br />
2. Sholat 13 raka’at, 8 raka’at diantaranya dilakukan dengan salam pada setiap 2 raka’at kemudian witir 5 raka’at dengan satu kali tasyahhud dan satu kali salam.<br />
Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha Riwayat Muslim :<br />
“Adalah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam sholat di malam hari 13 raka’at, beliau witir darinya dengan 5 (raka’at) tidaklah beliau duduk pada sesuatupun kecuali hanya pada akhirnya”<br />
3. Sholat 11 raka’at dengan salam pada setiap 2 raka’at dan witir dengan 1 raka’at. Hal ini berdasarkan hadits &#8216;Aisyah radhiyallahu ‘anha riwayat Muslim, beliau berkata :<br />
“Rasulullah shollallahu &#8216;alaihi wa &#8216;ala alihi wa sallam sholat antara selesainya dari sholat isya` sampai sholat fajr (sholat subuh) sebelas raka&#8217;at, Beliau salam setiap dua raka&#8217;at dan witir dengan satu raka’at”.<br />
4. Sholat 11 raka’at, tidak duduk kecuali pada raka’at kedelapan kemudian tasyahhud tanpa salam lalu berdiri untuk raka’at kesembilan kemudian salam, lalu sholat dua raka’at lagi dalam keadaan duduk.<br />
Hal tersebut diterangkan dalam hadits Sa’ad bin Hisyam bin ‘Amir riwayat Muslim, beliau bertanya kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang bagaimana sholat witir Rasulullah<br />
shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam, maka beliau menjelaskan :<br />
“… Maka beliau bersiwak, berwudhu’ dan sholat 9 raka’at beliau tidak duduk kecuali pada yang kedelapan kemudian beliau berdzikir kepada Allah, memuji-Nya dan berdoa kepada-Nya lalu berdiri dan tidak salam. Kemudian beliau berdiri untuk kesembilan lalu duduk kemudian beliau berdzikir kepada Allah, memuji-Nya dan berdoa kepada-Nya lalu beliau salam sengan (suara) salam yang beliau perdengarkan kepada kami kemudian beliau sholat dua raka’at setelah salam dalam keadaan duduk, maka itu 11 raka’at wahai anakku. Ketika Nabi Allah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam telah berumur dan beliau bertambah daging (Baca  bertambah berat) maka beliau witir dengan 7 (raka’at) dan berbuat pada yang dua raka’at seperti perbuatan beliau yang pertama, maka itu adalah sembilam (raka’at) wahai anakku”<br />
5. Sholat 9 raka’at, tidak duduk kecuali pada raka’at keenam kemudian tasyahhud tanpa salam lalu berdiri untuk raka’at ketujuh kemudian salam, lalu sholat dua raka’at lagi dalam keadaan duduk.<br />
Hal ini di terangkan dalam hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha di atas.<br />
Berkata Syaikh Al-Albany : “Ini adalah beberapa kaifiyat yang Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam melakukannya pada sholat lail dan witir. Dan mungkin untuk ditambah dengan<br />
bentuk-bentuk yang lain, yaitu dengan mengurangi pada setiap bentuk yang tersebut jumlah raka’at yang ia kehendaki dan bahkan boleh baginya untuk membatasi dengan satu raka’at saja.”<br />
Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla menyebutkan beberapa bentuk lain :<br />
6. Sholat 13 raka’at, yaitu salam pada setiap dua raka’at dan witir satu raka’at.<br />
7. Sholat 8 raka’at dengan salam pada setiap 2 raka’at kemudian ditambah witir 1 raka’at.<br />
8. Sholat 6 raka’at dengan salam pada setiap 2 raka’at kemudian witir 1 raka’at.<br />
9. Sholat 7 raka’at, tidak tasyahhud kecuali pada yang keenam kemudian berdiri sebelum salam<br />
untuk raka’at ketujuh lalu duduk tasyahhud dan salam.<br />
10. Sholat 7 raka’at dan tidak duduk untuk tasyahhud kecuali di akhirnya.<br />
11. Sholat 5 raka’at dan tidak duduk untuk tasyahhud kecuali di akhirnya.<br />
12. Sholat 3 raka’at, duduk tasyahhud pada raka’at kedua dan salam lalu witir 1 raka’at.<br />
13. Sholat 3 raka’at tidak duduk tasyahhud dan salam kecuali pada raka’at terakhir2.<br />
14. Sholat witir satu raka’at.<br />
Demikian beberapa kaifiyat yang disebutkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Sholatut Tarawih hal. 86-94 (Cet. Kedua) dan Qiyamu Ramadhan hal. 27-30 dan Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla 3/42-48. Dan Syaikh Al-Albany juga menyebutkan kaifiyat lain yaitu sholat 11 raka’at ; 4 raka’at sekaligus dengan sekali salam kemudian 4 raka’at dengan sekali salam lalu 3 raka’at.<br />
Sebagaimana dalam hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha riwayat Al-Bukhary dan Muslim :<br />
“Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam tidaklah menambah pada (bulan) Ramadhan dan tidak pula pada selain Ramadhan lebih dari sebelas raka&#8217;at. Beliau sholat empat (raka&#8217;at) jangan kamu tanya tentang baiknya dan panjangnya, kemudian beliau sholat empat (raka&#8217;at)n jangan kamu tanya tentang baiknya dan panjangnya kemudian beliau sholat tiga (raka&#8217;at)”.<br />
Namun ada perbedaan pendapat di kalangan para Ulama tentang kaifiyat ini.<br />
Pendapat Abu Hanifah, Ats-Tsaury dan Al-Hasan bin Hayy boleh melakukan Qiyamul Lail 2 raka’at sekaligus, boleh 4 raka’at sekaligus, boleh enam raka’at sekaligus dan boleh 8 raka’at sekaligus,<br />
tidak salam kecuali di akhirnya. Kelihatannya pendapat ini yang dipegang oleh Syaikh Al-Albany sehingga beliau menetapkan kaifiyat sholat 11 raka’at ; 4 raka’at sekaligus dengan sekali salam kemudian 4 raka’at dengan sekali salam lalu 3 raka’at dengan sekali salam.<br />
Dan disisi lain, jumhur Ulama seperti Malik, Asy-Syafi’iy, Ahmad, Ishaq, Sufyan Ats-Tsaury, Ibnul Mubarak, Ibnu Abi Laila, Abu Yusuf, Muhammad bin Hasan, dan Ibnul Mundzir serta yang lainnya menghikayatkan pendapat ini dari Ibnu ‘Umar, ‘Ammar radhiyallahu ‘anhuma, Al-Hasan, Ibnu Sirin, Asy-Sya’by, An-Nakha’iy, Sa’id bin Jubair, Hammad dan Al-Auza’iy. Dan Ibnu ‘Abdil Barr berkata : “Ini adalah pendapat (Ulama) Hijaz dan sebahagian (Ulama) ‘Iraq.”, semuanya berpendapat bahwa sholat malam itu adalah dua raka’at-dua raka’at yaitu harus salam pada setiap dua raka’at. Ini pula pendapat yang dkuatkan oleh Syaikh Ibnu Baz beserta para Syaikh anggota Al-Lajnah Ad-Da`imah, dan juga pendapat Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dan lain-lainnya<br />
sehingga mereka semua menyalahkan orang yang memahami hadits ‘Aisyah di atas dengan kaifiyat sholat 11 raka’at ; 4 raka’at sekaligus dengan sekali salam kemudian 4 raka’at dengan sekali salam lalu 3 raka’at, dan menurut mereka pemahaman yang benar adalah bahwa 4 raka’at dalam hadits itu adalah dikerjakan 2 raka’at 2 raka’at .<br />
Tarjih<br />
Yang kuat dalam masalah ini adalah pendapat Jumhur Ulama berdasarkan hadits hadits ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma riwayat Al-Bukhary dan Muslim, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa‘ala alihi wa sallam bersabda : “Sholat malam dua (raka’at) dua (raka’at)”<br />
Hadits ini adalah berita namun bermakna perintah yaitu perintah untuk melakukan sholat malam dua dua raka’at. Demikian keterangan Syaikh Ibnu Baz dalam Majmu’ Fatawa beliau 11/323-324.<br />
Baca pembahasan tentang masalah di atas dalam : Al-Istidzkar 2/95-98, 104-106, Fathul Bari 4/191-198, Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah 7/199-200 dan Asy-Syarh Al-Mumti’ 4/18-20.<br />
Dan juga para Ulama berselisih pendapat tentang dua raka’at setelah witir pada kaifiyat no. 4 dan 5, ada tiga pendapat di kalangan ulama :<br />
1. Sunnah dua raka’at setelah witir. Ini pendapat Katsir bin Dhomrah dan Khalid bin Ma’dan. Dan Al-Hasan dan Abu Mijlaz melakukannya, sedangkan Ibnu Rajab menukil hal tersebut dari sebahagian orang-orang Hanbaliyah.<br />
2. Ada rukhshoh (keringanan) dalam hal tersebut dan bukan makruh. Ini adalah pendapat Al- Auza’iy, Ahmad dan Ibnul Mundzir.<br />
3. Hal tersebut Makruh. Ini pendapat Qais bin ‘Ubadah, Malik dan Asy-Syafi’iy.<br />
Tarjih<br />
Tentunya dalil-dalil yang menjelaskan tentang kaifiyat itu adalah hujjah yang harus diterima tentang disyari’atkannya sholat dua raka’at setelah witir. Berkata Ibnu Taimiyah : “Dan kebanyakan Ahli Fiqh tidak mendengar tentang hadits ini (yaitu hadits tentang adanya dua raka’at setelah witir di atas,-pent.), kerena itu mereka mengingkarinya. Dan Ahmad dan selainnya mendengar (hadits) ini dan mengetahui keshohihannya dan Ahmad memberi keringanan untuk melakukan dua raka’at ini dan ia dalam keadaan duduk sebagaimana yang dikerjakan oleh (Nabi) shollallahu ‘alaihi wa sallam. Maka siapa yang melakukan hal tersebut tidaklah diingkari, akan tetapi bukanlah wajib menurut kesepakatan (para Ulama) dan tidak dicela orang yang meniggalkannya….”<br />
Baca : Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah 23/92-94, Fathul Bari Ibnu Rajab 6/260-264 dan Al- Mughny 2/281.</p>
<p>Bacaan Dalam Sholat Tarawih Dan Witir<br />
Berkata Syaikh Al-Albany dalam Qiyamu Ramadhan hal. 23-25 : “Adapun bacaan dalam sholat lail pada Qiyam Ramadhan dan selainnya, maka Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam tidak menetapkan suatu batasan tertentu yang tidak boleh dilampaui dengan bentuk tambahan maupun pengurangan. Kadang beliau membaca pada setiap raka’at sekadar “Ya Ayyuhal Muzzammil” dan ia (sejumlah) dua puluh ayat dan kadang sekadar lima puluh ayat. Dan beliau bersabda :<br />
“Siapa yang sholat dalam semalam dengan seratus ayat maka tidaklah ia terhitung dalam orangorang yang lalai”<br />
“… dengan dua ratus ayat maka sungguh ia terhitung dari orang-orang yang Qonit (Khusyu’, panjang sholatnya,-pent.) lagi Ikhlash”<br />
Dan beliau shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam pada suatu malam dan beliau dalam keadaan sakit membaca tujuh (surah) yang panjang, yaitu surah Al-Baqarah, Ali ‘Imran, An-Nisa`, Al- Ma`idah, Al-An’am, Al-A’raf dan At-Taubah.<br />
Dan dalam kisah sholat Hudzaifah bin Al-Yaman di belakang Nabi ‘Alaihish Sholatu was Salam bahwa beliau shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam membaca dalam satu raka’at Al-Baqarah kemudian An-Nisa’ kemudian Ali ‘Imran dan beliau membacanya lambat lagi pelan.<br />
Dan telah tsabit (syah, tetap) dengan sanad yang paling shohih bahwa ‘Umar radhiyallahu ‘anhu tatkala memerintah Ubay bin Ka’ab sholat mengimami manusia dengan sebelas raka’at dalam Ramadhan, maka Ubay radhiyallahu ‘anhu membaca dua ratus ayat sampai orang-orang yang di belakangnya bersandar di atas tongkat karena lamanya berdiri dan tidaklah mereka bubar kecuali pada awal-awal fajar.<br />
Dan juga telah shohih dari ‘Umar bahwa beliau memanggil para pembaca Al-Qur`an di bulan Ramadhan kemudian beliau memerintah orang yang paling cepat bacaannya untuk membaca 30 ayat, orang yang pertengahan (bacaannya) 25 ayat dan orang yang lambat 20 ayat.<br />
Dibangun di atas hal tersebut, maka kalau seseorang sholat sendirian disilahkan memperpanjang sholatnya sesuai dengan kehendaknya, dan demikian pula bila ada yang sholat bersamanya dari<br />
kalangan orang yang sepakat dengannya (dalam memperpanjang,-pent.), dan semakin panjang maka itu lebih utama, akan tetapi jangan ia berlebihan dalam memperpanjang sampai menghidupkan seluruh malam kecuali kadang-kadang, dalam rangka mengikuti Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam yang bersabda :<br />
“Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam)”<br />
Dan apabila ia sholat sebagai imam maka hendaknya ia memperpanjang dengan sesuatu yang tidak memberatkan orang-orang di belakangnya, berdasarkan sabda beliau shollallahu ‘alaihi wa<br />
‘ala alihi wa sallam :<br />
“Apabila salah seorang dari kalian Qiyam mengimami manusia maka hendaknya ia memperingan sholatnya karena pada mereka ada anak kecil, orang besar, pada mereka orang lemah, orang<br />
sakit dan orang yang mempunyai keperluaan. Dan apabila ia Qiyam sendiri maka hendaknya ia memperpanjang sholatnya sesuai dengan kehendaknya”.”<br />
Demikian keterangan Syaikh Al-Albany tentang bacaan pada Qiyamul lail, adapun dalam sholat witir, berikut ini beberapa hadits yang menjelaskannya, diantaranya adalah hadits Ubay bin Ka’ab<br />
riwayat Imam Ahmad dan lain-lainnya, beliau berkata :<br />
“Adalah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam membaca pada witir dengan “Sabbihisma Rabbikal A’la”, “Qul Ya Ayyuhal Kafirun” dan “Qul Huwallahu Ahad”. Apabila beliau<br />
salam, belaiu berkata : “Subhanal Malikil Quddus”3 tiga kali.” (Dishohihkan oleh Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’Ash-Shohih 2/160-161.)<br />
Dan dalam hadits ‘Abdurrahman bin Abi Abza riwayat Ahmad dan lainnya, beliau berkata : “Sesungguhnya beliau membaca pada witir dengan “Sabbihisma Rabbikal A’la”, “Qul Ya Ayyuhal<br />
Kafirun” dan “Qul Huwallahu Ahad”. Apabila beliau salam, belaiu berkata : “Subhanal Malikil Quddus, Subhanal Malikil Quddus, Subhanal Malikil Quddus.” dan beliau mengangkat suaranya<br />
dengan itu .” (Dishohihkan oleh Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’Ash-Shohih 2/161.)<br />
Berdasarkan dua hadits di atas, Ats-Tsaury, Ishaq dan Abu Hanifah menganggap sunnah membaca tiga surah di atas dalam sholat witir. Imam Malik dan Asy-Syafi’iy juga menganggap sunnah hal tersebut namun mereka dalam raka’at ketiga selain dari surah Al-Ikhlash juga menganggap sunnah menambahnya dengan surah Al-Falaq dan surah An-Nas. Namun hadits mengenai tambahan dua surah tersebut dianggap lemah oleh Imam Ahmad, Ibnu Ma’in dan Al- ‘Uqaily, karena itu seharusnya orang yang sholat witir tiga raka’at hanya terbatas dengan membaca surah Al-Ikhlash pada raka’at ketiga.<br />
Syaikh Al-Albany dalam Sifat Sholat An-Nabi hal. 122 (Cet. Kedua Maktabah Al-Ma’arif) juga menshohihkan hadits bahwa membaca dalam raka’at witir dengan seratus ayat dari An-Nisa`.<br />
Baca : Al-Mughny 2/599-600, Al-Majmu’ 2/599 dan Syarhus Sunnah 4/98.</p>
<p>Qunut Witir<br />
Qunut secara etimologi mempunyai makna yang banyak. Ada lebih dari 10 makna sebagaimana yang dinukil oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dari Al-Iraqy dan Ibnul Araby.<br />
1) Doa, 2) Khusyu’, 3) Ibadah, 4) Taat, 5) Manjalankan ketaatan, 6) Penetapan Ibadah kepada Allah, 7) Diam, 8) Shalat, 9) Berdiri, 10) Lamanya berdiri, 11) Terus-menerus dalam ketaatan.<br />
Dan juga ada makna-makna lain dapat dilihat dalam Tafsir Al-Qurthuby 2/1022, Mufradat Al- Qur’an karya Al-Ashbahany hal. 428 dan lain-lainnya.<br />
Adapun secara terminologi, seperti disebutkan Al-Hafizh Ibnu Hajr Al-Asqalani rahimahullah: “Doa di dalam shalat pada tempat yang khusus dalam keadaan berdiri.” (lihat Fathul Bari 2/490).<br />
Makna secara terminologi ini yang diinginkan oleh para ulama fiqh dan kebanyakan ulama dalam buku-buku mereka. Lihat Zadul Ma’ad karya Ibnul Qayyim 1/283.<br />
Telah syah dalam hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam akan syari’at Qunut dalam sholat witir sebagaimana dalam hadits Al-Hasan bin ‘Ali radhiyallahu ‘anhu riwayat Abu<br />
Daud, At-Tirmidzy, An-Nasa`i, Ibnu Majah dan lain-lainnya, beliau berkata :<br />
“Rasulullah mengajarkan kepadaku beberapa kalimat untuk saya ucapkan dalam witir : “Ya Allah, berilah hidayah kepadaku pada orang-orang yang Engkau beri hidayah, berilah padaku<br />
afiyat pada orang yang Engkau beri afiyat, naungilah aku pada orang-orang yang Engkau naungi, berkahilah aku pada apa yang Engkau beri dan jagalah aku dari kejelekan keputusan-Mu,<br />
sesungguhnya Engkau memutuskan dan tidak diputuskan terhadap-Mu, sesungguhnya tidaklah hina orang-orang yang Engkau naungi, dan Maha Berkah Engkau Wahai Rabb kami dan Maha Tinggi” (Dishohihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam banyak buku beliau dan Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’Ash-Shohih 2/161.)<br />
Dibangun di atas hadits ini orang-orang Hanafiyah, Hanbaliyah dan sebahagian orang Syafi’iyah berpendapat akan disunnahkanya Qunut witir di bulan Ramadhan dan selainnya. Demikian pula diriwayatkan dari Al-Hasan, Ibrahim An-Nakha’iy dan Ishaq.<br />
Adapun Imam Malik beliau tidak berpendapat adanya Qunut witir.<br />
Dan Imam Asy-Syafi’iy berpendapat bahwa witir adalah disyari’atkan di pertengahan bulan Ramadhan.<br />
Tarjih<br />
Tentunya tidak diragukan akan sunnahnya Qunut witir berdasarkan hadits Al-Hasan bin ‘Ali sehingga tidak ada alasan bagi orang yang melarang pelaksanaannya. Adapun pelaksanaan witir dari pertengahan Ramadhan, hanyalah diriwayatkan dalam hadits yang lemah. Wallahu A’lam.<br />
Baca : Al-Muhgny 2/580, Bidayatul Mujtahid 1/204 dan Nailul Author.</p>
<p>Tempat Pelaksanaan Qunut<br />
Qunut dapat dilaksanakan sebelum ruku’ atau setelah ruku’. Akan tetapi pelaksanaannya setelah ruku’ lebih banyak dilakukan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam.<br />
Al-Imam Al-Baihaqi dalam As Sunnan Al Kubra 2/208 berkata : “Rawi-rawi hadits yang terdapat padanya penjelasan tentang qunut setelah ruku’ lebih banyak dan lebih bisa dipegang<br />
hafalannya. Karena itu riwayat mereka yang lebih pantas untuk dipakai. Demikian pula pelaksanaan qunut pada zaman Khulafa` Ar-Rasyidin radhiyallahu ‘anhum yang terdapat pada<br />
riwayat-riwayat yang masyhur dari mereka dan riwayat-riwayat ini jumlahnya paling banyak”.<br />
Adapun dalil pelaksanaan qunut sebelum ruku’ diterangkan dalam beberapa hadits, diantaranya adalah hadits Anas bin Malik riwayat Al-Bukhary, beliau berkata :<br />
“Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam mengutus 70 orang untuk suatu keperluan. Mereka itu disebut sebagai pembaca-pembaca Al-Qur`an. Maka mereka dihadang oleh dua suku Bani<br />
Sulaim, Ri’il dan Dzakwan. Kedua suku ini membunuh mereka. Maka Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam mendo’akan kejelekan atas mereka selama sebulan pada shalat shubuh. Hal<br />
ini merupakan permulaan adanya qunut dan kami tidak pernah qunut sebelumnya.” Berkata Abdul Aziz -murid Anas- : “Seorang lelaki bertanya kepada Anas tentang qunut tersebut, apakah<br />
dilakukan setelah ruku’ atau ketika selesai dari bacaan surat (sebelum ruku’). Maka Anas menjawab: “Bahkan ketika selesai dari bacaan surat.”<br />
Dan dalam hadits Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata :<br />
“Sesungguhnya Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam melakukan qunut sebelum ruku’”. ( Dikeluarkan oleh An Nasa’i 1/248, Ibnu Majah no. 1182 dan lainnya dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany<br />
rahimahullah dalam Al-Irwa`ul Ghalil no. 426).<br />
Dari penjelasan di atas kita mengetahui bahwa ada keleluasaan dalam hal ini. Barang siapa yang ingin berqunut sebelum ruku’, maka itu adalah perkara yang boleh dan barang siapa yang ingin<br />
berqunut setelah ruku’, tidak ada dosa apapun atasnya.<br />
Pendapat tentang bolehnya memilih salah satu dari dua cara melakukan qunut juga diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir dari Shahabat Anas bin Malik, Imam Ayyub As-Sikhtiyany dan Imam Ahmad.<br />
Pendapat ini dikuatkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Qiyamu Ramadhan hal. 31, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam Asy-Syarh Al-Mumti’ 4/64-65 dan Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’iy.<br />
Dan berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa 23/100 : “Adapun ahli fiqh dari kalangan ahli hadits seperti Ahmad dan selainnya, mereka membolehkan kedua perkara<br />
karena sunnah yang shohih datang menjelaskan keduanya, walaupun mereka memilih qunut setelah (ruku’) karena lebih banyaknya (dalil tentang hal tersebut,-pent) dan lebih (mendekati)<br />
qiyas …” Lihat juga : Al-Inshaf 2/170. Untuk pembahasan di atas baca : Al-Majmu’ karya Imam An-Nawawi 2/510, 520 dan Fathul<br />
Bari karya Ibnu Rajab 6/270-277.</p>
<p>Mengangkat Tangan Ketika Qunut<br />
Yang paling kuat dari pendapat para ulama dalam masalah ini adalah tidak disyari’atkannya mengangkat tangan dalam qunut. Ini merupakan pendapat Yazid bin Abi Maryam, Imam Al- Auza’iy, Abu Hanifah dan Imam Malik. Lihat Al-Mughni 1/448 dan Al-Majmu’ 3/487.<br />
Pendapat ini dikuatkan karena tidak ada hadits yang shahih yang menunjukkan beliau mengangkat tangan dalam qunut.<br />
Adapun dalil yang dipakai oleh para Ulama yang berpendapat disyari’atkannya mengangkat tangan dalam qunut adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad 3/137, Abd bin Humaid<br />
dalam Al-Muntakhab hal 380 no. 1276, Ath-Thabarany 4/51/3606, dalam Al-Ausath 4/131/3793 dan dalam Ash-Shaghir 1/323-324/536, Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 1/123-124, Al-Baihaqy 2/211 dan Al-Khathib dalam Tarikh Baghdad 11/440 dari jalan Sulaiman bin Al- Mughirah dari Tsabit Al-Bunany dari Anas bin Malik tentang kisah para pembaca Al Qur`an yang<br />
terbunuh. Disebutkan bahwa Anas berkata kepada Tsabit :<br />
“Sesungguhnya saya melihat Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam setiap kali beliau shalat shubuh, beliau mengangkat kedua tangannya mendo’akan kejelekan atas mereka (pembunuh para pembaca Al-Qur’an).”<br />
Namun hadits ini lemah karena di dalamnya terdapat dua cacat :<br />
1. Sulaiman bin Mughirah, walaupun beliau seorang rawi yang tsiqah, akan tetapi ia telah menyelisihi Hammad bin Salamah yang meriwayatkan hadits ini dari Tsabit dari Anas. Dan<br />
Hammad tidak menyebutkan dalam riwayatnya bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam mengangkat kedua tangannya. Lihat riwayat Hammad dalam Shahih Muslim 3/1511<br />
no. 677, Ahmad 3/270 dan Ibnu Sa’d dalam Ath-Thabaqat 3/515. Hammad bin Salamah ini adalah orang yang paling kuat riwayat haditsnya dari Tsabit. Maka sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Yahya bin Ma’in, Abu Hatim dan lainnya bahwa: “Siapa saja yang menyelisihi Hammad dalam periwayatan hadits dari Tsabit, maka yang didahulukan adalah periwayatan Hammad.” Bahkan Imam Muslim dalam kitab At-Tamyiz menukil kesepakatan ahli ‘ilalul hadits bahwa Hammad adalah orang yang paling kuat riwayatnya dari Tsabit. Baca kitab Syarah ‘Ilal At-Tirmidzy 2/790 (Cet. Maktabah Al-Manar) dan lain-lainnya.<br />
2. Murid-murid Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu seperti : Qatadah, Muhammad bin Sirin, ‘Abdul ‘Aziz bin Shuhaib, Abu Qilabah, Ishaq bin ‘Abdillah bin Abi Thalhah, Abu Mijlaz, ‘Ashim, Musa bin Anas, Humaid At-Thawil, Daud bin Abi Hind, Hanzhalah bin ‘Abdillah, Abu Makhlad, Marwan Al-Ashfar dan Ibnu Muhajir, semuanya meriwayatkan hadits yang semakna dari Anas bin Malik tentang pelaksanaan qunut. Akan tetapi tidak seorangpun dari mereka yang menyebutkan bahwa Nabi mengangkat kedua tangannya dalam qunut. Lihat riwayat-riwayat mereka di Shahih Bukhari, Shahih Muslim dan Lain-lainnya (sengaja kami tidak<br />
menyebutkan takhrij-nya untuk menyingkat pembahasan). Seluruh hal ini mempertegas akan salahnya Sulaiman bin Al-Mughirah dalam periwayatannya yang menyebutkan Nabi mengangkat kedua tangannya dalam qunut. Dan Syaikhuna Muqbil bin Hadi rahimahullah termasuk Ulama yang melemahkan hadits ini. Wallahu a’lam.</p>
<p>Mengaminkan Doa Qunut Bagi Makmum<br />
Syari’at akan hal ini telah tetap dalam hadits Ibnu ‘Abbas. Hal ini ditegaskan oleh Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny 1/449: “Apabila Imam melakukan qunut hendaknya diaminkan oleh orang yang dibelakang imam dan kami tidak mengetahui ada perbedaan pendapat dalam masalah ini.” Akan tetapi perlu diingat bahwa pengaminan hanyalah diucapkan pada lafazh-lafazh doa, bukan pada lafazh pujian. Ini merupakan pendapat Imam Ahamad dan dibenarkan oleh Imam Al- Khiroqy dan An-Nawawi. Lihat Su`alat Abi Daud hal.67 dan Al Majmu’ 3/481.<br />
Hendaknya pula imam berdoa dengan lafazh umum (bukan untuk pribadinya), sehingga makmumketika mengaminkannya juga mengambil andil dari doa tersebut. Hal ini ditegaskan demikian<br />
karena dua perkara:<br />
Pertama : Allah Subhanahu Wa Ta’ala tatkala berfirman kepada Nabi Musa ‘alaihis salam :<br />
“Sesungguhnya do’a kalian berdua telah dikabulkan.” (QS. Yunus: 89).<br />
Dan kalau kita memperhatikan ayat sebelumnya maka kita akan mengetahui bahwa ternyata yang berdoa hanya Nabi Musa ‘alaihis salam :<br />
“Wahai Rabb kami, musnahkanlah harta mereka dan keraskanlah hati mereka. Tidaklah mereka beriman sampai mereka melihat adzab yang sangat pedih.” (QS. Yunus: 88)<br />
Bersamaan dengan ini Allah menjadikan doa untuk mereka berdua. Hal ini karena Nabi Musa berdoa dan Nabi Harun mendengarkan dan mengaminkannya. Lihat Asy-Syarh Al-Mumti’ karya<br />
Syaikh Shalih Al-Utsaimin 3/86 dan Majmu’ Fatawa karya Ibnu Taimiyah 23/116-119.<br />
Kedua : Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata : “Yang nampak bagi saya bahwa hikmah mengapa doa qunut ditempatkan pada i’tidal sebelum sujud, padahal sujud merupakan tempat<br />
dikabulkannya doa sebagaimana yang telah pasti (datangnya dari Rabb-Nya ketika ia sujud), dan (padahal juga) telah pasti benarnya perintah berdoa dalam sujud, (hikmahnya) adalah bahwa<br />
yang diinginkan dari qunut nazilah ini, makmum berserikat bersama imam dalam doa walaupun hanya dengan mengaminkan.” Baca : Fathul Bari 2/491.</p>
<p>Mengusap Wajah Setelah Qunut<br />
Imam Abu Daud dalam Masa`il-nya hal. 71 berkata : “Saya mendengar Ahmad ditanya tentang seseorang mengusap wajahnya dengan kedua tangannya bila selesai, maka beliau menjawab :<br />
“Saya tidak mendengar tentang itu” dan beliau berkata di kesempatan lain : “Saya tidak mendengar tentangnya suatu (riwayat) apapun”.” Dan (Abu Daud) berkata : “Dan saya tidak<br />
melihat Ahmad mengerjakannya.”<br />
Dan Imam Malik ditanya tentang seseorang yang mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya ketika berdoa maka ia mengingkarinya sembari berkata : “Saya tidak<br />
mengetahuinya.” Baca : Mukhtashor Qiyamul Lail karya Muhammad bin Nashr Al-Marwazy hal.327.<br />
Dan berkata Imam Al-Baihaqy dalam Sunan-nya 2/212 : “Adapun mengusapkan kedua tangan ke wajah selepas doa, tidaklah saya menghafal (hal tersebut) dari seorangpun dari para Ulama salaf<br />
pada doa qunut.” Dan demikian pula kesimpulan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam Asy-Syarh Al-Mumti’ 4/53-56. Dan<br />
baca : Irwa`ul Gholil 2/178-181.</p>
<p>Beberapa Hukum Dan Masalah Berkaitan Dengan Pembahasan<br />
-Telah diketahui tentang keutamaan sholat Tarawih bersama imam sampai selesai walaupun pelaksanaannya di awal malam dan juga diketahui bahwa dilarang melakukan witir dua kali dalam satu malam sebagaimana dalam hadits :<br />
“Tidak ada dua witir dalam satu malam”<br />
Namun bila makmum ingin menambah sholat di akhir malam, apa yang harus ia lakukan ?<br />
Jawab :<br />
Ada dua penyelesaian terhadap masalah ini, yaitu :<br />
Satu : Menggenapkan raka’at. Yaitu ketika imam salam di akhir witirnya maka ia tidak salam tapi berdiri menambah satu raka’at sehingga sholatnya menjadi genap. Sehingga kalau ia ingin melakukan sholat di akhir malam ia tetap bisa melakukan witir. Dengan hal ini seseorang tetap mendapatkan pahala sholat berjama’ah bersama imam dan tetap bisa melakukan sholat di akhir malam. Cara ini menurut Syaikh Ibnu ‘Utsaimin adalah cara yang paling baik.<br />
Dua : Ikut sholat witir bersama imam sampai selesai dan salam bersamanya dan kalau ia ingin bangun di malam hari maka boleh sholat lagi dua raka’at dua raka’at berdasar<br />
keumuman hadits<br />
“Sholat malam dua (raka’at) dua (raka’at)” dan tidak boleh witir lagi sehingga tidak terjatuh dalam larangan pelaksanaan dua witir dalam satu malam.<br />
Baca : Al-Mughny 2/597-598, Asy-Syarh Al-Mumti’ 4/ 88-89 dan Majmu’ Fatawa wa Rasa`il Syaikh Ibnu ‘Utsaimin 14/123-126.<br />
Sebenarnya ada cara ketiga yang disebut dengan nama Naqdhul Witr yaitu seseorang setelah sholat witir di awal malam kemudian di akhir malam ia bangun untuk sholat, maka ia sholat<br />
satu raka’at untuk membatalkan witirnya, namun hal tersebut lemah menurut pendapat Jumhur Ulama.<br />
Silahkan baca pembahasannya dalam : Al-Istidzkar 2/113-114, Fathul Bari karya Ibnu Rajab 6/250-257, Al-Mughny 2/597-598, Al-Inshof 2/182, Al-Majmu’ 3/521, Thorhut<br />
Tatsrib 3/81 dan Nailul Author 3/49.<br />
-Tidak disunnahkan adanya Ta’qib dalam sholat Tarawih yaitu sekelompok orang setelah mekakukan sholat lail di awal malam secara berjama’ah kembali berjama’ah di akhir malam.<br />
Hal ini adalah perkara yang makruh menurut pendapat Imam Ahmad dalam salah satu riwayat dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin menguatkan pendapat ini. Namun menurut Syaikh Ibnu ‘Utsaimin kalau Ta’qib mereka lakukan setelah Tarawih dan sebelum witir maka bukanlah makruh. Sisi kuat kesimpulan ini tentunya bisa dipahami dari uraian-uraian yang telah lalu.<br />
Baca : Al-Mughny 2/607-608, Fathul Bari karya Ibnu Rajab 6/258-259, Al-Inshof 2/183 dan Asy-Syarh Al-Mumti’ karya Ibnu ‘Utasimin 4/91-93.<br />
-Adapun masalah melakukan sholat sunnah antara raka’at Tarawih saat istirahat adalah perkara yang makruh.<br />
Baca : Al-Mughny 2/607, Al-Inshof 2/183 dan Asy-Syarh Al-Mumti’ karya Ibnu ‘Utasimin 4/90-91.<br />
-Boleh melakukan witir di atas hewan tunggangan atau di atas kendaraan menurut pendapat kebanyakan para Ulama berdasarkan hadits ‘Abdullah bin ‘Umar riwayat Al-Bukhary dan Muslim, beliau berkata :<br />
“Sesungguhnya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam melakukan witir di atas onta.”<br />
Silahkan baca pembahasannya dalam : Al-Istidzkar 2/111, Fathul Bari karya Ibnu Rajab<br />
6/265-267 dan Bidayatul Mujtahid 1/204.<br />
-Sholat witir juga tetap disunnahkan walaupun dalam safar/perjalanan karena Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam melakukan witir dalam keadaan mukim maupun safar. Dan<br />
banyak dalil yang menunjukkan tentang hal tersebut.<br />
Baca : Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah 23/98, Fathul Bari karya Ibnu Rajab 6/258-259 dan Al-Majmu’ 2/517.<br />
-Tidak disyari’atkan adanya doa ketika istirahat di pelaksanaan Tarawih dan demikian pula tidak ada doa setelah sholat Tarawih. Baca : Al-Inshof 2/181 dan 182.<br />
Demikian beberapa pembahasan berkaitan dengan tuntunan sholat Tarawih. Dan perlu diketahui bahwa masih ada sejumlah masalah yang kami belum sebutkan, hal tersebut disebabkan oleh<br />
keterbatasan waktu. Dan kami berharap Allah memberikan kemudahan untuk penulisan pembahasan lengkap di waktu lain. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat untuk seluruh kaum muslimin dan bisa menjadi pedoman dalam menghidupkan malam-malam penuh berkah di bulan<br />
Ramadhan. Amin, Yaa Rabbal ‘Alamin. Wallahu Ta’ala A’lam.</p>
<p>1 Yaitu disaksikan oleh malaikat rahmat. Demikian keterangan Imam An-Nawawy dalam Syarah Muslim 6/34.<br />
2 Tambahan dari penulis dan tidak tertera dalam Al-Muhalla.<br />
3 Artinya : Maha suci Yang Maha berkuasa lagi Yang Maha suci.<br />
Sumber : Ebook Majalah An-Nashihah Vol. 7 (1425/2008)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anakampah.wordpress.com/379/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anakampah.wordpress.com/379/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anakampah.wordpress.com/379/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anakampah.wordpress.com/379/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/anakampah.wordpress.com/379/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/anakampah.wordpress.com/379/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/anakampah.wordpress.com/379/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/anakampah.wordpress.com/379/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anakampah.wordpress.com/379/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anakampah.wordpress.com/379/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anakampah.wordpress.com/379/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anakampah.wordpress.com/379/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anakampah.wordpress.com/379/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anakampah.wordpress.com/379/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anakampah.wordpress.com&amp;blog=6274777&amp;post=379&amp;subd=anakampah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anakampah.wordpress.com/2011/07/24/tuntunan-qiyamul-lail-dan-sholat-tarawih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">agungsuparjono</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Panduan Puasa Ramadhan Di Bawah Naungan Al-Qur`an Dan As-Sunnah</title>
		<link>http://anakampah.wordpress.com/2011/07/24/panduan-puasa-ramadhan-di-bawah-naungan-al-quran-dan-as-sunnah/</link>
		<comments>http://anakampah.wordpress.com/2011/07/24/panduan-puasa-ramadhan-di-bawah-naungan-al-quran-dan-as-sunnah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jul 2011 00:08:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agung Suparjono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anakampah.wordpress.com/?p=377</guid>
		<description><![CDATA[Panduan Puasa Ramadhan Di Bawah Naungan Al-Qur`an Dan As-Sunnah Rabu, 11-Agustus-2010, Penulis: Al-Ustadz Dzulqarnain Bin Muhammad Sunusi Al-Atsary Berikut ini kami ketengahkan ke hadapan para pembaca tuntunan puasa Ramadhan yang benar, berupa kesimpulan-kesimpulan yang dipetik dari Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam yang shohih. Tulisan ini kami sarikan dari pembahasan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anakampah.wordpress.com&amp;blog=6274777&amp;post=377&amp;subd=anakampah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Panduan Puasa Ramadhan Di Bawah Naungan Al-Qur`an Dan As-Sunnah</strong></p>
<p>Rabu, 11-Agustus-2010, Penulis: Al-Ustadz Dzulqarnain Bin Muhammad Sunusi Al-Atsary</p>
<p>Berikut ini kami ketengahkan ke hadapan para pembaca tuntunan puasa Ramadhan yang benar, berupa kesimpulan-kesimpulan yang dipetik dari Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam yang shohih.</p>
<p>Tulisan ini kami sarikan dari pembahasan luas dari berbagai madzhab fiqh dan kami uraikan dengan kesimpulan-kesimpulan ringkas agar menjadi tuntunan praktis bagi setiap muslim dan muslimah dalam menjalankan puasa Ramadhan.</p>
<p>Harapan kami mudah-mudahan bermanfaat bagi segenap kaum muslimin dan muslimat dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan yang mulia. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.</p>
<p>1. Beberapa Perkara Yang Perlu Diketahui Sebelum Masuk Ramadhan.</p>
<p>*     Tidak boleh berpuasa sehari atau dua hari sebelum Ramadhan dengan maksud berjaga-jaga jangan sampai Ramadhan telah masuk pada satu atau dua hari itu sementara mereka tidak mengetahuinya. Adapun kalau berpuasa sehari atau dua hari sebelum Ramadhan karena bertepatan dengan kebiasaannya seperti puasa Senin-Kamis, puasa Daud dan lain-lain, maka hal tersebut diperbolehkan.</p>
<p>Seluruh hal ini berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu riwayat Al-Bukhary dan Muslim, Rasululllah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :</p>
<p>لَا تُقَدِّمُوْا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ إِلَّا رَجُلًا كَانَ يَصُوْمُ صَوْمًا فَلْيَصُمْهُ</p>
<p>“Jangan kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa satu atau dua hari kecuali seseorang yang biasa berpuasa dengan suatu puasa tertentu maka (tetaplah) ia berpuasa.”</p>
<p>*     Penentuan masuknya bulan adalah dengan cara melihat Hilal. Hilal adalah bulan sabit kecil yang nampak di awal bulan.</p>
<p>Dan bulan Islam hanya terdiri dari 29 hari atau 30 hari, sebagaimana dalam hadits ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu riwayat Al-Bukhary dan Muslim, Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam tatkala menyebut bulan Ramadhan beliau berisyarat dengan kedua tangannya seraya berkata :</p>
<p>الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا ثُمَّ عَقَدَ إِبْهَامَهُ فِي الثَّالِثَةِ فَصُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ أُغْمِيَ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوْا لَهُ ثَلَاثِيْنَ</p>
<p>“Bulan (itu) begini, begini dan begini, kemudian beliau melipat ibu jarinya pada yang ketiga (yaitu sepuluh tambah sepuluh tambah sembilan,-pent.), maka puasalah kalian karena kalian melihatnya (hilal), dan berbukalah kalian karena kalian melihatnya, kemudian apabila bulan tertutupi atas kalian maka genapkanlah bulan itu tiga puluh.”</p>
<p>Maka untuk melihat hilal Ramadhan hendaknya dilakukan pada tanggal 29 Sya’ban setelah matahari terbenam. Selang beberapa saat bila hilal nampak maka telah masuk tanggal 1 Ramadhan dan apabila hilalnya tidak nampak berarti bulan Sya’ban digenapkan 30 hari dan setelah tanggal 30 Sya’ban secara otomatis besoknya adalah tanggal 1 Ramadhan.</p>
<p>*     Apabila hilal telah terlihat pada satu negeri maka diharuskan bagi seluruh negeri di dunia untuk berpuasa. Ini merupakan pendapat Jumhur ‘Ulama yang bersandarkan kepada surat Al-Baqaroh ayat 185 :</p>
<p>فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ</p>
<p>“Maka barangsiapa dari kalian yang menyaksikan bulan, hendaknya ia berpuasa.”</p>
<p>Dan juga dari hadits Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma riwayat Al-Bukhary dan Muslim yang tersebut di atas dan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma riwayat Al-Bukhary dan Muslim, Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam :</p>
<p>صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمِّيَ عَلَيْكُمْ الشَّهْرُ فَعَدُّوْا ثَلَاثِيْنَ</p>
<p>“Berpuasalah kalian karena melihatnya dan berbukalah kalian karena melihatnya dan apabila bulan tertutup atas kalian maka sempurnakanlah tiga puluh.”</p>
<p>Ayat dan dua hadits di atas adalah pembicaraan yang ditujukan kepada seluruh kaum muslimin di manapun mereka berada di belahan bumi ini, wajib atas mereka untuk berpuasa tatkala ada dari kaum muslimin yang melihat hilal.</p>
<p><span id="more-377"></span></p>
<p>2. Niat Dalam Puasa</p>
<p>*     Tidak diragukan bahwa niat merupakan syarat syahnya puasa dan syarat syahnya seluruh jenis ibadah lainnya sebagaimana yang ditegaskan oleh Rasululllah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dalam hadits ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu riwayat Al-Bukhary dan Muslim :</p>
<p>إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَىَ</p>
<p>“Sesungguhnya setiap amalan hanyalah tergantung pada niatnya dan setiap orang hanyalah mendapatkan apa yang ia niatkan.”</p>
<p>Karena itu hendaknyalah seorang muslim benar-benar memperhatikan masalah niat ini yang menjadi tolak ukur diterima atau tidaknya amalannya. Seorang muslim tatkala akan berpuasa hendaknya berniat dengan sungguh-sungguh dan bertekad untuk berpuasa ikhlash karena Allah Ta’ala.</p>
<p>*     Niat tempatnya di dalam hati dan tidak dilafadzkan. Hal ini dapat dipahami dari hadits di atas.</p>
<p>*     Diwajibkan bagi orang yang akan berpuasa untuk berniat semenjak malam harinya yaitu setelah matahari terbenam sampai terbitnya fajar subuh.</p>
<p>*     Dan kewajiban berniat dari malam hari ini umum pada puasa wajib maupun puasa sunnah menurut pendapat yang paling kuat di kalangan para ‘ulama.</p>
<p>*     Dan tidak dibenarkan berniat satu kali saja untuk satu bulan bahkan diharuskan berniat setiap malam menurut pendapat yang paling kuat.</p>
<p>Tiga point terakhir berdasarkan perkataan Ibnu ‘Umar dan Hafshoh radhiyallahu ‘anhuma yang mempunyai hukum marfu’ (sama hukumnya dengan hadits yang diucapkan langsung oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam) dengan sanad yang shohih :</p>
<p>مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَلَا صِيَامَ لَهُ</p>
<p>“Siapa yang tidak berniat puasa dari malam hari maka tidak ada puasa baginya.”</p>
<p>*     Apabila telah pasti masuk 1 Ramadhan dan berita tentang hal itu belum diterima kecuali pada pertengahan hari, maka hendaknyalah bersegera berpuasa sampai maghrib walaupun telah makan atau minum sebelumnya dan tidak ada kewajiban qodho` atasnya sebagaimana dalam hadits Salamah Ibnul Akwa’ riwayat Al-Bukhary dan Muslim, beliau berkata :</p>
<p>بَعَثَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا مِنْ أَسْلَمَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ فَأَمَرَهُ أَنْ يُؤْذِنَ فِي النَّاسِ مَنْ كَانَ لَمْ يَصُمْ فَلْيَصُمْ وَمَنْ كَانَ أَكَلَ فَلْيُتِمَّ صِيَامَهُ إِلَى اللَّيْلِ</p>
<p>“Rasululllah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam mengutus seorang laki-laki dari Aslam pada hari ‘Asyuro` (10 Muharram,-pent.) dengan memerintahkannya untuk mengumumkan kepada manusia siapa yang belum berpuasa maka hendaklah ia berpuasa dan siapa yang telah makan maka hendaknya dia sempurnakan puasanya sampai malam hari.”</p>
<p>3. Waktu Pelaksanaan Puasa</p>
<p>Waktu puasa bermula dari terbitnya fajar subuh dan berakhir ketika matahari terbenam. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan dalam surah Al-Baqaroh ayat 187 :</p>
<p>وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ</p>
<p>“Dan makan dan minumlah kalian hingga nampak bagi kalian benang putih dari benang hitam yaitu fajar, kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.”</p>
<p>4. Makan Sahur</p>
<p>*     Makan sahur adalah suatu hal yang sangat disunnahkan dalam syari’at Islam menurut kesepakatan para ulama. Hal itu karena Rasululllah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam sangat menganjurkannya dan mengabarkan bahwa pada sahur itu terdapat berkah bagi seorang muslim di dunia dan di akhirat sebagaimana dalam hadits Anas bin Malik riwayat Al-Bukhary dan Muslim :</p>
<p>تَسَحَّرُوْا فَإِنَّ فِي السَّحُوْرِ بَرَكَةً</p>
<p>“Bersahurlah kalian karena sesungguhnya pada sahur itu ada berkah.”</p>
<p>Bahkan beliau menjadikan sahur itu sebagai salah satu syi’ar (simbol) Islam yang sangat agung yang membedakan kaum muslimin dari orang–orang yahudi dan nashroni, beliau bersabda dalam hadits ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhu riwayat Muslim :</p>
<p>فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكَلَةُ السَّحْرِ</p>
<p>“Pembeda antara puasa kami dan puasa ahlul kitab adalah makan sahur.”</p>
<p>*     Dan juga disunnahkan mengakhirkan sahur sampai mendekati waktu adzan subuh, sebagaimana Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam memulai makan sahur dalam selang waktu membaca 50 ayat yang tidak panjang dan tidak pula pendek sampai waktu adzan sholat subuh. Hal tersebut dinyatakan dalam hadits Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu riwayat Al-Bukhary dan Muslim :</p>
<p>تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قُمْنَا إِلَى الصَّلَاةِ. قُلْتُ : كَمْ كَانَ قُدْرُ مَا بَيْنَهُمَا؟ قَالَ خَمْسِيْنَ آيَةً</p>
<p>“Kami bersahur bersama Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam kemudian kami berdiri untuk sholat. Saya berkata (Anas bin Malik yang meriwaytkan dari Zaid,-pent.) : “Berapa jarak antara keduanya (antara sahur dan adzan)?”. Ia menjawab : “Lima puluh ayat”.”</p>
<p>*     Dan dari hadits di atas, juga dapat dipetik kesimpulan akan disunnahkannya makan sahur secara bersama.</p>
<p>*     Dan sebaik-baik makanan yang dipakai bersahur oleh seorang mu’min adalah korma. Sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu riwayat Abu Dawud dengan sanad yang shohih, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :</p>
<p>نِعْمَ سَحُوْرُ الْمُؤْمِنِ التَّمْرُ</p>
<p>“Sebaik-baik sahur seorang mu’min adalah korma.”</p>
<p>*     Batas akhir bolehnya makan sahur sampai adzan subuh, apabila telah masuk adzan subuh maka hendaknya menahan makan dan minum. Hal ini sebagaimana yang dipahami dari ayat dalam surah Al Baqoroh ayat 187 :</p>
<p>وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ</p>
<p>“Dan makan dan minumlah kalian hingga nampak bagi kalian benang putih dari benang hitam yaitu fajar, kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.”</p>
<p>*     Apabila telah yakin akan masuk waktu subuh dan seseorang sedang makan atau minum maka hendaknyalah berhenti dari makan dan minumnya. Ini merupakan fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah yang diketuai oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah, Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’iy dan beberapa ulama lainnya berdasarkan nash ayat di atas. Adapun hadits Abu Daud, Ahmad dan lain-lainnya yang menyebutkan bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :</p>
<p>إِذَا سَمِعَ أَحُدُكُمُ الْنِدَاءَ وَالْإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلاَ يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ</p>
<p>“Apabila salah seorang dari kalian mendengar panggilan (adzan) dan bejana berada di tangannya maka janganlah ia meletakkannya sampai ia menyelesaikan hajatnya (dari bejana tersebut).”</p>
<p>Hadits ini adalah hadits yang lemah sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Abu Hatim. Baca Al-‘Ilal 1/123 no 340 dan 1/256 no 756 dan An-Nashihah Vol. 02 rubrik Hadits.</p>
<p>Dan andaikata hadits ini shohih maka maknanya tidak bisa dipahami secara zhohir-nya tapi harus dipahami sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al-Baihaqy dalam Sunanul Kubra 4/218 bahwa yang diinginkan dari hadits adalah ia boleh minum apabila diketahui bahwa si muadzdzin mengumandangkan adzan sebelum terbitnya fajar shubuh, demikianlah menurut kebanyakan para ‘ulama. Wallahu A’lam.</p>
<p>*     Apabila seeorang ragu apakah waktu subuh telah masuk atau tidak, maka diperbolehkan makan dan minum sampai ia yakin bahwa waktu subuh telah masuk.</p>
<p>Hal ini berdasarkan firman Allah :</p>
<p>وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ</p>
<p>“Dan makan dan minumlah kalian hingga nampak bagi kalian benang putih dari benang hitam yaitu fajar, kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.” (QS. Al-Baqaroh ayat 187)</p>
<p>Ayat ini memberikan pengertian apabila fajar subuh telah jelas nampak maka harus berhenti dari makan dan minum, adapun kalau belum jelas nampak seperti yang terjadi pada orang yang ragu di atas masih boleh makan dan minum.</p>
<p>5. Perkara-Perkara Yang Wajib Ditinggalkan Oleh Orang  Yang Berpuasa</p>
<p>*     Diwajibkan atas orang yang berpuasa untuk meninggalkan makan, minum dan hubungan seksual. Hal ini tentunya sangat dimaklumi berdasarkan firman Allah :</p>
<p>وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ</p>
<p>“Dan makan dan minumlah kalian hingga nampak bagi kalian benang putih dari benang hitam yaitu fajar, kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.”</p>
<p>Dan dalam hadits Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu riwayat Al-Bukhary dan Muslim, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam menegaskan :</p>
<p>كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشَرَ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللهُ تَعَالَى : إِلاَّ الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ, يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِيْ</p>
<p>“Setiap amalan Anak Adam kebaikannya dilipatgandakan menjadi sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman : “Kecuali puasa, sesungguhnya ia adalah (khusus) bagi-Ku dan Aku yang akan memberikan pahalanya, ia (orang yang berpuasa) meninggalkan syahwatnya dan makanannya karena Aku.” (Lafazh hadits bagi Imam Muslim)</p>
<p>*     Diwajibkan meninggalkan perkataan dusta, makan harta riba dan mengadu domba.</p>
<p>*     Juga diharuskan meninggalkan segala perkara yang sia-sia dan tidak berguna.</p>
<p>Dua point di atas berdasarkan dalil-dalil umum akan larangan melakukan perkara-perkara di atas, dan secara khusus menyangkut puasa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam telah menjelaskan dalam hadits Abu Huroiroh radhiyallahu ‘anhu riwayat Al-Bukhary :</p>
<p>مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ للهِ حَاجَةٌ فِيْ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ</p>
<p>“Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan beramal dengannya maka Allah tidak ada hajat/keperluan padanya apabila ia meninggalkan makan dan minumnya (yaitu pada puasanya, -pent.).”</p>
<p>Dan juga dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu riwayat Ibnu Khuzaimah dengan sanad yang hasan, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam menegaskan :</p>
<p>لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الْأَكْلِ وَالشَّرَابِ, إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَفَثِ</p>
<p>“Bukanlah puasa itu sekedar (menahan) dari makan dan minumannya, namun puasa itu hanyalah (menahan) dari perbuatan sia-sia dan tidak berguna.”</p>
<p>*     Meninggalkan puasa wishol.</p>
<p>Puasa wishol artinya menyambung puasa dua hari berturut-turut atau lebih tanpa berbuka. Puasa wishol adalah haram atas umat ini kecuali bagi Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam menurut pendapat yang paling kuat di kalangan para ‘ulama.</p>
<p>Hal tersebut berdasarkan hadits Abdullah bin ‘Umar, Abu Hurairah, ‘Aisyah dan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhum riwayat Al-Bukhary dan Muslim. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam menyatakan :</p>
<p>نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْوِصَالِ قَالُوْا: إِنَّكَ تُوَاصِلُ قَالَ : إِنِّيْ لَسْتُ مِثْلَكُمْ إِنِّيْ أُطْعَمُ وَأُسْقَى</p>
<p>“Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam melarang dari puasa wishol, maka para sahabat berkata : “Sesungguhnya engkau melakukan wishol?”. Beliau menjawab : “Sesungguhnya saya tidak seperti kalian saya diberi (kekuatan) makan dan minum.”</p>
<p>6. Perkara-Perkara Yang Jika Terdapat Pada Orang Yang Berpuasa Boleh Baginya Untuk Berpuasa.</p>
<p>*     Orang yang bangun kesiangan dalam keadaan junub.</p>
<p>Diperbolehkan baginya untuk berpuasa berdasarkan hadits ‘Aisyah dan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anhuma riwayat Al-Bukhary dan Muslim :</p>
<p>أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلََيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُدْرِكُهُ الْفَجْرُوَهُوَ جُنُبٌ مِنْ أَهْلِهِ ثُمَّ يَغْتَسِلُ وَيَصُوْمُ</p>
<p>“Sesungguhnya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam kadang-kadang dijumpai oleh waktu subuh sedang beliau dalam keadaan junub dari istrinya, kemudian beliau mandi dan berpuasa.”</p>
<p>Tidak ada perbedaan apakah dia junub sebab mimpi atau sebab berhubungan. Demikian pula wanita yang haid atau nifas yang telah suci sebelum terbit fajar akan tetapi dia belum sempat mandi takut kesiangan dia juga boleh berpuasa menurut pendapat yang paling kuat di kalangan para ‘ulama berdasarkan hadits di atas.</p>
<p>*     Juga diperbolehkan untuk bersiwak bahkan hal tersebut merupakan sunnah, apakah menggunakan kayu siwak atau dengan sikat gigi.</p>
<p>*     Dan juga dibolehkan menyikat gigi dengan pasta gigi, tetapi dengan menjaga jangan sampai menelan sesuatu ke dalam kerongkongannya dan juga jangan mempergunakan pasta gigi yang mempunyai pengaruh kuat ke dalam perut dan tidak bisa diatasi.</p>
<p>Dua point di atas berdasarkan keumuman hadits-hadits yang menunjukkan akan disunnahkannya bersiwak seperti hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu riwayat Al-Bukhary dan Muslim, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :</p>
<p>لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِيْ لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صُلَاةٍ</p>
<p>“Andaikata tidak akan memberatkan ummatku niscaya akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak  setiap hendak sholat.”</p>
<p>Dan dalam riwayat lain Malik, Ahmad, An-Nasa`i dan lain-lainnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dengan lafadz :</p>
<p>َوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِيْ لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ وُضُوْءٍ</p>
<p>“Andaikata tidak akan memberatkan ummatku niscaya akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak bersama setiap wudhu`.”</p>
<p>Dua hadits ini menunjukkan sunnah bersiwak secara mutlak tanpa membedakan apakah dalam keadaan berpuasa atau tidak.</p>
<p>*     Boleh berkumur-kumur dan menghirup air ketika berwudhu`, dengan ketentuan tidak terlalu dalam dan berlebihan sehingga mengakibatkan air masuk ke dalam kerongkongan. Juga tidak ada larangan untuk berkumur-kumur disebabkan teriknya matahari sepanjang tidak menelan air ke kerongkongan. Seluruh hal ini  berdasarkan hadits shohih dari Laqith bin Shabirah radhiyallahu ‘anhu riwayat Abu Daud, At-Tirmidzy, An-Nasa`i, Ibnu Majah dan lain-lainnya, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam menyatakan :</p>
<p>وَبَالِغْ فِي الْإِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ أَنْ تَكُوْنَ صَائِمًا</p>
<p>“Dan bersungguh-sungguhlah engkau dalam menghirup air kecuali jika engkau dalam keadaan puasa.”</p>
<p>Dan hadits-hadits lainnya yang menunjukkan disunnahkannya berkumur-kumur dan menghirup air dalam wudhu`, juga datang dengan bentuk umum tanpa membedakan dalam keadaan berpuasa atau tidak.</p>
<p>*     Juga boleh mandi dalam keadaan berpuasa bahkan juga boleh berenang sepanjang ia menjaga tidak tertelannya air ke dalam tenggorokannya.</p>
<p>*     Dan juga boleh bercelak untuk mata ketika berpuasa.</p>
<p>Dua point di atas boleh karena tidak adanya dalil yang melarangnya.</p>
<p>*     Dan juga boleh memeluk/bersentuhan dan mencium istri bila mampu menguasai dirinya. Menurut pendapat yang paling kuat di kalangan para ‘ulama.</p>
<p>Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha riwayat Al-Bukhary dan Muslim, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :</p>
<p>كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُ وَهُوَ صَائِمٌ وَيُبَاشِرُ وَهُوَ صَائِمٌ, وَلَكِنَّهُ كَانَ أَمْلَكَكُمْ لِإِرْبِهِ</p>
<p>“Adalah Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam mencium dalam keadaan berpuasa dan memeluk dalam keadaan berpuasa dan beliau adalah orang yang paling mampu menguasai syahwatnya.”</p>
<p>*     Boleh menelan ludah bagi orang yang berpuasa bahkan lebih dari itu juga boleh mengumpulkan ludah dengan sengaja di mulut kemudian menelannya. Adapun dahak tidaklah membatalkan puasa kalau ditelan, tetapi menelan dahak tidak boleh karena ia adalah kotoran yang membahayakan tubuh.</p>
<p>*     Boleh mencium bau-bauan apakah itu bau makanan, bau parfum dan lain-lain.</p>
<p>Dua point di atas boleh karena tidak adanya dalil yang melarang.</p>
<p>*     Boleh mencicipi masakan dengan ketentuan menjaganya jangan sampai masuk ke dalam tenggorokan dan kembali mengeluarkannya. Hal ini berdasarkan perkataan ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang mempunyai hukum marfu’ dengan sanad yang hasan dari seluruh jalan-jalannya :</p>
<p>لَا بَأْسَ أَنْ يَذُوْقَ الصَّائِمُ الْخَلَّ وَالشَّيْءَ الَّذِيْ يُرِيْدُ شَرَاءَهُ مَالَمْ يُدْخُلْ حَلْقَهُ وَهُوَ صَائِمٌ</p>
<p>“Tidak apa-apa bagi orang yang berpuasa mencicipi cuka atau sesuatu yang ia ingin beli sepanjang tidak masuk ke dalam tenggorokannya.”</p>
<p>*     Boleh bersuntik dengan apa saja yang tidak mengandung makna makanan dan minuman seperti suntikan vitamin, suntikan kekuatan, infus, dan lain-lainnya.</p>
<p>Hal ini boleh karena tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa hal tersebut membatalkan puasa.</p>
<p>7. Hal-Hal Yang Makruh Bagi Orang Yang Berpuasa</p>
<p>*     Berbekam (mengeluarkan darah kotor dari kepala dan anggota tubuh lainnya) adalah makruh karena bisa mengakibatkan tubuh menjadi lemas dan menyeret orang berbekam untuk berbuka. Demikian pula halnya yang semakna dengan ini adalah memberikan donor darah.</p>
<p>Hukum ini merupakan bentuk kompromi dari dua hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam, yaitu antara hadits mutawatir yang di dalamnya beliau menyatakan :</p>
<p>أَفْطَرَ الْحَاجِمُ وَالْمَحْجُوْمُ</p>
<p>“Telah berbuka orang yang berbekam dan orang yang membekamnya.”</p>
<p>Dan hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma riwayat Al-Bukhary :</p>
<p>احْتَجَمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ صَائِمٌ</p>
<p>“Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam berbekam dan beliau dalam keadaan berpuasa.”</p>
<p>*     Memeluk dan mencium istrinya hingga membangkitkan syahwatnya.</p>
<p>Hal tersebut berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu riwayat Abu Daud dengan sanad yang shahih, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam berkata :</p>
<p>أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْمَبَاشَرَةِ لِلصَّائِمِ فَرَخَّصَ لَهُ وَأَتَاهُ آخَرُ فَسَأَلَهُ فَنَهَاهُ فَإِذَا الَّذِيْ رَخَّصَ لَهُ شَيْخٌ وَالَّذِيْ نَهَاهُ شَابٌّ</p>
<p>“Sesungguhnya seseorang lelaki bertanya kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam tentang berpelukan/bersentuhan bagi orang yang berpuasa maka beliau memberikan keringanan kepadanya (untuk melakukan hal tersebut) dan datang laki-laki lain bertanya kepadanya dan beliaupun melarangnya (untuk melakukan hal tersebut), ternyata orang yang diberikan keringanan padanya adalah orang yang sudah tua dan yang dilarang adalah seseorang yang masih muda.”</p>
<p>*     Menyambung puasa dari maghrib sampai waktu sahur (puasa wishol)</p>
<p>Hal ini berdasarkan hadits Abu Sa’id Al-Khudry radhiyallahu ‘anhu riwayat Al-Bukhary. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :</p>
<p>لَا تُوَاصِلُوْا فَأَيُّكُمْ أَرَادَ أَنْ يُوَاصِلَ فَلْيُوَاصِلْ حَتَّى السَّحْرَ</p>
<p>“Janganlah kalian puasa wishol, siapa yang menyambung maka sambunglah sampai waktu sahur.”</p>
<p>8. Pembatal-Pembatal Puasa.</p>
<p>*     Makan dan minum dengan sengaja merupakan pembatal puasa, adapun kalau seseorang melakukannya dengan tidak sengaja atau lupa, tidaklah membatalkan puasanya.</p>
<p>Hal ini adalah perkara diketahui secara darurat dan dimaklumi oleh seluruh kaum muslimin berdasarkan dalil yang sangat banyak. Di antaranya adalah ayat dalam surah Al-Baqaroh ayat 187 :</p>
<p>وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ</p>
<p>“Dan makan dan minumlah kalian hingga nampak bagi kalian benang putih dari benang hitam yaitu fajar, kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.”</p>
<p>Dan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu riwayat Al-Bukhary dan Muslim, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam menegaskan :</p>
<p>كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشَرَ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللهُ تَعَالَى : إِلاَّ الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ, يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِيْ</p>
<p>“Setiap amalan Anak Adam kebaikannya dilipatgandakan menjadi sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman : “Kecuali puasa, sesungguhnya ia adalah (khusus) bagi-Ku dan Aku yang akan memberikan pahalanya, ia (orang yang berpuasa) meninggalkan syahwatnya dan makanannya karena Aku.” (Lafazh hadits bagi Imam Muslim)</p>
<p>Dan juga hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu riwayat Al-Bukhary dan Muslim, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :</p>
<p>مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللهُ وَسَقَاهُ</p>
<p>“Siapa saja yang lupa dan ia dalam keadaan berpuasa lalu ia makan dan minum, maka hendaknyalah ia sempurnakan puasanya karena sesungguhnya ia hanyalah diberi makan dan minum oleh Allah.”</p>
<p>Pemahaman dari hadits ini bahwa siapa yang makan dan minum dengan sengaja maka batallah puasanya.</p>
<p>*     Suntikan–suntikan penambah kekuatan berupa vitamin dan yang sejenisnya yang masuk dalam makna makan dan minum.</p>
<p>*     Menelan darah mimisan dan darah yang keluar dari bibir juga merupakan pembatal puasa.</p>
<p>Dua point di atas berdasarkan keumuman nash-nash yang tersebut di atas.</p>
<p>*     Muntah dengan sengaja juga membatalkan puasa, adapun kalau muntah dengan tidak sengaja tidak membatalkan.</p>
<p>Hal ini berdasarkan perkataan Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma yang mempunyai hukum marfu’, beliau berkata :</p>
<p>مَنِ اسْتَقَاءَ وَهُوَ صَائِمٌ فَعَلَيْهِ الْقَضَاءُ وَمَنْ ذَرَعَهُ الْقَيْءُ فَلَيْسَ عَلَيْهِ الْقَضَاءُ</p>
<p>“Siapa yang sengaja muntah dan ia dalam keadaan berpuasa maka wajib atasnya untuk membayar qodho` dan siapa yang tidak kuasai menahan muntahnya  (muntah denga tidak sengaja,-pent.) maka tidak ada qodho` atasnya.” (Diriwayatkan oleh Imam Malik dengan sanad yang shohih)</p>
<p>*     Haid dan nifas.</p>
<p>Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha riwayat Al-Bukhary dan Muslim, beliau menyatakan :</p>
<p>كَانَ يُصِيْبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلَا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ</p>
<p>“Adalah hal tersebut (haid,-pent.) menimpa kami dan kami diperintah untuk meng-qodho` puasa dan tidak diperintah untuk meng-qodho` sholat.”</p>
<p>*     Bersetubuh.</p>
<p>Dalilnya akan disebutkan kemudian insya Allah.</p>
<p>9. Berbuka Puasa.</p>
<p>*    Waktu berbuka puasa adalah ketika siang beranjak pergi dan matahari telah terbenam dan malampun menyelubunginya. Hal ini berdasarkan firman Allah Jalla Jalaluhu : dalam</p>
<p>ثُمَّ أَتمُِّوْا الصِّيَامَ إِلَى اْللِيْلِ</p>
<p>“Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.” (QS. Al-Baqaroh ayat 187)</p>
<p>Dan diantara sekian banyak hadits yang menjelaskan tentang hal ini, adalah hadits Umar bin Khaththab riwayat Al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p>إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنُ هَاهُنِا وَأَدْبَرَ مِنْ هَاهُنَا وَغَابَتِ الشَّمْسُ فَقَدْ أَفْطَرَ الصَائِمُ</p>
<p>“Apabila malam telah datang dan siang beranjak pergi serta matahari telah terbenam maka orang yang berpuasa telah waktunya berbuka.”</p>
<p>*    Disunnahkan mempercepat berbuka puasa ketika telah yakin bahwa waktunya telah masuk, karena manusia akan tetap berada di dalam kebaikan selama mereka mempercepat berbuka puasa sebagaimana yang dinyatakan oleh Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Sahl bin Sa’d As-Sa’idy Radhiyallahu ‘anhu riwayat Al-Bukhari dan Muslim :</p>
<p>لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوْا اْلفِطْرَ</p>
<p>“Terus-menerus manusia berada di dalam kebaikan selama mereka mempercepat berbuka puasa.”</p>
<p>Bahkan Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam menganggap mempercepat berbuka puasa sebagai salah satu sebab tetap nampaknya agama ini, sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu riwayat Ahmad,   Abu Daud dan lain-lainnya dengan sanad yang hasan, beliau menegaskan :</p>
<p>لاَ يَزَالُ الدِّيْنُ ظَاهِراً مَا عَجَّلُوْا اْلفِطْرَ, لِأَنَّ اْليَهُوْدَ وَاْلنَّصَارَى يُؤَخِّرُوْنَ</p>
<p>“Terus-menerus agama ini akan nampak sepanjang manusia masih mempercepat buka puasa karena orang-orang Yahudi dan Nashoro mengakhirkannya.”</p>
<p>*    Dan Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam berbuka puasa sebelum sholat Maghrib dengan memakan ruthob (kurma kuning yang mengkal dan hampir matang) dan apabila beliau tidak menemukan ruthob maka beliau berbuka dengan korma (matang) jika tidak menemukan korma maka beliau berbuka dengan beberapa teguk air.</p>
<p>Hal ini berdasarkan hadits Anas bin Malik riwayat Abu Dawud dengan sanad hasan Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam beliau berkata :</p>
<p>كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ, فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتُ فَعَلَى ثَمَراتٍ, فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ</p>
<p>“Adalah Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam berbuka dengan beberapa biji ruthob sebelum sholat, apabila tidak ada ruthob maka dengan beberapa korma,dan kalau tidak ada korma maka dengan beberapa teguk air.</p>
<p>*    Dan disunahkan memperbanyak do’a ketika berbuka, karena waktu itu merupakan salah satu tempat mustajabnya (diterimanya) do’a sebagaimana dalam hadits yang shohih dari seluruh jalan-jalannya.</p>
<p>*    Merupakan suatu amalan yang sangat mulia dan mendapatkan pahala yang besar apabila seseorang memberikan makanan buka puasa pada saudaranya yang berpuasa.</p>
<p>Hal ini berdasarkan hadits Zaid bin Khalid Al-Juhany Radhiyallahu ‘Anhu riwayat Ahmad, At-Tirmidzy, Ibnu Majah dan lain-lainnya dengan sanad yang shohih Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :</p>
<p>مَنْ فَطَّرَ صَائِماً كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ إِلاَّ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أًجْرِ الصَّائِمِ شَيءٌ</p>
<p>“Siapa yang memberikan makanan buka puasa pada orang yang berpuasa maka baginya pahala seperti pahala orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikitpun.”</p>
<p>10. Orang–Orang Yang Mendapatkan Keringanan Untuk Tidak Berpuasa</p>
<p>*    Musafir</p>
<p>Secara umum Allah Ta’ala memberikan keringanan kepada musafir yang sedang dalam perjalanan untuk tidak berpuasa.</p>
<p>Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala dalam surah Al-Baqaroh ayat 184 :</p>
<p>فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيْضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ</p>
<p>“Maka barang siapa di antara kalian yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka (wajib baginya untuk berpuasa) sebanyak hari yang dia tinggalkan itu pada hari-hari yang lain.”</p>
<p>Dan suatu hal yang kita ketahui bersama bahwa perjalanan safar kadang merupakan perjalanan meletihkan dan kadang perjalanan yang tidak meletihkan. Adapun perjalanan yang meletihkan, yang paling utama bagi sang musafir adalah berbuka berdasarkan hadits Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhuma riwayat Al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p>كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَىآلِهِ وَسَلَّمَ فِيْ سَفَرٍفَرَأَى رَجُلاً قَدْ اجْتَمَعَ النَّاسُ عَلَيْهِ وَقَدْ ظُلِّلَ عَلَيْهِ فَقَالَ: مَالَهُ قَالُوْا: رَجُلٌ صَائِمٌ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَىآلِهِ وَسَلَّمَ: لَيْسَ مِنَ اْلبِرِّ أَنْ تَصُوْمَ فِيْ السَّفَرِ</p>
<p>“Adalah Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dalam perjalanannya dan beliau melihat seorang lelaki telah dikelilingi oleh manusia dan sungguh ia telah diteduhi, maka beliau bertanya :”Ada apa dengannya?” maka para sahabat menjawab :”Ia adalah orang yang berpuasa,” maka Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda : “Bukanlah dari kebaikan berpuasa dalam safar”</p>
<p>Kendati demikian, hadits ini tidaklah menunjukkan haramnya berpuasa dalam perjalanan yang meletihkan karena ada pembolehan dalam syari’at bagi orang yang mampu untuk berpuasa walaupun dalam perjalanan yang meletihkan.</p>
<p>Hal ini berdasarkan hadits riwayat Malik, Asy-Syafi’I, Ahmad, Abu Daud dan lain-lainnya dengan sanad yang shohih dari sebagian sahabat Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam, beliau berkata :</p>
<p>رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَىآلِهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ النَّاسَ فِيْ سَفَرِهِ عَامَ الْفَتْحِ بِاْلفِطْرِ وَقَالَ تَقَوُّوْا لِعَدُوِّكُمْ وَصَامَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَىآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَبُوْ بَكْرٍ قَالَ الَّذِيْ حَدَّثَنِيْ لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَىآلِهِ وَسَلَّمَ بِاْلعَرْجِ يُصِبُ عَلَى رَأسِهِ الْمَاءَ وَهُوَ صَائِمٌ مِنَ اْلعَطْشِ أَوْمِنْ الْحَرِّ</p>
<p>“Saya melihat Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam memerintahkan manusia untuk berbuka dalam suatu perjalanan safar beliau pada tahun penaklukan Makkah dan beliau berkata :“Persiapkanlah kekuatan kalian untuk menghadapi musuh kalian”, dan Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam sendiri berpuasa. Berkata Abu Bakar (bin ‘Abdurrahman rawi dari sahabat) sahabat yang bercerita kepadaku bertutur : ”Sesungguhnya saya melihat Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam di ‘Araj menuangkan air diatas kepalanya dan beliau dalam keadaan berpuasa karena kehausan atau karena kepanasan.”</p>
<p>Dan juga dalam hadits Abu Darda’ riwayat Al-Bukhary dan Muslim beliau berkata :</p>
<p>خَرَجْنَا مَعَ رَسَوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَىآلِهِ وَسَلَّمَ فِيْ شَهْرِ رَمَضَانَ فِيْ حَرٍّ شَدِيْدٍ حَتَّى إِنْ كَانَ أَحَدُنَا لَيَضَعُ يَدَهُ عَلَى رَأسِهِ مِنْ شِدَّةِ الْحِرِّ وَمَا فِيْنَا صَائِمٌ إِلاَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَىآلِهِ وَسَلَّمَ عَبْدُاللهِ بْنُ رَوَاحَةَ</p>
<p>“Kami keluar bersama Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam di bulan Ramadhan dalam cuaca yang sangat panas sampai-sampai salah seorang diantara kami meletakkan tangannya diatas kepalanya karena panas yang sangat dan tak ada seorangpun yang berpuasa diantara kami kecuali Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dan Abdullah bin Rawahah.”</p>
<p>Adapun dalam perjalanan yang tidak meletihkan maka berpuasa lebih utama baginya dari berbuka menurut pendapat yang paling kuat diantara para ulama. Kesimpulan ini bisa dipahami dari puasa Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dalam perjalanan yang meletihkan pada hadits-hadits di atas. Juga dimaklumi bahwa menjalankan kewajiban secepat mungkin adalah lebih bagus untukmengangkat kewajibannya, karena itulah dalam posisi perjalanan yang tidak meletihkan lebih afdhol baginya untuk berpuasa.</p>
<p>*    Orang yang sakit.</p>
<p>Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala dalam surat Al-Baqaroh ayat 184 :</p>
<p>فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيْضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ</p>
<p>“Maka barang siapa di antara kalian yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka (wajib baginya untuk berpuasa) sebanyak hari yang dia tinggalkan itu pada hari-hari yang lain.”</p>
<p>*    Wanita haid atau nifas</p>
<p>Berdasarkan hadits Abu Sa’id Al-Khudry riwayat Al-Bukhary dan Muslim Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :</p>
<p>أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصِلِّ وَلَمْ تُصَمْ</p>
<p>“Bukankah wanita apabila haid ia tidak sholat dan tidak puasa.”</p>
<p>Dan wanita yang nifas didalam pandangan syari’at islam hukumnya sama dengan wanita haid, hal ini berdasarkan hadits Ummi Salamah Radhiyallahu ‘Anha riwayat Imam Al-Bukhary :</p>
<p>بَيْنَمَا أَنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَىآلِهِ وَسَلَّمَ مُضْطَجِعَةٌ فِيْ قَمِيْصَةِ إِذْ حَضَتْ فَانْسَلَلْتُ فَأَخَذْتُ ثِيَابَ حَيْضِيْ فَقَالَ أَنَفِسْتِ فَقُلْتُ نَعَمْ فَدَعَانِيْ فَاضْطَجَعْتُ مَعَهُ فِيْ الْخَمِيْلَةِ</p>
<p>“Tatkala saya berbaring bersama Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam di dalam sebuah baju maka tiba-tiba saya haid maka sayapun pergi lalu saya mengambil pakaian haidku maka beliau bersabda: “apakah kamu nifas,” maka saya menjawab : “Ya.” Lalu beliau memanggilku lalu sayapun berbaring bersamanya diatas permadani.”</p>
<p>Pertanyaan beliau : “Apakah kamu nifas” padahal Ummu Salamah ketika itu menjalani haid bukan nifas sebab tidak pernah melahirkan anak dari Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam menunjukkan bahwa haid dianggap nifas dari sisi hukum dan demikian pula sebaliknya.</p>
<p>*    Laki-laki dan wanita tua yang tidak mampu berpuasa</p>
<p>*    Wanita hamil dan menyusui khawatir akan memberikan dampak negatif kepada kandungannya, anak yang dalam susuannya atau dirinya sendiri apabila ia berpuasa.</p>
<p>Dua point diatas berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas riwayat Ibnu Jarud dalam Al-Muntaqo dan lain-lainnya dengan sanad yang shohih menjelaskan firman Allah Ta’ala dalam surat Al-Baqarah 184.</p>
<p>وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهُ فِدْيَةٌ طَعَامٌ مِسْكِيْنِ</p>
<p>Berkata Ibnu ‘Abbas :</p>
<p>رَخَّصَ لِلشَّيْخِ الْكَبِيْرِ وَاْلعَجُوْزِ اْلكَبِيْرَةِ فِيْ ذَلِكَ وَهُمَا يُطِيْقَانِ الصَّوْمَ أَنْ يُفْطِرَا إِنْ شَاءا أَوْيُطْعِمَا كُلَّ يَوْمٍ مِسْكِيْناً وَلاَ قَضَاءَ عَلَيْهِمَا ثُمَّ نُسِخَ ذَلِكَ فِيْ هَذِهِ اْلآيَةِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمْ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَثَبَتَ لِلشَّيْخِ الْكَبِيْرِ وَاْلعَجُوْزُ الْكَبِيْرَةِ إِذَا كَانَا لاَ يُطِيْقَانِ الصَّوْمَ وَالْحُبْلَى وَالْمُرْضِعِ إِذَا خَافَتَا أَفْطَرَتَا وَأَطْعَمَتَا كُلَّ يَوْمٍ مِسْكِيْنٍَا</p>
<p>“Diberikan keringanan bagi laki-laki dan wanita tua untuk hal itu (yaitu untuk tidak berpuasa,-pent) sementara/walaupun keduanya mampu untuk berpuasa, (diberikan keringanan) untuk berbuka apabila mereka berdua ingin atau memberi makan satu orang miskin setiap hari dan tidak ada qodho’ atas mereka berdua, kemudian hal tersebut dinaskh (dihapus hukumnya) dalam ayat ini {barangsiapa diantara kalian menyaksikan bulan (Ramadhan) maka hendaknya ia berpuasa} dan kemudian hukumnya ditetapkan bagi laki-laki dan wanita tua yang tidak mampu untuk berpuasa dan juga bagi wanita hamil dan menyusui apabila keduanya khawatir (akan membahayakan kandungannya, anak yang ia susui, atau dirinya sendiri,-pent), boleh untuk berbuka dan keduanya membayar fidyah setiap hari.” (Lafadz hadits oleh Ibnul Jarud)</p>
<p>11. Meng-qodho` (mengganti) Puasa.</p>
<p>*     Diwajibkan meng-qodho` puasa atas beberapa orang :</p>
<p>   1. Musafir.<br />
   2. Orang Sakit yang Diharapkan Bisa Sembuh.</p>
<p>Yaitu sakit yang menurut para ahli kesehatan atau menurut kebiasaan merupakan penyakit yang bisa disembuhkan.</p>
<p>Dua point di atas berdasarkan firman Allah Ta’ala :</p>
<p>فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ</p>
<p>“Maka barang siapa di antara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.”</p>
<p>    * Wanita yang Menangguhkan Puasa Karena Haid dan Nifas</p>
<p>Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha riwayat Al-Bukhary dan Muslim, beliau menyatakan :</p>
<p>كَانَ يُصِيْبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلَا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ</p>
<p>“Adalah hal tersebut (haid,-pent.) menimpa kami dan kami diperintah untuk meng-qodho` puasa dan tidak diperintah untuk meng-qodho` sholat.”</p>
<p>Adapun wanita yang nifas dalam pandangan syari’at Islam hukumnya sama dengan wanita haidh sebagaimana yang telah dijelaskan.</p>
<p>    * Muntah dengan Sengaja</p>
<p>Hal ini berdasarkan perkataan Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma yang mempunyai hukum marfu’, beliau berkata :</p>
<p>مَنِ اسْتَقَاءَ وَهُوَ صَائِمٌ فَعَلَيْهِ الْقَضَاءُ وَمَنْ ذَرَعَهُ الْقَيْءُ فَلَيْسَ عَلَيْهِ الْقَضَاءُ</p>
<p>“Siapa yang sengaja muntah dan ia dalam keadaan berpuasa maka wajib atasnya untuk membayar qodho` dan siapa yang tidak kuasa menahan muntahnya (muntah dengan tidak sengaja,-pent.) maka tidak ada qodho` atasnya.” (Diriwayatkan oleh Imam Malik dengan sanad yang shohih)</p>
<p>    * Makan dan Minum Dengan Sengaja.</p>
<p>Orang yang tidak berpuasa karena ketinggalan berita bahwa Ramadhan telah masuk pada hari yang ia tinggalkan.</p>
<p>Hal ini berdasarkan dalil akan wajibnya berpuasa bulan Ramadhan satu bulan penuh maka jika ia luput sebagian dari bulan Ramadhan maka ia tidak dianggap berpuasa satu bulan penuh.[1]</p>
<p>Tidak ada qodho` atas selain orang-orang tersebut diatas.</p>
<p>*     Waktu Untuk meng-qodho`</p>
<p>Waktu untuk meng-qodho` bisa dilakukan setelah Ramadhan sampai akhir bulan Sya’ban sebagaimana yang dipahami dalam riwayat Al-Bukhary dan Muslim dari hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata :</p>
<p>كَانَ يَكُوْنُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ فَمَا أَسْتَطِيْعُ أَنْ أَقْضِيَهُ إِلَّا فِيْ شَعْبَانَ الشُّغْلَ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ</p>
<p>“Kadang ada (tunggakan) puasa Ramadhan atasku, maka saya tidak dapat meng-qadho`nya kecuali pada (bulan) Sya’ban lantaran sibuk (melayani) Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam.”</p>
<p>*     Dan ada keluasan didalam mengqodho’nya apakah dengan cara berturut-turut atau secara terpisah.</p>
<p>Hal ini berdasarkan hukum umum dalam firman Allah Ta’ala :</p>
<p>فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ</p>
<p>“Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.”</p>
<p>Firman-Nya “pada hari-hari yang lain” adalah umum, apakah dilakukan secara berturut-turut atau secara terpisah.</p>
<p>*     Dan tentunya tidaklah diragukan bahwa mempercepat dalam meng-qodho` puasa adalah perkara sangat yang afdhol (lebih utama).</p>
<p>Hal ini berdasarkan keumuman perintah Allah untuk bersegera dalam kebaikan yang ditunjukkan oleh berbagai dalil dari Al-Qur`an dan As-Sunnah, seperti firman Allah Ta’ala :</p>
<p>أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ</p>
<p>“Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang lebih dahulu memperolehnya.” (QS. Al-Mukminun : 61)</p>
<p>*     Barangsiapa yang tidak meng-qodho` puasanya hingga masuknya bulan Ramadhan berikutnya, padahal sebelumnya ada kemampuan dan kesempatan baginya untuk meng-qodho` puasanya, maka ia dianggap orang yang berdosa. Hal ini disimpulkan dari pernyataan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata :</p>
<p>كَانَ يَكُوْنُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ فَمَا أَسْتَطِيْعُ أَنْ أَقْضِيَهُ إِلَّا فِيْ شَعْبَانَ الشُّغْلَ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ</p>
<p>“Kadang ada (tunggakan) puasa Ramadhan atasku, maka saya tidak dapat meng-qodho`nya kecuali pada (bulan) Sya’ban lantaran sibuk (melayani) Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam.”</p>
<p>Hal ini menunjukkan tidak bolehnya mengakhirkan qadho` puasa Ramadhan setelah Sya’ban, sebab andaikata hal tersebut boleh, niscaya ‘Aisyah akan mengakhirkan qadho`nya setelah Ramadhan karena mungkin saja dibulan Sya’ban beliau juga sibuk melayani Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam. Berangkat dari sini Imam empat dan jumhur ulama salaf dan khalaf bahkan ada dinukil kesepakatan dikalangan ulama akan tidak bolehnya mengakhirkan qodho` setelah Ramadhan.</p>
<p>*     Adapun jika seseorang tidak mampu sama sekali untuk meng-qodho` puasanya karena udzur yang terus menerus menahannya seperti orang yang musafir terus menerus, perempuan yang masa kehamilannya rapat/dekat dan lain-lainnya, maka tidak ada dosa baginya dan hendaklah mengganti puasanya kapan ia mampu.</p>
<p>Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :</p>
<p>لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْساً إِلَّا وُسْعَهَا</p>
<p>“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah : 286)</p>
<p>Bagi orang yang meninggal dan belum meng-qodho` tunggakan puasanya pada bulan Ramadhan padahal sebelumnya ada kemampuan baginya untuk meng-qodho` puasanya, maka wajib atas ahli warisnya untuk membayar tunggakannya.</p>
<p>Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha riwayat Al-Bukhary dan Muslim, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :</p>
<p>مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ</p>
<p>“Siapa yang meninggal dan atasnya ada tunggakan puasa, maka ahli warisnya berpuasa untuknya.”</p>
<p>Adapun kalau meninggal sebelum ada kemampuan yang memungkinan baginya untuk meng-qodho` puasanya maka tidak ada dosa atasnya insya Allah dan juga tidak ada kewajiban atas ahli warisnya untuk membayar tunggakannya.</p>
<p>Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :</p>
<p>لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْساً إِلَّا وُسْعَهَا</p>
<p>“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah : 286)</p>
<p>12. Ketentuan Membayar Fidyah.</p>
<p>*     Membayar fidyah diwajibkan atas beberapa orang:</p>
<p>    * Laki-laki dan perempuan tua yang tidak mampu berpuasa.<br />
    * Perempuan hamil dan perempuan menyusui yang khawatir akan membahayakan kandungannya, anak yang disusuinya, atau dirinya sendiri jika ia berpuasa.</p>
<p>Dua point diatas berdasarkan hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma riwayat Abu Daud, Ibnu Jarud dalam Al-Muntaqo dan lain-lainnya dengan sanad yang shohih menjelaskan firman Allah Ta’ala dalam surat Al-Baqarah 184 :</p>
<p>وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ</p>
<p>“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) untuk membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.”</p>
<p>Berkata Ibnu Abbas :</p>
<p>رَخَّصَ لِلشَّيْخِ الْكَبِيْرِ وَالْعَجُوْزِ الْكَبِيْرَةِ فِيْ ذَلِكَ وَهُمَا يُطِيْقَانِ الصَّوْمَ أَنْ يُفْطِرَا إِنْ شَاءَا أَوْ يُطْعِمَا كَلَّ يَوْمٍ مِسْكِيْنًا وَلَا قَضَاءَ عَلَيْهِمَا ثُمَّ نُسِخَ ذَلِكَ فِيْ هَذِهِ الْآيَةِ فَمْنَ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَثَبَتَ لِلشَّيْخِ الْكَبِيْرِ وَالْعَجُوْزِ الْكَبِيْرَةِ إِذَا كَانَا لَا يُطِيْقَانِ الصَّوْمَ وَالْحُبْلَى وَالْمُرْضِعِ إِذَا خَافَتَا أَفْطَرَتَا وَأَطْعَمَتَا كُلَّ يَوْمٍ مِسْكِيْنًا</p>
<p>“Diberikan keringanan bagi laki-laki dan wanita tua  dalam hal itu (yaitu untuk tidak berpuasa,-pent.) sementara keduanya mampu untuk berpuasa, (diberikan keringanan) untuk berbuka apabila mereka berdua ingin atau memberi makan satu orang miskin setiap hari dan tidak ada qodho` atas mereka berdua, kemudian hal tersebut dinaskh (dihapus hukumnya) dalam ayat ini {Barangsiapa diantara kalian menyaksikan bulan (Ramadhan) maka hendaknya ia berpuasa}, dan (kemudian) ditetapkan hukumnya bagi laki-laki dan wanita tua yang tidak mampu untuk berpuasa dan juga bagi wanita hamil dan menyusui apabila keduanya khawatir (akan memberikan bahaya kepada kandungannya, anak yang ia susui, atau dirinya sendiri,-pent.) boleh untuk berbuka dan keduanya membayar fidyah setiap hari.” (Lafazh hadits oleh Ibnul Jarud)</p>
<p>    * Orang sakit terus menerus yang tidak diharapkan kesembuhannya.</p>
<p>Hal diatas berdasarkan riwayat lain dari Ibnu ‘Abbas oleh Imam An-Nasa`i dengan sanad yang shahih dalam menafsirkan firman Allah Ta’ala dalam surat Al-Baqarah 184 :</p>
<p>وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ</p>
<p>“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.”</p>
<p>Berkata Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma :</p>
<p>لَا يُرَخَّصُ فِيْ هَذَا إِلَّا لِلَّذِيْ لَا يُطِيْقُ الصِّيَامَ أَوْ مَرِيْضٌ لَا يُشْفَى</p>
<p>“Tidak diberikan keringanan untuk ini (tidak berpuasa akan tetapi membayar fidyah) kecuali pada orang tua yang tidak mampu untuk berpuasa atau pada orang sakit yang tidak bisa sembuh.”</p>
<p>*     Cara membayar fidyah adalah dengan memberikan makan orang miskin sejumlah hari yang telah ditinggalkan, contoh : apabila ia tidak berpuasa 15 hari maka ia memberi makan 15 orang miskin.</p>
<p>*     Dan membayar fidyah boleh sekaligus dan boleh sebahagian secara terpisah.</p>
<p>*     Membayar fidyah berdasarkan konteks ayat adalah dengan makanan. Maka dengan ini kami tegaskan bahwa fidyah tidak boleh diuangkan.</p>
<p>*     Teks ayat sifatnya umum tidak merinci ketentuan tentang jenis makanan. Jadi kapan suatu makanan dianggap sebagai makanan menurut kebiasaan manusia di suatu tempat maka hal tersebut telah dianggap syah/cukup untuk membayar fidyah.</p>
<p>*     Dan banyaknya makanan juga tidak dirinci dalam teks ayat sehingga ini juga kembali kepada kebiasaan orang banyak di suatu tempat atau negeri.</p>
<p>*     Namun tidak diragukan akan terpujinya membayar fidyah dengan makanan yang paling baik dan berharga, berdasarkan firman Allah Jalla wa ‘Azza :</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَلا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ</p>
<p>“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”</p>
<p>13. Membayar Kaffarah.</p>
<p>*     Kaffarah adalah denda yang dikenakan atas seseorang dengan tiga syarat pelanggaran:</p>
<p>    * Melakukan hubungan suami istri.<br />
    * Melakukannya di siang hari Ramadhan.</p>
<p>Adapun jika ia melakukannya di malam hari atau di luar bulan Ramadhan, seperti pada saat ia membayar tunggakan puasa Ramadhannya, maka tidaklah dikenakan atasnya kaffarah.</p>
<p>    * Dalam keadaan berpuasa.</p>
<p>Adapun jika ia melakukan di bulan Ramadhan dan ia dalam keadaan tidak berpuasa seperti seorang yang kembali dari perjalanan dalam keadaan tidak berpuasa lalu mendapati istrinya usai mandi suci dari haidh kemudian keduanya melakukan hubungan maka keadaan seperti ini tidak dikenakan kaffarah.</p>
<p>*     Dan menurut pendapat yang paling kuat dikalangan para ulama bahwa dikenakan kaffarah atas sang istri jika ia mengaja atau taat pada suaminya dengan kemauannya sendiri untuk melakukan hubungan intim.</p>
<p>*     Seseorang membayar kaffarah adalah dengan memilih salah satu dari tiga jenis kaffarah berikut ini secara berurut sesuai kemampuannya :</p>
<p>   1. Membebaskan budak. Tidak ada perbedaaan antara budak kafir dengan budak muslim menurut pendapat yang paling kuat.<br />
   2. Berpuasa dua bulan berturut-turut tanpa terputus. Dan jumhur ulama mensyaratkan agar dua bulan ini jangan terputus dengan bulan Ramadhan dan hari-hari yang terlarang berpuasa padanya yaitu hari ‘Idul Fitri, ‘Idul Adha dan hari-hari tasyriq. Dan apabila ia berpuasa kurang dari dua bulan maka belumlah dianggap membayar kaffarah.<br />
   3. Memberi makan 60 orang miskin dengan sesuatu yang dianggap makanan dalam kebiasaan kebanyakan manusia. Kadar makanan untuk setiap orang miskin sebanyak satu mud yaitu sebanyak dua telapak tangan orang biasa.</p>
<p>*     Tidak syah membayar kaffarah dengan selain dari tiga jenis di atas.</p>
<p>*     Apabila tidak ada kemampuan untuk membayar dari salah satu dari tiga jenis di atas maka kewajiban membayar kaffarah tersebut tetap berada di atas pundaknya sampai ia mempunyai kemampuan untuk membayarnya.</p>
<p>Seluruh keterangan di atas dipetik dari makna yang tersurat maupun tersirat dari kandungan hadits Abu Hurairah riwayat Al-Bukhary dan Muslim :</p>
<p>جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ هَلَكْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ, قَالَ وَمَا أَهْلَكَكَ ؟ قَالَ : وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِيْ فِيْ رَمَضَانَ (وَأَنَا صَائِمٌ) قَالَ هَلْ تَجِدُ مَا تُعْتِقُ رَقَبَةً قَالَ لَا قَالَ فَهَلْ تَسْتَطِيْعُ أَنْ تَصُوْمَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ قَالَ لَا قَالَ فَهَلْ تَجِدُ مَا تُطْعِمُ سَتِّيْنَ مِسْكِيْنًا قَالَ لَا قَالَ ثُمَّ جَلَسَ فَأُتِيَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ بِعَرَقٍ فِيْهِ تَمْرٌ فَقَالَ تَصَدَّقْ بِهَاذَا قَالَ أَفْقَرُ مِنَّا ؟ فَمَا بَيْنَ لَابَتَيْهَا أَهْلُ بَيْتٍ أَحْوَجُ إِلَيْهِ مِنَّا فَضَحِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ أَنْيَابُهُ ثُمَّ قَالَ اذْهَبْ فَأَطْعِمْهُ أَهْلَكَ.</p>
<p>“Seorang lelaki datang kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam lalu berkata : “Saya telah binasa wahai Rasulullah, beliau berkata : “Apakah yang membuatmu binasa,? ia berkata : “Saya telah menggauli (hubungan intim dengan) istriku dalam (bulan) Ramadhan {padahal saya sedang berpuasa}[2].” Maka beliau bersabda : “Apakah engkau mampu membebaskan budak ?” , ia berkata : “Tidak.”, beliau bertanya : “Apakah kamu mampu berpuasa dua bulan berturut-turut ?”, ia berkata : “Tidak.”, beliau bertanya : “Apakah kamu mampu untuk memberi makan enam puluh orang miskin ?” ia berkata : “Tidak.” Lalu iapun duduk. Kemudian dibawakan kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam satu ‘araq (tempat yang sekurang-kurangnya dapat memuat 60 mud,-pent.) berisi korma, maka beliau berkata kepadanya : “Bershadaqahlah engkau dengan ini.”, ia berkata : “(Apakah) diberikan kepada orang lebih fakir dari kami?, tidak ada antara dua bukit Madinah keluarga yang lebih fakir dari kami.” Maka tertawalah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam hingga nampak gigi taring beliau kemudian beliau berkata : “Pergilah dan beri makan keluargamu dengannya.”</p>
<p>14. Beberapa Kesalahan Dalam Pelaksanaan Puasa Ramadhan.</p>
<p>*     Menentukan masuknya bulan Ramadhan dengan menggunakan ilmu falak atau ilmu hisab.</p>
<p>Hal ini tentunya merupakan kesalahan yang sangat besar dan bertolak belakang dengan Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam.</p>
<p>Allah ‘Azza wa Jalla menegaskan dalam surat Al-Baqaroh ayat 185 :</p>
<p>فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ</p>
<p>“Maka barangsiapa dari kalian yang menyaksikan bulan, hendaknya ia berpuasa.”</p>
<p>Dan juga dari hadits Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma riwayat Al-Bukhary dan Muslim dan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma riwayat Al-Bukhary dan Muslim, Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam :</p>
<p>صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمِّيَ عَلَيْكُمْ الشَّهْرُ فَعَدُّوْا ثَلَاثِيْنَ</p>
<p>“Berpuasalah kalian karena melihatnya dan berbukalah kalian karena melihatnya dan apabila bulan tertutup atas kalian maka sempurnakanlah tiga puluh.”</p>
<p>Dalam ayat dan hadits di atas sangatlah jelas menunjukkan bahwa masuknya Ramadhan terkait dengan melihat atau menyaksikan hilal dan tidak dikaitkan dengan menghitung, menghisab dan yang lainnya.</p>
<p>*     Mempercepat makan sahur</p>
<p>Hal ini tentunya bertentangan dengan sunnah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam yang beliau mengakhirkan sahurnya sebagaimana yang telah berlalu penjelasannya.</p>
<p>*     Menjadikan tanda imsak sebagai batasan waktu sahur</p>
<p>Sering terdengar di bulan Ramadhan tanda-tanda imsak seperti suara sirine, suara rekaman ayam berkokok, suara beduk dan lain-lainnya, yang diperdengarkan sekitar seperempat jam sebelum adzan. Tentunya hal ini merupakan kesalahan yang sangat besar dan bid’ah sesat lagi bertolak belakang dengan tuntunan Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam yang mulia.</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan dalam surah Al-Baqaroh ayat 187 :</p>
<p>وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ</p>
<p>“Dan makan dan minumlah kalian hingga nampak bagi kalian benang putih dari benang hitam yaitu fajar, kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.”</p>
<p>Dan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam menyatakan dalam hadits Abdullah bin ‘Umar riwayat Al-Bukhary dan Muslim :</p>
<p>إِنَّ بِلَالًا يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ فَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتَّى تَسْمَعُوْا تَأْذِيْنَ ابْنِ أُمِّ مَكْتُوْمٍ</p>
<p>“Sesungguhnya Bilal adzan pada malam hari, maka makan dan minumlah sampai kalian mendengar seruan adzan Ibnu Ummi Maktum.”</p>
<p>Ayat dan hadits di atas menunjukkan bahwa batasan dan akhir makan sahur adalah adzan kedua yaitu adzan untuk sholat subuh. Inilah seharusnya yang dipegang oleh kaum muslimin yaitu menjadikan waktu adzan subuh sebagai batasan terakhir makan sahur dan meninggalkan tanda imsak yang tidak pernah dikenal oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dan para sahabatnya.</p>
<p>*     Melafadzkan niat puasa ketika makan sahur</p>
<p>Dan in juga merupakan perkara yang salah karena waktu niat tidak dikhususkan pada makan sahur saja, bahkan bermula dari terbenamnya matahari sampai terbitnya fajar sebagaimana yang telah kami jelaskan. Dan melafadzkan niat juga perkara baru dalam agama ini yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dan para sahabatnya.</p>
<p>*     Meninggalkan berkumur dan menghirup air ketika berwudhu`</p>
<p>Ini juga merupakan kesalahan yang banyak terjadi di kalangan kaum muslimin. Mereka menganggap bahwa berkumur-kumur dan menghirup air merupakan pembatal puasa padahal berkumur-kumur dan menghirup air merupakan perkara yang disunnahkan dalam syari’at Islam sebagaimana yang telah dijelaskan.</p>
<p>*     Anggapan tidak bolehnya menelan ludah</p>
<p>Hal ini juga kadang kita dapati pada kaum muslimin sehingga kita kadang mendapati sebahagian kaum muslimin yang banyak meludah pada saat puasa. Tidakkah diragukan bahwa hal ini merupakan sikap berlebihan dan memberatkan diri tanpa dilandasi dengan tuntunan yang benar dalam syari’at Islam.</p>
<p>*     Mengakhirkan buka puasa</p>
<p>Ini juga kesalahan yang banyak terjadi di kalangan kaum muslimin padahal tuntunan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam sangatlah jelas akan sunnahnya mempercepat buka puasa sebagaimana yang telah kami jelaskan.</p>
<p>*     Menghabiskan waktu di bulan ramadhan untuk perkara yang sia-sia dan tidak bermanfaat.</p>
<p>*     Perasaan ragu mencicipi makanan, padahal hal tersebut adalah boleh sepanjang menjaga jangan sampai menelan makanan tersebut sebagaimana terdahulu keterangannya.</p>
<p>*     Menyibukkan diri dengan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga sehingga melalaikannya dari ibadah di bulan Ramadhan khususnya pada sepuluh hari terakhir.</p>
<p>*     Membayar fidyah sebelum meninggalkan puasanya. Seperti wanita hamil 6 bulan yang tidak akan berpuasa di bulan Ramadhan, lalu ia membayar fidyah untuk 30 hari sebelum Ramadhan atau di awal Ramadhan. Tentunya ini adalah perkara yang salah karena kewajiban membayar fidyah dibebankan atasnya apabila ia telah meninggalkan puasa.</p>
<p>Demikian tuntunan ringkas ini, mudah-mudahan bisa menjadi bekal untuk kita semua dalam menjalani ibadah puasa Ramadhan yang agung dan mulia. Wallahu Ta’ala A’lam</p>
<p>[1] Demikian pendapat yang dahulu kami anggap kuat . Kemudian belakangan ini kami memandang bahwa pendapat yang kuat adalah tidak bisa di-qodho`. Uraiannya insya Allah akan kami tulis dalam rangkaian buku khusus berkaitan dengan tuntunan lengkap dan mendetail seputar puasa.  Wallahul Muwaffiq.</p>
<p>[2] Tambahan dalam riwayat Al-Bukhary.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anakampah.wordpress.com/377/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anakampah.wordpress.com/377/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anakampah.wordpress.com/377/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anakampah.wordpress.com/377/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/anakampah.wordpress.com/377/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/anakampah.wordpress.com/377/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/anakampah.wordpress.com/377/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/anakampah.wordpress.com/377/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anakampah.wordpress.com/377/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anakampah.wordpress.com/377/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anakampah.wordpress.com/377/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anakampah.wordpress.com/377/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anakampah.wordpress.com/377/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anakampah.wordpress.com/377/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anakampah.wordpress.com&amp;blog=6274777&amp;post=377&amp;subd=anakampah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anakampah.wordpress.com/2011/07/24/panduan-puasa-ramadhan-di-bawah-naungan-al-quran-dan-as-sunnah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">agungsuparjono</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dimana Tempat Meletakkan Kedua Tangan Saat Berdiri Shalat ?</title>
		<link>http://anakampah.wordpress.com/2010/04/01/dimana-tempat-meletakkan-kedua-tangan-saat-berdiri-shalat/</link>
		<comments>http://anakampah.wordpress.com/2010/04/01/dimana-tempat-meletakkan-kedua-tangan-saat-berdiri-shalat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Apr 2010 15:26:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agung Suparjono</dc:creator>
				<category><![CDATA[FATWA]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kajian]]></category>
		<category><![CDATA[nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[sholat]]></category>
		<category><![CDATA[sifat sholat]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anakampah.wordpress.com/?p=369</guid>
		<description><![CDATA[PERTANYAAN Dalam praktik shalat, ketika berdiri, ada sebagian orang yang meletakkan kedua tangannya di atas dada, pusar, dan lain-lain. Bagaimanakah tuntunan yang sebenarnya dalam masalah ini? JAWABAN Telah tetap tuntunan Rasulullah shallal lahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, dalam hadits-hadits yang sangat banyak, bahwa pada saat berdiri dalam shalat, tangan kanan diletakkan di atas tangan kiri, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anakampah.wordpress.com&amp;blog=6274777&amp;post=369&amp;subd=anakampah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PERTANYAAN</strong></p>
<p>Dalam praktik shalat, ketika berdiri, ada sebagian orang yang meletakkan kedua tangannya di atas dada, pusar, dan lain-lain. Bagaimanakah tuntunan yang sebenarnya dalam masalah ini?</p>
<p><strong>JAWABAN</strong></p>
<p>Telah tetap tuntunan Rasulullah <em>shallal lahu ‘alaihi wa alihi wa sallam</em>, dalam hadits-hadits yang sangat banyak, bahwa pada saat berdiri dalam shalat, tangan kanan diletakkan di atas tangan kiri, dan ini merupakan pendapat jumhur tabi’in dan kebanyakan ahli fiqih, bahkan Imam At-Tirmidzy berkata, “Dan amalan di atas ini adalah amalan di kalangan ulama dari para shahabat, tabi’in, dan orang-orang setelah mereka ….” Lihat <strong><em>Sunan</em></strong> -nya 2/32.</p>
<p>Akan tetapi, ada perbedaan pendapat tentang tempat meletakkan kedua tangan (posisi ketika tangan kanan di atas tangan kiri) ini di kalangan ulama, dan inilah yang menjadi pembahasan untuk menjawab pertanyaan di atas.</p>
<p>Berikut ini pendapat para ulama dalam masalah ini, diringkas dari buku <strong><em>La Jadida Fi Ahkam Ash-Shalah</em></strong><strong></strong> karya Syaikh Bakr bin ‘Abdillah Abu Zaid<span id="more-369"></span></p>
<p><strong>Pendapat Pertama</strong> , kedua tangan diletakkan pada <em>an-nahr.</em><em>An-nahr</em> adalah anggota badan antara di atas dada dan di bawah leher. Seekor onta yang akan disembelih, maka disembelih pada <em>nahr</em>-nya dengan cara ditusuk dengan ujung pisau. Itulah sebabnya hari ke-10 Dzulhijjah, yaitu hari raya ‘Idul Adha (Qurban), disebut juga <em>yaumun nahr </em>-hari<em>An-Nahr</em> (hari penyembelihan)-.<strong></strong></p>
<p><strong>Pendapat Kedua</strong> , kedua tangan diletakkan di atas dada. Ini adalah pendapat Al-Imam Asy-Syafi’iy pada salah satu riwayat darinya, pendapat yang dipilih oleh Ibnul Qayyim Al-Jauzy dan Asy-Syaukany, serta merupakan amalan Ishaq bin Rahawaih. Pendapat ini dikuatkan oleh Syaikh Al-Albany dalam kitab <strong><em>Ahkamul Jana`</em></strong><strong><em> iz</em></strong><strong></strong> dan <strong><em>Sifat Shalat</em></strong><strong></strong><strong><em> Nabi</em></strong> .<strong></strong></p>
<p><strong>Pendapat Ketiga</strong> ,<strong></strong>kedua tangan diletakkan di antara dada dan pusar (lambung/perut). Pendapat ini adalah sebuah riwayat pada madzhab Malik, Asy-Syafi’i dan Ahmad, sebagaimana disebutkan oleh Al-Imam Asy-Syaukany dalam <strong><em>Nailul Authar</em></strong> . Pendapat ini dikuatkan oleh Al-Imam Nawawy dalam Madzhab Asy-Syafi’i, dan merupakan pendapat Sa’id bin Jubair dan Daud Azh-Zhahiry sebagaimana disebutkan oleh Al-Imam An-Nawawy dalam <strong><em>Al-Majmu’</em></strong><strong></strong> (3/313).<strong></strong></p>
<p><strong>Pendapat Keempat</strong> , kedua tangan diletakkan di atas pusar. Pendapat ini merupakan salah satu riwayat dari Imam Ahmad dan dinukil dari Ali bin Abi Thalib dan Sa’id bin Jubair.<strong></strong></p>
<p><strong>Pendapat Kelima</strong> ,<strong></strong>kedua tangan diletakkan di bawah pusar. Ini adalah pendapat madzhab Al-Hanafiyah bagi laki-laki, Asy-Syafi’iy dalam sebuah riwayat, Ahmad, Ats-Tsaury dan Ishaq<strong></strong></p>
<p><strong>Pendapat Keenam</strong> ,<strong></strong>kedua tangan bebas diletakkan dimana saja: di atas pusar, di bawahnya, atau di atas dada.<strong></strong></p>
<p>Imam Ahmad ditanya, “Dimana seseorang meletakkan tangannya apabila ia shalat?” Beliau menjawab, “Di atas atau di bawah pusar.” Semua itu ada keluasan menurut Imam Ahmad diletakkan di atas pusar, sebelumnya atau di bawahnya. Lihat <strong><em>Bada`i’ul Fawa`id</em></strong><strong></strong>3/91 karya Ibnul Qayyim.</p>
<p>Berkata Imam Ibnul Mundzir sebagaimana dalam <strong><em>Nailul</em></strong><strong><em>Authar</em></strong> , “Tidak ada sesuatu pun yang <em>tsabit</em> (baca: shahih) dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam</em>, maka ia diberi pilihan.” Perkataan ini serupa dengan perkataan Ibnul Qayyim sebagaimana yang dinukil dalam <strong><em>Hasyiah Ar-Raudh Al-Murbi’</em></strong><strong></strong> (2/21).</p>
<p>Pendapat ini merupakan pendapat para ulama di kalangan shahabat, tabi’in dan setelahnya. Demikian dinukil oleh Imam At-Tirmidzy.</p>
<p>Ibnu Qasim, dalam <strong><em>Hasyiah Ar-Raudh Al-Murbi’</em></strong><strong></strong> (2/21), menisbahkan pendapat ini kepada Imam Malik.</p>
<p>Pendapat ini yang dikuatkan oleh Syaikh Al-‘Allamah Al-Muhaddits Muqbil bin Hady Al-Wadi’iy <em>rahimahullah</em> karena tidak ada hadits yang shahih tentang penempatan kedua tangan saat berdiri melaksanakan shalat.</p>
<p><strong>Dalil-Dalil Setiap Pendapat dan Pembahasannya</strong></p>
<p><strong>Dalil Pendapat Pertama</strong></p>
<p>Dalil yang dipakai oleh pendapat ini adalah atsar yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas<em>radhiyallahu ‘anhu</em> tentang tafsir firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p><em>“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan berqurbanlah.”</em> [<strong> Al-Kautsar: 2</strong> ]</p>
<p>Beliau berkata (menafsirkan ayat di atas -pent.),</p>
<p><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman', Times, serif;">وَضْعُ الْيَمِيْنِ عَلَى الشِّمَالِ فِي الصَّلاَةِ عِنْدَ النَّحْرِ</span></span></p>
<p><em>“Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dalam shalat pada </em>an-nahr<em>.”</em> (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqy 2/31)</p>
<p><strong>Pembahasan</strong></p>
<p>Riwayat ini lemah karena pada sanadnya terdapat Ruh bin Al-Musayyab Al-Kalby Al-Bashry yang dikatakan oleh Ibnu Hibban bahwa ia meriwayatkan hadits-hadits palsu dan tidak halal meriwayatkan hadits darinya. Lihat <strong><em>Al-Jauhar An-Naqy</em></strong> .</p>
<p><strong>Dalil Pendapat Kedua</strong></p>
<p><strong>Dalil pertama</strong> , hadits Qabishah bin Hulb Ath-Tha’iy dari bapaknya, Hulb <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, dia berkata,</p>
<p><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman', Times, serif;">رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَسَلَّمَ يَضَعُ هَذِهِ عَلَى هَذِهِ عَلَى صَدْرِهِ وَوَصَفَ يَحْيَى الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى فَوْقَ الْمِفْصَلِ</span></span></p>
<p><em>“Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam meletakkan ini di atas ini, di atas dadanya -dan yahya (salah seorang perawi -pent.) mencontohkan tangan kanan di atas pergelangan tangan kiri-.”</em></p>
<p><strong>Pembahasan</strong></p>
<p>Hadits ini dikeluarkan oleh Al-Imam Ahmad dalam <strong><em>Musnad</em></strong> -nya (5/226) dan Ibnul Jauzy dalam <strong><em>At-Tahqiq</em></strong><strong></strong> no. 434 (dan lafazh hadits baginya) dari jalan Yahya bin Sa’id Al-Qaththan, dari Sufyan Ats-Tsaury, dari Simak bin Harb, dari Qabishah bin Hulb.</p>
<p>Hadits ini diriwayatkan dari Hulb Ath-Tha’iy oleh anaknya, Qabishah, dan dari Qabishah hanya diriwayatkan oleh Simak bin Harb. Selanjutnya, dari Simak bin Harb diriwayatkan oleh 6 orang, yaitu:</p>
<ol>
<li>Sufyan Ats-Tsaury, akan disebutkan takhrijnya.</li>
<li>Abul Ahwash, diriwayatkan oleh At-Tirmidzy no. 252, Ibnu Majah no. 809, Ahmad 5/227, ‘Abdullah bin Ahmad dalam <strong><em>Zawa`id Al-Musnad</em></strong><strong></strong> 5/227, Ath-Thabarany 22/165/424, Al-Baghawy 3/31, dan Ibnul Jauzy dalam <strong><em>At-Tahqiq</em></strong> no. 435.</li>
<li>Syu’bah bin Al-Hajjaj, diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Ashim dalam <strong><em>Al-Ahad Wal Matsany</em></strong><strong></strong> no. 2495 dan Ath-Thabarany 22/163/416.</li>
<li>Syarik bin ‘Abdillah, diriwayatkan oleh Ahmad 5/226, Ibnu Abi ‘Ashim dalam <strong><em>Al-Ahad Wal Matsany</em></strong><strong></strong> no. 2493, Ibnu Qani’ dalam <strong><em>Mu’jam Ash-Shahabah</em></strong><strong></strong> 3/198, Ath-Thabarany 22/16/426, dan Ibnu ‘Abdil Barr dalam <strong><em>At-Tamhid</em></strong><strong></strong> 20/73.</li>
<li>Asbath bin Nashr, diriwayatkan oleh Ath-Thabarany 22/165/422.</li>
<li>Hafsh bin Jami’, diriwayatkan oleh Ath-Thabarany 22/165/423.</li>
<li>Za`idah bin Qudamah, diriwayatkan oleh Ibnu Qani’ dalam <strong><em>Mu’jam Ash-Shahabah</em></strong><strong></strong> 3/198.</li>
</ol>
<p>Dari ketujuh orang ini, tidak ada yang meriwayatkan lafazh “<em>Meletakkan ini atas yang ini, di atas dadanya</em>”, kecuali riwayat Yahya bin Sa’id Al-Qaththan dari Sufyan Ats-Tsaury, yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad 5/226 dan Ibnul Jauzy dalam <strong><em>At-Tahqiq</em></strong><strong></strong> no. 434.<strong></strong></p>
<p>Kemudian, Yahya bin Sa’id Al-Qaththan bersendirian dalam meriwayatkan lafazh tersebut dan menyelisihi 5 rawi <em>tsiqah</em> lainnya dari Sufyan Ats-Tsaury, yang kelima orang tersebut meriwayatkan hadits ini tanpa tambahan lafazh “<em>Meletakkannya di atas dada</em>”. Kelima rawi tersebut adalah:</p>
<ol>
<li>Waki’ bin Jarrah, diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 1/342/3934, Ahmad 5/226, 227, Ibnu Abi ‘Ashim no. 2494, Ad-Daraquthny 1/285, Al-Baihaqy 2/29, Al-Baghawy 3/32, dan Ibnu ‘Abdil Barr dalam <strong><em>At-Tamhid</em></strong><strong></strong> 20/74.</li>
</ol>
<ul>
<li>‘Abdurrahman bin Mahdy, diriwayatkan oleh Ad-Daraquthny 1/285.</li>
<li>‘Abdurrazzaq dalam <strong><em>Al-Mushannaf</em></strong><strong></strong> 2/240/3207 dan dari jalannya Ath-Thabarany 22/163/415</li>
<li>Muhammad bin Katsir, diriwayatkan oleh Ath-Thabarany 22/165/421.</li>
<li>Al-Husain bin Hafsh, diriwayatkan oleh Al-Baihaqy 2/295.</li>
</ul>
<p>Hadits Qabishah adalah hadits yang hasan dari seluruh jalan-jalannya. Dihasankan oleh At-Tirmidzy 2/32 dan diakui kehasanannya oleh An-Nawawy dalam <strong><em>Al-Majmu’</em></strong><strong></strong> 2/312.</p>
<p>Penyebab hasannya adalah Qabishah bin Hulb, meskipun mendapatkan <em>tautsiq</em> dari sebagian ulama, tidak ada yang meriwayatkan darinya kecuali Simak bin Harb. Berkata Ibnu Hajar di dalam <em>At-Taqrib</em>, “<em>Maqbul</em>,” yang artinya riwayatnya bisa diterima kalau ada pendukungnya, kalau tidak ada maka riwayatnya lemah.</p>
<p>Riwayat yang hasan tersebut adalah tanpa tambahan lafazh “Meletakkan tangannya di atas dada”.</p>
<p>Jadi jelaslah, bahwa Yahya bin Sa’id bersendirian dalam meriwayatkan lafazh “<em>meletakkan ini atas yang ini, di atas dadanya</em>”, dan menyelisihi 6 orang lainnya dari Sufyan Ats-Tsaury, dan menyelisihi <em>Ashab</em> (baca: murid-murid) Simak bin Harb yang lain, seperti Za`idah bin Qudamah, Syu’bah, Abul Ahwash, Asbath bin Nashr, Syarik bin ‘Abdillah, dan Hafsh bin Jami’. Maka jelaslah bahwa terdapat kesalahan pada riwayat tersebut, sehingga dihukumi sebagai riwayat yang <em>syadz </em>‘ganjil’ atau <em>mudraj</em>, tetapi kami tidak bisa menentukan dari mana asal dan kepada siapa ditumpukan kesalahan ini.<em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p><strong>Dalil kedua</strong> , Hadits Wa`il bin Hujr <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, dia berkata,</p>
<p><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman', Times, serif;">صَلَّيْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى يَدِهِ الْيُسْرَى عَلَى صَدْرِهِ</span></span></p>
<p><em>“Saya shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya di atas dadanya.”</em></p>
<p><strong>Pembahasan</strong></p>
<p>Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ibnu Khuzaimah dalam <strong><em>Shahih</em></strong> -nya 1/243 no. 479 dari jalan Abu Musa (Al-‘Anazy), dari Mu`ammal (bin Isma’il), dari Sufyan Ats-Tsaury, dari ‘Ashim bin Kulaib, dari bapaknya, dari Wa`il bin Hujr <em>radhiyallahu ‘anhu</em>.</p>
<p>Riwayat ini adalah riwayat yang <em>syadz</em> atau <em>mungkar </em>karena Mu`ammal bin Isma’il meriwayatkannya dengan tambahan lafazh “<em>di atas dada</em>”, dan dia menyelisihi 2 orang selainnya yang meriwayatkan dari Sufyan, yaitu:</p>
<ol>
<li>‘Abdullah bin Al-Walid (diriwayatkan oleh Imam Ahmad 4/318).</li>
<li>Muhammad bin Yusuf Al-Firiyaby (<strong><em> Al-Mu’jamul Kabir</em></strong> /Ath-Thabarany no. 78).</li>
</ol>
<p>Juga meyelisihi 10 orang yang meriwayatkan dari ‘Ashim bin Kulaib. Kesepuluh orang tersebut adalah:</p>
<ol>
<li>Bisyr bin Al-Mufadhdhal, diriwayatkan oleh Imam Abu Daud 1/456 no. 726, 1/578 no. 957 dari jalan Musaddad, darinya (Bisyr bin Al-Mufadhdhal), dan An-Nasa`i 3/35 hadits no. 1265 dari jalan Isma’il bin Mas’ud, darinya.</li>
<li>‘Abdullah bin Idris, diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam <strong><em>Shahih</em></strong> -nya (<strong><em> Al-Ihsan</em></strong><strong></strong>3/308/hadits no. 1936) dari jalan Muhammad bin ‘Umar bin Yusuf, dari Sallam bin Junadah, darinya (‘Abdullah bin Idris).</li>
<li>‘Abdul Wahid bin Ziyad, diriwayatkan oleh Ahmad 4/316 dari jalan Yunus bin Muhammad, darinya, Al-Baihaqy 2/72 dari jalan Abul Hasan ‘Ali bin Ahmad bin ‘Abdan, dari Ahmad bin ‘Ubeid Ash-Shaffar, dari ‘Utsman bin ‘Umar Adh-Dhabby, dari Musaddad, darinya.</li>
<li>Zuhair bin Mu’awiyah, diriwayatkan oleh Ahmad 4/318 dari jalan Aswad bin ‘Amir, darinya, dan Ath-Thabarany dalam <strong><em>Al-Mu’jamul Kabir</em></strong><strong></strong> 22/26/84 dari jalan ‘Ali bin ‘Abdul ‘Aziz, dari Abu Ghassan Malik bin Isma’il, darinya.</li>
<li>Khalid bin Abdullah Ath-Thahhan, diriwayatkan oleh Al Baihaqy 2/131 dari 2 jalan, yaitu dari jalan Abu Sa’id Muhammad bin Ya’qub Ats-Tsaqafy, dari Muhammad bin Ayyub, dari Musaddad, darinya, dan dari jalan Abu ‘Abdillah Al-Hafizh, dari ‘Ali bin Himsyadz, dari Muhammad bin Ayyub, dan seterusnya seperti jalan di atas.</li>
<li>Sallam bin Sulaim Abul Ahwash, diriwayatkan oleh Abu Daud Ath-Thayalisy di dalam <strong><em>Musnad</em></strong> -nya hal 137/hadits 1060 darinya, dan Ath-Thabarany (<strong><em> Al-Mu’jamul Kabir</em></strong><strong></strong> 22/34/80) dari jalan Al-Miqdam bin Daud, dari Asad bin Musa, darinya.</li>
<li>Abu ‘Awanah, diriwayatkan oleh Ath-Thabarany dalam <strong><em>Al-Mu’jamul Kabir</em></strong><strong></strong> 22/34/90 dari 2 jalan: dari jalan ‘Ali bin ‘Abdil ‘Aziz, dari Hajjaj bin Minhal, darinya, dan dari jalan Al-Miqdam bin Daud, dari Asad bin Musa, darinya.</li>
<li>Qais Ar-Rabi’, diriwayatkan oleh Ath-Thabarany dalam <strong><em>Al-Mu’jamul Kabir</em></strong><strong></strong>22/34/79 dari jalan Al-Miqdam bin Daud, dari Asad bin Musa, darinya.</li>
<li>Ghailan bin Jami’, diriwayatkan oleh Ath-Thabarany 22/34/88 dari jalan Al-Hasan bin ‘Alil Al-‘Anazy dan Muhammad bin Yahya bin Mandah Al-Ashbahany dari Abu Kuraib, dari Yahya bin Ya’la, dari ayahnya, darinya.</li>
<li>Zaidah bin Qudamah, diriwayatkan oleh Ahmad 4/318 dari jalan ‘Abdushshamad, darinya.</li>
</ol>
<p>Mu`ammal bin Isma’il sendiri adalah rawi yang dicela hafalannya. Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar, dalam <strong><em>Taqribut Tahdzib</em></strong> ,<strong></strong>memberikan kesimpulan, “<em>Shaduqun Sayyi`ul Hifzh</em>,” sementara dia sendiri telah menyelisihi ‘Abdul Wahid dan Muhammad bin Yusuf Al-Firiyaby pada periwayatannya dari Sufyan Ats-Tsaury, serta menyelisihi 10 orang rawi dari ‘Ashim bin Kulaib lainnya yang sebagian besarnya adalah <em>tsiqah</em> dan semuanya tidak ada yang meriwayatkan lafazh “<em>pada dadanya</em>”.</p>
<p>Ada jalan lain bagi hadits Wa`il bin Hujr ini, yaitu diriwayatkan oleh Al-Baihaqy 2/30 dari jalan Muhammad bin Hujr Al-Hadhramy, dari Sa’id bin ‘Abdil Jabbar bin Wa`il, dari ayahnya, dari ibunya, dari Wa`il bin Hujr, tetapi terdapat beberapa kelemahan di dalamnya:</p>
<ul>
<li>Muhammad bin Hujr lemah haditsnya, bahkan Imam Adz-Dzahaby, dalam<strong><em>Mizanul I’tidal</em></strong> ,<strong></strong>mengatakan, “<em>Lahu manakir ‘meriwayatkan hadits-hadits mungkar’</em>.” Lihat juga <strong><em>Lisanul Mizan</em></strong> .</li>
<li>Sa’id bin ‘Abdul Jabbar, dalam <strong><em>At-Taqrib</em></strong> ,<strong></strong>disebutkan bahwa ia adalah rawi dha’if.</li>
<li>Ibu ‘Abdul Jabbar. Berkata Ibnu Turkumany dalam <strong><em>Al-Jauhar An-Naqy</em></strong> , “Saya tidak tahu keadaan dan namanya.”</li>
</ul>
<p><strong>Dalil ketiga</strong> , hadits Thawus bin Kaisan secara <em>mursal</em>, dia berkata,</p>
<p><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman', Times, serif;">كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَضَعُ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى يَدِهِ الْيُسْرَى ثُمَّ يَشُدُّ بَيْنَهُمَا عَلَى صَدْرِهِ وَهُوَ فِي الصَّلاَةِ</span></span></p>
<p><em>“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam beliau meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya kemudian mengeratkannya di atas dadanya,</em><em>dan beliau dalam keadaan shalat.”</em></p>
<p><strong>Pembahasan</strong></p>
<p>Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Daud di dalam kitabnya, <strong><em>As-Sunan</em></strong> , no. 759 dan dalam<strong><em>Al-Marasil</em></strong><strong></strong> hal. 85 dari jalan Abu Taubah, dari Al-Haitsam bin Humaid, dari Tsaur bin Zaid, dari Sulaiman bin Musa, dari Thawus. Sanadnya shahih kepada Thawus, tetapi haditsnya <em>mursal</em>, dan <em>mursal </em>adalah jenis hadits yang lemah.</p>
<p><strong>Dalil keempat</strong> , Hadits ‘Ali bin Abi Thalib tentang firman Allah <em>Ta’ala</em> ,</p>
<p><em>“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan berqurbanlah.”</em> [<strong> Al-Kautsar: 2</strong> ]</p>
<p>Beliau berkata,</p>
<p><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman', Times, serif;">وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى وَسَطِ سَاعِدِهِ الْيُسْرَى ثُمَّ وَضَعَهُمَا عَلَى صَدْرِهِ فِي الصَّلاَةِ</span></span></p>
<p><em>“Beliau meletakkan tangan kanannya di atas </em>sa’id <em>‘</em><em> setengah jarak pertama dari pergelangan ke siku</em><em> ’</em><em> tangan kirinya, kemudian meletakkan kedua tangannya di atas dadanya di dalam shalat.”</em></p>
<p>Atsar ini dikeluarkan oleh Ibnu Jarir dalam <strong><em>Tafsir</em></strong> -nya 30/326, Al-Bukhary dalam <strong><em>Tarikh</em></strong> -nya 3/2/437, dan Al-Baihaqy 2/30.</p>
<p><strong>Pembahasan</strong></p>
<p>Berkata Ibnu Katsir dalam <strong><em>Tafsir</em></strong> -nya, “(Atsar) ini, (yang) diriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib, tidak shahih (lemah-pent.).”</p>
<p>Berkata Ibnu Turkumany dalam <strong><em>Al-Jauhar An-Naqy</em></strong> , “Di dalam sanad dan matannya ada kegoncangan.”</p>
<p>Berikut rincian kelemahan dan kegoncangan atsar ini.</p>
<ol>
<li>Atsar ini telah diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Syaibah dalam <strong><em>Al-Mushannaf</em></strong><strong></strong>1/343, Ad-Daraquthny 1/285, Al-Hakim 2/586, Al-Baihaqy 2/29, Al-Maqdasy dalam<strong><em>Al-Mukhtarah</em></strong><strong></strong> no. 673, dan Al-Khatib dalam <strong><em>Mudhih Auham Al-Jama’ Wa At-Tafriq</em></strong><strong></strong> 2/340. Semuanya tidak ada yang menyebutkan kalimat “<em>di atas dada</em>”, bahkan dalam riwayat Ibnu ‘Abdil Barr, dalam <strong><em>At-Tamhid</em></strong> ,<strong></strong>disebutkan<strong></strong>dengan lafazh “<em>di bawah pusar</em>”. Lihat pula <strong><em>Al-Jarh Wat Ta’dil</em></strong><strong></strong> 6/313.</li>
<li>Perputaran atsar ini ada pada seorang rawi yang bernama ‘Ashim bin Al-‘Ujaj Al-Jahdary, yang dari biografinya bisa disimpulkan bahwa ia adalah seorang rawi yang <em>maqbul</em>. Baca <strong><em>Mizanul I’tidal</em></strong><strong></strong><strong></strong> dan <strong><em>Lisanul Mizan</em></strong> .</li>
<li>‘Ashim ini telah goncang dalam meriwayatkan hadits ini. Kadang dia meriwayatkan dari ‘Uqbah bin Zhahir, kadang dari ‘Uqbah bin Zhabyan, kadang dari ‘Uqbah bin Shahban, dan kadang dari ayahnya, dari ‘Uqbah bin Zhabyan. Baca <strong><em>‘</em></strong><strong><em> Ilal Ad-Daraquthny</em></strong><strong></strong> 4/98-99.</li>
</ol>
<p>Maka atsar ini adalah lemah. Ibnu Katsir juga menyebutkan dalam <strong><em>Tafsir</em></strong> -nya bahwa atsar ini menyelisihi jumhur mufassirin. <em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Seluruh hadits yang menunjukkan bahwa kedua tangan diletakkan pada dada ketika berdiri dalam shalat adalah lemah dari seluruh jalan-jalannya dan tidak bisa saling menguatkan. <em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p><strong>Dalil-Dalil Pendapat Ketiga, Keempat dan Kelima</strong></p>
<p>Dalil-dalil ketiga pendapat ini mungkin bisa kembali kepada dalil-dalil yang akan disebutkan, namun perbedaan dalam memetik hukum, memandang dalil, dan mengkompromikannya dengan dalil yang lain menyebabkan terlihatnya persilangan dari ketiga pendapat tersebut.</p>
<p>Berikut ini uraian dalil-dalilnya.</p>
<p><strong>Dalil pertama</strong> , dari ‘Ali <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, beliau berkata,</p>
<p><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman', Times, serif;">إِنَّ مِنَ السُّنَّةِ فِي الصَّلاَةِ وَضَعَ الْأَكُفِّ عَلَى الْأَكُفِّ تَحْتَ السُّرَّةِ</span></span></p>
<p><em>“Sesungguhnya termasuk Sunnah dalam shalat adalah meletakkan telapak tangan di atas telapak tangan di bawah pusar.”</em></p>
<p>Diriwayatkan oleh Ahmad 1/110, Abu Daud no. 756, Ibnu Abi Syaibah 1/343/3945, Ad-Daraquthny 1/286, Al-Maqdasy no. 771,772, dan Ibnu ‘Abdil Barr dalam <strong><em>At-Tamhid</em></strong><strong></strong> 20/77. Dalam sanadnya ada rawi yang bernama ‘Abdurrahman bin Ishak Al-Wasity yang para ulama telah sepakat untuk melemahkannya sebagaimana dalam <strong><em>Nashbur Rayah</em></strong><strong></strong> 1/314.</p>
<p><strong>Dalil kedua</strong> ,<strong></strong>dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, beliau berkata,</p>
<p><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman', Times, serif;">وَضْعُ الْكَفِّ عَلَى الْكَفِّ فِي الصَّلاَةِ تَحْتَ السُّرَّةِ مِنَ السُّنَّةِ</span></span></p>
<p><em>“Meletakkan telapak tangan di atas telapak tangan di bawah pusar di dalam shalat termasuk sunnah.”</em></p>
<p>Diriwayatkan oleh Abu Daud no. 758. Dalam sanadnya juga terdapat ‘Abdurrahman bin Ishak Al-Wasity.</p>
<p><strong>Dalil ketiga</strong> , dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, beliau berkata,</p>
<p><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:'Times New Roman', Times, serif;">مِنْ أَخْلاَقِ النُّبُوَّةِ وَضْعُ الْيَمِيْنِ عَلَى الشِّمَالِ تَحْتَ السُّرَّةِ</span></span></p>
<p><em>“Termasuk akhlak-akhlak kenabian, meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di bawah pusar.”</em></p>
<p>Ibnu Hazm menyebutkannya secara <em>mu’allaq</em> ‘tanpa sanad’ dalam <strong><em>Al-Muhalla</em></strong><strong></strong> 4/157.</p>
<p><strong>Kesimpulan Pembahasan</strong></p>
<p>Dari uraian di atas, nampak jelas bahwa seluruh hadits-hadits yang menerangkan tentang penempatan (posisi) kedua tangan pada anggota badan dalam shalat adalah hadits-hadits yang lemah. Dengan ini, bisa disimpulkan bahwa pendapat yang kuat dalam permasalahan ini adalah pendapat keenam, yaitu bisa diletakkan dimana saja: di dada, di pusar, di bawah pusar, atau antara dada dan pusar. <em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anakampah.wordpress.com/369/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anakampah.wordpress.com/369/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anakampah.wordpress.com/369/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anakampah.wordpress.com/369/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/anakampah.wordpress.com/369/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/anakampah.wordpress.com/369/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/anakampah.wordpress.com/369/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/anakampah.wordpress.com/369/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anakampah.wordpress.com/369/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anakampah.wordpress.com/369/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anakampah.wordpress.com/369/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anakampah.wordpress.com/369/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anakampah.wordpress.com/369/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anakampah.wordpress.com/369/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anakampah.wordpress.com&amp;blog=6274777&amp;post=369&amp;subd=anakampah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anakampah.wordpress.com/2010/04/01/dimana-tempat-meletakkan-kedua-tangan-saat-berdiri-shalat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">agungsuparjono</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Siapakah Tokoh Di Balik Radikalisme dan Terorisme? jawabannya adalah &#8220;sayyid Quthb&#8221;</title>
		<link>http://anakampah.wordpress.com/2010/03/30/siapakah-tokoh-di-balik-radikalisme-dan-terorisme-jawabannya-adalah-sayyid-quthb/</link>
		<comments>http://anakampah.wordpress.com/2010/03/30/siapakah-tokoh-di-balik-radikalisme-dan-terorisme-jawabannya-adalah-sayyid-quthb/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Mar 2010 09:37:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agung Suparjono</dc:creator>
				<category><![CDATA[FATWA]]></category>
		<category><![CDATA[all]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[jamaah islamiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[terorisme]]></category>
		<category><![CDATA[umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anakampah.wordpress.com/?p=367</guid>
		<description><![CDATA[Dunia internasional secara umum dan negeri-negeri Islam secara khusus, telah digegerkan oleh ulah segelintir orang yang menamakan dirinya sebagai pejuang kebenaran. Dahulu, banyak umat Islam yang merasa simpatik dengan ulah mereka, karena sasaran mereka adalah orang-orang kafir, sebagaimana yang terjadi di gedung WTC pada 11 September 2001. Akan tetapi, suatu hal yang sangat mengejutkan, ternyata [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anakampah.wordpress.com&amp;blog=6274777&amp;post=367&amp;subd=anakampah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><ins datetime="2010-03-30T09:31:29+00:00"><img class="alignleft" src="http://muslim.or.id/wp-content/uploads/2010/03/rsz_warm_1.jpg" alt="" width="200" height="150" /></ins></p>
<p style="text-align:justify;">Dunia internasional secara umum dan negeri-negeri Islam secara khusus, telah digegerkan oleh ulah segelintir orang yang menamakan dirinya sebagai pejuang kebenaran. Dahulu, banyak umat Islam yang merasa simpatik dengan ulah mereka, karena sasaran mereka adalah orang-orang kafir, sebagaimana yang terjadi di gedung WTC pada 11 September 2001. Akan tetapi, suatu hal yang sangat mengejutkan, ternyata sasaran pengeboman dan serangan tidak berhenti sampai di situ. Sasaran terus berkembang, sampai akhirnya umat Islam pun tidak luput darinya. Kasus yang paling aktual ialah yang menimpa Pangeran Muhammad bin Nayif Alus Sa’ûd, Wakil Menteri Dalam Negeri Kerajaan Saudi Arabia.</p>
<p style="text-align:justify;">Dahulu, banyak kalangan yang menuduh bahwa pemerintah Saudi berada di belakang gerakan tidak manusiawi ini. Mereka menuduh bahwa paham yang diajarkan di Saudi Arabia telah memotivasi para pemuda Islam untuk bersikap bengis seperti ini. Akan tetapi, yang mengherankan, tudingan ini masih juga di arahkan ke Saudi, walaupun telah terbukti bahwa pemerintah Saudi termasuk yang paling sering menjadi korbannya?<span id="more-367"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Melalui tulisan ini, saya mengajak saudara sekalian untuk menelusuri <strong>akar permasalahan sikap ekstrim dan bengis</strong> yang dilakukan oleh sebagian umat Islam ini. Benarkah ideologi ini bermuara dari Saudi Arabia?</p>
<p style="text-align:justify;">Harian “Ashsharqul-Ausat” edisi 8407 tanggal 4/12/2001 M – 19/9/1422 H menukil catatan harian<strong>Dr. Aiman al-Zawâhiri, tangan kanan Usâmah bin Lâdin</strong>. Di antara catatan harian Dr Aiman al-Zawâhiri yang dinukil oleh harian tersebut ialah:</p>
<p style="text-align:justify;">أَنَّ سَيِّدَ قُطُبٍ هُوَ الَّذِيْ وَضَعَ دُسْتُوْرَ التَّكْفِيْرِييِْنَ الْجِهَادِيِيْنَ) فِيْ كِتَابِهِ الدِّيْنَامِيْتِ مَعَالِمَ عَلَى الطَّرِيْقِ، وَأَنَّ فِكْرَ سَيِّدٍ هُوَ (وَحَدَهُ) مَصْدَرُ اْلأَحْيَاءِ اْلأُصُوْلِيْ، وَأَنَّ كِتَابَهُ الْعَدَالَةَ اْلاِجْتِمَاعِيَّةَ فِيْ اْلإِسْلاَمِ يُعَدُّ أَهَمَّ إِنْتَاجٍ عَقْلِيٍّ وَفِكْرِيٍّ لِلتَّيَّارَاتِ اْلأُصُوْلِيَّةِ، وَأَنْ فِكْرَ سَيِّدٍ كاَنَ شَرَارَةَ الْبَدْءِ فِيْ إِشْعَالِ الثَّوْرَةِ (الَّتِيْ وَصَفَهَا بِاْلإِسْلاَمِيَّةِ) ضِدَّ (مَنْ سَمَّاهُمْ) أَعْدَاءَ اْلإِسْلاَمِ فِيْ الدَّاخِلِ وَالْخَارِجِ، وَالَّتِيْ مَا زَالَتْ فَصُوْلُهَا الدَّامِيَةُ تَتَجَدَّدُ يَوْماً بَعْدَ يَوْمٍ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Sesungguhnya Sayyid Quthub dalam kitabnya yang <strong>bak bom waktu</strong> “Ma’âlim Fî At-Tharîq’ meletakkan undang-undang pengkafiran dan jihad. Gagasan-gagasan Sayyid Quthublah yang selama ini menjadi sumber bangkitnya pemikiran radikal. Sebagaima kitab beliau yang berjudul ” Al-’Adâlah Al-Ijtimâ’iyah fil Islâm” merupakan. Hasil pemikiran logis paling penting bagi lahirnya arus gerakan radikal. Gagasan-gagasan Sayyid Quthub merupakan percikan api pertama bagi berkobarnya revolusi yang ia sebut sebagai revolusi Islam melawan orang-orang yang disebutnya musuh-musuh Islam, baik di dalam atau di luar negeri. Suatu perlawanan berdarah yang dari hari ke hari terus berkembang.”<br />
</em><br />
Pengakuan Dr Aiman al-Zawâhiri ini selaras dengan pernyataan Menteri Dalam Negeri Saudi Arabia, Pangeran Nayif bin Abdul Azîz al-Sa`ûd. Pangeran Nayif menyatakan kepada Hariah “As-Siyâsah Al-Kuwaitiyah” pada tanggal 27 November 2002 M.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Tanpa ada keraguan sedikitpun, aku katakan bahwa sesungguhnya seluruh permasalahan dan gejolak yang terjadi di negeri kita bermula dari organisasi <strong>Ikhwânul Muslimîn</strong>. Sungguh, kami telah banyak bersabar menghadapi mereka walaupun sebenarnya bukan hanya kami yang telah banyak bersabar. Sesungguhnya mereka itulah penyebab berbagai masalah yang terjadi di dunia arab secara khusus dan bahkan meluas hingga ke seluruh dunia Islam. Organisasi Ikhwânul Muslimîn sungguh telah menghancurkan seluruh negeri Arab.”<br />
</em><br />
Lebih lanjut Pangeran Nayif menambahkan:<br />
<em>“Karena saya adalah pemangku jabatan terkait, maka saya rasa perlu menegaskan bahwa ketika para pemuka Ikhwânul Muslimin merasa terjepit dan ditindas di negeri asalnya (Mesir-pen), mereka mencari perlindungan dengan berhijrah ke Saudi, dan sayapun menerima mereka. Dengan demikian, -berkat karunia Allah Azza wa Jalla – mereka dapat mempertahankan hidup, kehormatan dan keluarga mereka. Sedangkan saudara-saudara kita para pemimpin negara sahabat dapat memaklumi sikap kami ini. Para pemimpin negara sahabat menduga bahwa para anggota Ikhwânul Muslimin tidak akan melanjutkan gerakannya dari Saudi Arabia. Setelah mereka tinggal di tengah-tengah kita selama beberapa tahun, akhirnya mereka butuh mata pencaharian. Dan kamipun membukakan lapangan pekerjaan untuk mereka. Dari mereka ada yang diterima sebagai tenaga pengajar, bahkan menjadi dekan sebagian fakultas. Kami berikan kesempatan kepada mereka untuk menjadi tenaga pengajar di sekolah dan perguruan tinggi kami. Akan tetapi, sangat disayangkan, mereka tidak melupakan hubungan mereka di masa lalu. Mulailah mereka memobilisasi masyarakat, membangun gerakan dan memusuhi Kerajaan Saudi.”<br />
</em><br />
Dan kepada harian Kuwait “Arab Times” pada hari Rabu, 18 Desember 2002 M, kembali pangeran Nayif berkata: <em>“Sesungguhnya mereka (Ikhwânul Muslimîn) mempolitisasi agama Islam guna mencapai kepentingan pribadi mereka.”</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em></em>Sekedar membuktikan akan kebenaran dari pengakuan Dr Aiman Al-Zawâhiri di atas, berikut saya nukilkan dua ucapan Sayyid Quthub:</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Nukilan 1</strong> :</p>
<p style="text-align:justify;">نَحْنُ نَدْعُوْ إِلَى اسْتِئْنَافِ حَيَاةٍ إِسْلاَمِيَّةٍ فِيْ مُجْتَمَعٍ إِسْلاَمِيٍّ تَحْكُمُهُ الْعَقِيْدَةُ اْلإِسْلاَمِيَّةُ وَالتَّصَوُّرُ اْلإِسْلاَمِيُّ كَمَا تَحْكُمُهُ الشَّرِيْعَةُ اْلإِسْلاَمِيَّةُ وَالنِّظَامُ اْلإِسْلاَمِيُّ. وَنَحْنُ نَعْلَمُ أَنَّ الْحَيَاةَ اْلإِسْلاَمِيَّةَ عَلَى هَذَا النَّحْوِ قَدْ تَوَقَّفَتْ مُنْذُ فَتْرَةٍ طَوِيْلَةٍ فِيْ جَمِيْعٍ ِلأَنْحَاءِ اْلأَرْضِ، وَإِنَّ وُجُوْدَ اْلإِسْلاَمِ ذَاتِهُ مِنْ ثَمَّ قُدْ تَوَقَّفَ كَذَالِكَ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Saya menyeru agar kita memulai kembali kehidupan yang islami di satu tatanan masyarakat yang islami. Satu masyarakat yang tunduk kepada akidah Islam, dan tashawur (pola pikir) yang islami pula. Sebagaimana masyarakat itu patuh kepada syari’at dan undang-undang yang Islami. Saya menyadari sepenuhnya bahwa kehidupan semacam ini telah tiada sejak jauh-jauh hari di seluruh belahan bumi. Bahkan agama Islam sendiri juga telah tiada sejak jauh-jauh hari pula.”</em> [Al 'Adâlah Al-Ijtimâ'iyah 182].</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Nukilan 2</strong> :</p>
<p style="text-align:justify;">وَحِيْنَ نَسْتَعْرِضُ وَجْهَ اْلأَرْضِ كُلَّهُ اْليَوْمَ عَلَى ضَوْءِ هَذا التَّقْرِيْرِ اِْلإلَهِيْ لِمَفْهُوْمِ الدِّيْنِ وَاْلإِسْلاَمِ، لاَ نَرَى لِهَذَا الدِّيْنِ وُجُوْدًا</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Dan bila sekarang kita mengamati seluruh belahan bumi berdasarkan penjelasan ilahi tentang pemahaman agama dan Islam ini, niscaya kita tidak temukan eksistensi dari agama ini.”</em> [Al- 'Adâlah Al-Ijtimâ'iyah hlm. 183].</p>
<p style="text-align:justify;">Saudaraku! sebagai seorang Muslim yang beriman, apa perasaan dan reaksi anda setelah membaca ucapan ini?</p>
<p style="text-align:justify;">Demikianlah, ideologi ekstrim yang diajarkan oleh Sayyid Quthub -<em>semoga Allah mengampuninya</em>- melalui bukunya yang oleh Dr Aiman Al-Zawâhiri disebut sebagai “Dinamit”. Pengkafiran seluruh lapisan masyarakat yang tidak bergabung ke dalam barisannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin karena belum merasa cukup dengan mengkafirkan masyarakat secara umum, Sayyid Quthub dalam bukunya “Fî Zhilâlil Qur’ân” ketika menafsirkan surat Yûnus ayat 87, ia menyebut masjid-masjid yang ada di masyarakat sebagai “<strong>Tempat peribadahan Jahiliyah</strong>“. Sayyid Quthub berkata:</p>
<p style="text-align:justify;">اعْتِزَالُ مَعَابِدِ الْجَاهِلِيَّةِ وَاتِّخَاذُ بُيُوْتِ الْعِصْبَةِ الْمُسْلِمَةِ مَسَاجِدَ. تُحِسُّ فِيْهَا بِاْلاِنْعِزَالِ عَنِ الْمُجْتَمَعِ الْجَاهِلِيِّ؛ وَتُزَاوِلُ فِيْهَا عِبَادَتَهَا لِربِّهَا عَلَى نَهْجٍ صَحِيْحٍ؛ وتُزَاوِلُ بِالْعِبَادَةِ ذَاتِهَا نَوْعاً مِنَ التَّنْظِيْمِ فِيْ جَوِّ الْعِبَادَةِ الطَّهُوْرِ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Bila umat Islam ditindas di suatu negeri, maka hendaknya mereka meninggalkan tempat-tempat peribadahan jahiliyah. Dan menjadikan rumah-rumah anggota kelompok yang tetap berpegang teguh dengan keislamannya sebagai masjid. Di dalamnya mereka dapat menjauhkan diri dari masyarakat jahiliyah. Di sana mereka juga menjalankan peribadahan kepada Rabbnya dengan cara-cara yang benar. Di waktu yang sama, dengan mengamalkan ibadah tersebut, mereka berlatih menjalankan semacam tanzhîm dalam nuansa ibadah yang suci.”<br />
</em><br />
Yang dimaksud “Ma`âbid Jâhiliyah”(tempat-tempat ibadah jahiliyah) adalah masjid-masjid kaum Muslimin yang ada. Bisa bayangkan! Para pemuda, yang biasanya memiliki idealisme tinggi dan semangat besar, lalu mendapatkan doktrin semacam ini, kira-kira apa yang akan mereka lakukan? Benar-benar Sayyid Quthub menanamkan ideologi teror pada akal pikiran para pengikutnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan sudah barang tentu, ia tidak berhenti pada penanaman ideologi semata. Ia juga melanjutkan doktrin terornya dalam wujud yang lebih nyata. Simaklah, bagaimana ia mencontohkan <strong>aplikasi nyata</strong> dari ideologi yang ia ajarkan:</p>
<p style="text-align:justify;">لِهَذِهِ اْلأَسْبَابِ مُجْتَمِعَةً فَكَّرْنَا فِيْ خِطَّةٍ وَوَسِيْلَةٍ تَرُدُّ اْلاِعْتَِدَاءَ .. وَالَّذِيْ قُلْتُهُ لَهُمْ لِيُفَكِّرُوْا فِيْ الْخِطَّةِ وَالْوَسِيْلَةِ بِاعْتِبَارِ أَنَّهُمْ هُمُ الَّذِيْنَ سَيَقُوْمُوْنَ بِهَا ِبِمَا فِيْ أَيْدِيْهِمْ مِنْ ِإمْكَانِيَاتٍ لاَ أَمْلِكُ أَنَا مَعْرِفَتَهَا بِالضَّبْطِ وَلاَ تَحْدِيْدَهَا…….. .. وَهَذِهِ اْلأَعْمَالُ هِيَ الرَّدُّ فَوْرَ وُقُوْعِ اعْتِقَالاَتٍ ِلأَعْضَاءِ التَّنْظِيْمِ بِإِزَالَةِ رُؤُوْسٍ فِيْ مَقْدَمَتِهَا رَئِيْسُ الْجُمْهُوْرِيَّةِ وَرَئِيْسُ الْوِزَارَةِ وَمُدِيْرُ مَكْتَبِ الْمُشِيْرِ وَمُدِيْرُ الْمُخَابِرَاتِ وَمُدِيْرُ اْلبُوْلِيْسِ الْحَرْبِيْ، ثُمَّ نَسْفٌ لِبَعْضِ الْمَنْشَآتِ الَّتِيْ تَشِلُ حَرَكَةً مَوَاصَلاَتِ الْقَاهِرَةِ لِضِمَانِ عَدَمِ تَتَبًّعِ بَقِيَّةِ اْلإِخْوَانِ فِيْهَا وَفِيْ خَارِجِهَا كَمَحَطَّةِ الْكَهْرَبَاءِ وَالْكِبَارِيْ،</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Menimbang berbagai faktor ini secara komprehensif, saya memikirkan suatu rencana dan cara untuk membalas perbuatan musuh. Aku pernah katakan kepada para anggota jama`ah: “Hendaknya mereka memikirkan suatu rencana dan cara, dengan mempertimbangkan bahwa mereka pulalah yang akan menjadi eksekutornya. Tentunya cara itu disesuaikan dengan potensi yang mereka miliki. Saya tidak tahu dengan pasti cara apa yang tepat bagi mereka dan saya juga tidak bisa menentukannya …… Tindakan kita ini sebagai balasan atas penangkapan langsung beberapa anggota organisasi Ikhwânul Muslimîn. Kita membalas dengan menyingkirkan pimpinan-pimpinan mereka, terutama presiden, perdana mentri, ketua dewan pertimbangan agung, kepala intelijen dan kepala kepolisian. Balasan juga dapat dilanjutkan dengan meledakkan mengebom berbagai infrastruktur yang dapat melumpuhkan transportasi kota Kairo. Semua itu bertujuan untuk memberikan perlindungan kepada anggota Ikhwânul Muslimîn di dalam dan luar kota Kairo. Serangan juga dapat diarahkan ke pusat pembangkit listrik dan jembatan layang.”</em> [Limâzâ A'adamûni oleh Sayyid Quthub hlm: 55]</p>
<p style="text-align:justify;">Pemaparan singkat ini menyingkap dengan jelas akar dan sumber pemikiran ekstrim yang melekat pada jiwa sebagian umat Islam di zaman ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Hanya saja, perlu diketahui bahwa menurut beberapa pengamat, gerakan Ikhwânul Muslimîn dalam upaya merealisasikan impian besarnya, telah terpecah menjadi tiga aliran:</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>1. Aliran Hasan al-Banna</strong><br />
Dalam mengembangkan jaringannya, Hasan al-Banna lebih mementingkan terbentuknya suatu jaringan sebesar-besarnya, tanpa perduli dengan perbedaan yang ada di antara mereka. Kelompok ini senantiasa mendengungkan slogan:</p>
<p style="text-align:justify;">نَجْتَمِعُ عَلَى مَا اتَّفَقْنَا عَلَيْهِ وَيَعْذِرُ بَعْضُنَا بَعْضًا فِيْمًا اخْتَلَفْنَا فِيْهِ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“kita bersatu dalam hal yang sama, dan saling toleransi dalam setiap perbedaan antara kita”.<br />
</em><br />
Tidak mengherankan bila para penganut ini siap bekerja sama dengan siapa saja, bahkan dengan non Muslim sekalipun, demi mewujudkan tujuannya. Prinsip-prinsip agama bagi mereka sering kali hanya sebatas pelaris dan pelicin agar gerakannya di terima oleh masyarakat luas. Tidak heran bila<strong>corak politis nampak kental ketimbang agamis</strong> pada kelompok penganut aliran ini. Karenanya, dalam perkumpulan dan pengajian mereka, permasalahan politik, strategi pergerakan dan tanzhîm sering menjadi tema utama pembahasan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>2. Aliran Sayyid Quthub</strong><br />
Setelah bergabungnya Sayyid Quthub ke dalam barisan Ikhwânul Muslimîn, terbentuklah aliran baru yang ekstrim pada tubuh Ikhwânul Muslimîn. Pemikiran dan corak pergerakannya lebih<strong>mendahulukan konfrontasi</strong>. Ia menjadikan pergerakan Ikhwânul Muslimîn terbelah menjadi dua aliran. Melalui berbagai tulisannya Sayyid Quthub menumpahkan ideologi ekstrimnya. Tanpa segan-segan ia mengkafirkan seluruh pemerintahan umat Islam yang ada, dan bahkan seluruh lapisan masyarakat yang tidak sejalan dengannya. Karenanya ia menjuluki masjid-masjid umat Islam di seluruh penjuru dunia sebagai “Tempat peribadatan jahiliyyah”.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan selanjutnya, tatkala pergerakannya mendapatkan reaksi keras dari penguasa Mesir di bawah pimpinan Jamal Abdun Nâsir, ia pun menyeru pengikutnya untuk mengadakan perlawanan dan pembalasan, sebagaimana diutarakan di atas.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3. Aliran Muhammad Surûr Zaenal Abidin</strong><br />
Setelah pergerakan Ikhwânul Muslimîn mengalami banyak tekanan di negeri mereka, yaitu Mesir, Suria, dan beberapa negeri Arab lainnya, mereka berusaha menyelamatkan diri. Negara yang paling kondusif untuk menyelamatkan diri dan menyambung hidup ketika itu ialah Kerajaan Saudi Arabia. Hal itu itu karena penguasa Kerajaan Saudi saat itu begitu menunjukkan solidaritas kepada mereka yang ditindas di negeri mereka sendiri. Lebih dari itu, pada saat itu kerajaan Saudi sedang kebanjiran pendapatan dari minyak buminya, mereka membuka berbagai lembaga pendidikan dalam berbagai jenjang, sehingga mereka kekurangan tenaga pengajar. Jadi, keduanya saling membutuhkan. Untuk itu, mereka diterima dengan dua tangan terbuka oleh otoritas Pemerintah Saudi Arabia. Selanjutnya, mereka pun dipekerjakan sebagai tenaga pengajar di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi di sana.</p>
<p style="text-align:justify;">Di sisi lain, Pemerintah Mesir, Suria dan lainnya merasa terbebaskan dari banyak pekerjaannya. Mereka tidak berkeberatan dengan sikap Pemerintah Saudi Arabia yang memberikan tempat kepada para pelarian Ikhwânul Muslimîn, sebagaimana ditegaskan oleh Pangeran Nayif bin Abdul Azîz di atas.</p>
<p style="text-align:justify;">Selama tinggal di Kerajaan Saudi Arabia inilah, beberapa tokoh gerakan Ikhwânul Muslimîn berusaha beradaptasi dengan paham yang diajarkan di sana. Sebagaimana kita ketahui, Ulama’-Ulama’ Saudi Arabia adalah para penerus dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhâb <em>rahimahullah</em> yang anti-pati dengan segala bentuk kesyirikan dan bid’ah. Sehingga, selama mengembangkan pergerakannya, tokoh-tokoh Ikhwânul Muslimîn turut menyuarakan hal yang sama. Hanya dengan cara inilah mereka bisa mendapatkan tempat di masyarakat setempat. Inilah faktor pembeda antara aliran ketiga dari aliran kedua, yaitu adanya sedikit perhatian terhadap tauhid dan sunnah. Walaupun pada tataran aplikasinya, masalah tauhid acap kali dikesampingkan dengan cara membuat istilah baru yang mereka sebut dengan <strong>tauhîd hakimiyyah</strong>.</p>
<p style="text-align:justify;">Istilah ini sebenarnya bukanlah baru, istilah ini tak lebih dari kamuflase para pengikut Sayyid Quthub untuk mengelabuhi pemuda-pemuda Saudi Arabia semata. Istilah ini mereka ambil dari doktrin Sayyid Quthub yang ia tuliskan dalam beberapa tulisannya. Berikut salah satu ucapannya yang menginspirasi mereka membuat istilah tauhîd hakimiyyah ini:</p>
<p style="text-align:justify;">تَقُوْمُ نَظَرِيَّةُ الْحُكْمِ فِي اْلإِسْلاَمِ عَلَى أَسَاسِ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَمَتَى تَقَرَّرَ أَنَّ اْلأُلُوْهِيَّةَ ِللهِ وَحْدَهُ بَهَذِهِ الشَّهَادَةِ، تَقَرَّرَ بِهَا أَنَّ الْحَاكِمِيَّةَ فِيْ حَيَاةِ الْبَشَرِ ِللهِ وَحْدَهُ. وَاللهُ سُبْحَانَهُ يَتَوَلَّى الْحَاكِمِيَّةَ فِيْ حَيَاةِ الْبَشَرِ عَنْ طَرِيْقٍ أَمَرَهُمْ بِمَشِيْئَتِه وَقَدْرِهِ مِنْ جَانِبٍ، وَعَنْ طَرِيْقِ تَنْظِيْمِ أَوْضَاعِهِمْ وَحَيَاتِهِمْ وَحُقُوْقِهِمْ وَوَاجِبَاتِهِمْ وَعَلاَقَاتِهِمْ وَارْتِبَاطَاتِهِمْ بِشَرِيْعَتِهِ وَمَنْهَجِهِ مِنْ جَانِبٍ آخَرَ…. وَبِنَاءً عَلَى هَذِهِ الْقَاعِدَةِ لاَ يُمْكِنُ أَنْ يَقُوْمَ اْلبَشَرُ بِوَضْعِ أَنْظِمَةِ الْحُكْمِ وَشَرَائِعِهِ وَقَوَانِيْنِهِ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ؛ ِلأَنَّ هَذَا مَعْنَاهُ رَفْضُ أُلُوْهِيَّةِ اللهِ وَادِّعَاءِ خَصَائِصِ اْلأُُلُوْهِيَّةِ فِيْ الْوَقْتِ ذَاتِهِ، وَهُوَ اْلكُفْرُ الصَّرَاحُ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Teori hukum dalam agama Islam dibangun di atas persaksian bahwa tiada ilâh yang behak diibadahi selain Allah. Dan bila dengan persaksian ini telah ditetapkan bahwa peribadatan hanya layak ditujukan kepada Allah semata, maka ditetapkan pula bahwa perundang-undangan dalam kehidupan umat manusia adalah hak Allah Azza wa Jalla semata. Dari satu sisi, hanya Allah Yang Maha Suci, yang mengatur kehidupan umat manusia dengan kehendak dan takdir-Nya. Dan dari sisi lain, Allah Azza wa Jalla jualah yang berhak mengatur keadaan, kehidupan, hak, kewajiban dan hubungan mereka, juga keterkaitan mereka dengan syari’at dan ajaran-ajaran-Nya…… Berdasarkan kaidah ini, manusia tidak dibenarkan untuk membuat undang-undang, syari’at, dan peraturan pemerintahan menurut gagasan diri-sendiri. Karena perbuatan ini artinya menolak sifat ulûhiyyah Allah Azza wa Jalla dan mengklaim bahwa pada dirinya terdapat sifat-sifat ulûhiyah. Dan sudah barang tentu ini adalah nyata-nyata perbuatan kafir.”</em> [Al 'Adâlah Al-Ijtimâ'iyah hlm. 80]</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika menafsirkan ayat 19 surat al An’âm, Sayyid Quthub lebih ekstrim dengan mengatakan:<em>“Sungguh, sejarah telah terulang, sebagaimana yang terjadi pada saat pertama kali agama Islam menyeru umat manusia kepada “lâ ilâha illallâhu”. Sungguh, saat ini umat manusia telah kembali menyembah sesama manusia, mengalami penindasan dari para pemuka agama, dan berpaling dari “lâ ilâha illallâhu”. Walaupun sebagian dari mereka masih tetap mengulang-ulang ucapan “lâ ilâha illallâhu”, akan tetapi tanpa memahami kandungannya. Ketika mereka mengulang-ulang syahadat itu, mereka tidak memaksudkan kandungannya. Mereka tidak menentang penyematan sebagian manusia sifat “al-hakimiyah” pada dirinya. Padahal “al-hakimiyah” adalah sinonim dengan “al- ulûhiyah “.<br />
</em><br />
Yang dimaksud oleh Sayyid Quthub dalam pernyataan di atas, antara lain adalah para muadzin yang selalu menyerukan kalimat syahadat. Anda bisa bayangkan, bila para muadzin di mata Sayyid Quthub demikian adanya, maka bagaimana halnya dengan selain mereka? Bila demikian cara Sayyid Quthub memandang para muadzin yang menjadi benteng terakhir bagi eksistensi agama Islam di masyarakat, maka kira-kira bagaimana pandangannya terhadap diri anda yang bukan muadzin?</p>
<p style="text-align:justify;">Kedudukan al-hakimiyyah; kewenangan untuk meletakkan syari’at dalam Islam, sebenarnya tidaklah seperti yang digambarkan oleh Sayyid Quthub sampai menyamai kedudukan ulûhiyyah . Al-Hakimiyah hanyalah bagian dari rubûbiyyah Allah Azza wa Jalla . Karenanya, setelah mengisahkan tentang penciptaan langit, bumi, serta pergantian siang dan malam, Allah Azza wa Jalla berfirman:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Rabb semesta alam. Berdoalah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”</em>. [al A'râf/7:54-55]</p>
<p style="text-align:justify;">Pada ayat 54, Allah Azza wa Jalla menegaskan bahwa mencipta dan memerintah yang merupakan kesatuan dari rubûbiyah adalah hak Allah Azza wa Jalla . Pada ayat selanjutnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan agar kita mengesakan-Nya dengan peribadatan yang diwujudkan dengan berdoa dengan rendah diri dan suara yang halus. Dengan demikian, tidak tepat bila al-hâkimiyah disejajarkan dengan ulûhiyah. Apalagi sampai dikesankan bahwa al-hakimiyah di zaman sekarang lebih penting dibanding al- ulûhiyah.</p>
<p style="text-align:justify;">Ucapan Sayyid Quthub semacam inilah yang mendasari para pengikutnya untuk lebih banyak mengurusi kekuasaan dan para penguasa dibanding urusan dakwah menuju tauhid dan upaya memerangi kesyirikan yang banyak terjadi di masyarakat. Karenanya, di antara upaya Kerajaan Saudi Arabia dalam menanggulangi ideologi sesat ini ialah dengan berupaya membersihkan pemikiran masyarakatnya dari doktrin-doktrin Sayyid Quthub yang terlanjur meracuni pemikiran sebagian mereka. Di antara terobosan yang menurut saya cukup bagus dan layak di tiru ialah:</p>
<p style="text-align:justify;">1. Menarik kitab-kitab yang mengajarkan ideologi ekstrim dari perpustakaan sekolah. Di antara kitab-kitab yang di tarik ialah kitab: Sayyid Quthub Al-Muftarâ ‘alaih dan kitab Al-Jihâd Fî Sabîlillâh</p>
<p style="text-align:justify;">2. Membentuk badan rehabitilasi yang beranggotakan para Ulama’ guna meluruskan pemahaman dan menetralisasi doktrin ekstrim yang terlanjur meracuni akal para pemuda. Terobosan kedua ini terbukti sangat efektif, dan berhasil menyadarkan ratusan pemuda yang telah teracuni oleh pemikiran ekstrim, sehingga mereka kembali menjadi anggota masyarakat yang sewajarnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengakhiri pemaparan ringkas ini, ada baiknya bila saya mengetengahkan pernyataan Pangeran Sa’ûd al-Faisal, Menteri Luar Negeri Kerajaan Saudi Arabia, pada pertemuan U.S.-Saudi Arabian Business Council (USSABC) yang berlangsung di kota New York, pada tanggal 26 April 2004. Pangeran Sa’ûd berkata: <em>“Menanggapi tuduhan-tuduhan ini, sudah sepantasnya bila anda mencermati fenomena jaringan <strong>al-Qaedah bersama pemimpinnya bin Lâdin</strong>. Walaupun ia terlahir di Saudi Arabia, akan tetapi ia mendapatkan ideologi dan pola pikirnya di Afganistan. Semuanya berkat pengaruh dari kelompok sempalan gerakan <strong>Ikhwânul Muslimîn</strong>. Saya yakin, hadirin semua telah mengenal gerakan ini. Fakta ini membuktikan bahwa Saudi Arabia dan seluruh masjid-masjidnya terbebas dari tuduhan sebagai sarang ideologi tersebut.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Dan kalaupun ada pihak yang tetap beranggapan bahwa Saudi Arabia bertanggung jawab atas kesalahan yang telah terjadi, maka sudah sepantasnya Amerika Serikat juga turut bertanggung jawab atas kesalahan yang sama. Dahulu kita bersama-sama mendukung perjuangan mujahidin dalam membebaskan Afganistan dari penjajahan Uni Soviet. Dan setelah Afganistan merdeka, kita membiarkan beberapa figur tetap bebas berkeliaran, sehingga mereka dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak jelas. Kita semua masih mengingat, bagaimana para mujahidin disambut dengan penuh hormat di Gedung Putih. Bahkan tokoh fiktif Rambo dikisahkan turut serta berjuang bersama-sama dengan para mujahidin.”</em> [Sumber situs resmi Kementerian Luar Negeri Kerajaan Saudi Arabia: http://www.mofa.gov.sa/Detail.asp?InNewsItemID=39825]</p>
<p style="text-align:justify;">Semoga pemaparan singkat ini dapat sedikit membuka sudut pandang baru bagi kita dalam menyikapi berbagai ideologi, sikap dan pergerakan ekstrim yang berkembang di tengah masyarakat kita. Salawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan Sahabatnya.</p>
<p style="text-align:justify;">[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10//Tahun XIII/1431H/2010M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]</p>
<p style="text-align:justify;">Judul asli: Siapa Sebenarnya Pembangkit Radikalisme dan Terorisme Modern Di Tengah Umat Islam</p>
<p style="text-align:justify;">Penulis: Al Ustadz Muhammad Arifin Baderi, MA</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anakampah.wordpress.com/367/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anakampah.wordpress.com/367/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anakampah.wordpress.com/367/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anakampah.wordpress.com/367/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/anakampah.wordpress.com/367/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/anakampah.wordpress.com/367/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/anakampah.wordpress.com/367/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/anakampah.wordpress.com/367/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anakampah.wordpress.com/367/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anakampah.wordpress.com/367/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anakampah.wordpress.com/367/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anakampah.wordpress.com/367/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anakampah.wordpress.com/367/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anakampah.wordpress.com/367/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anakampah.wordpress.com&amp;blog=6274777&amp;post=367&amp;subd=anakampah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anakampah.wordpress.com/2010/03/30/siapakah-tokoh-di-balik-radikalisme-dan-terorisme-jawabannya-adalah-sayyid-quthb/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">agungsuparjono</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://muslim.or.id/wp-content/uploads/2010/03/rsz_warm_1.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Pernyataan Terkini dari Asatidz tentang Ja&#8217;far Umar Thalib(28/02/2010)</title>
		<link>http://anakampah.wordpress.com/2010/03/19/pernyataan-terkini-dari-asatidz-tentang-jafar-umar-thalib28022010/</link>
		<comments>http://anakampah.wordpress.com/2010/03/19/pernyataan-terkini-dari-asatidz-tentang-jafar-umar-thalib28022010/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Mar 2010 04:00:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agung Suparjono</dc:creator>
				<category><![CDATA[FATWA]]></category>
		<category><![CDATA[all]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[ja'far umar thalib]]></category>
		<category><![CDATA[jut]]></category>
		<category><![CDATA[nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[pernyataan tentang jafar]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anakampah.wordpress.com/?p=365</guid>
		<description><![CDATA[NASEHAT DAN RENUNGAN UNTUK SEGENAP SALAFIYYIN DI INDONESIA Segala puji hanya milik Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya dan siapa saja yang berloyalitas kepadanya. Amma ba&#8217;du: Sesungguhnya dakwah Salafiyyah adalah dakwah yang berkah. Dan di antara nikmat Allah yang besar kepada kita adalah pemberian Allah kepada kita berupa taufiq-Nya untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anakampah.wordpress.com&amp;blog=6274777&amp;post=365&amp;subd=anakampah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>NASEHAT DAN RENUNGAN<br />
UNTUK SEGENAP SALAFIYYIN DI INDONESIA</p>
<p>Segala puji hanya milik Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya dan siapa saja yang berloyalitas kepadanya. Amma ba&#8217;du:</p>
<p>Sesungguhnya dakwah Salafiyyah adalah dakwah yang berkah. Dan di antara nikmat Allah yang besar kepada kita adalah pemberian Allah kepada kita berupa taufiq-Nya untuk menelusuri jalan dakwah ini, hingga kita berjalan di atasnya, di atas manhajnya. Dakwah ini telah mendapatkan sambutan masyarakat, baik di desa maupun di kota. Sungguh, semua itu terwujud dengan taufiq dari Allah dan hidayah-Nya, lalu dengan kuatnya hubungan antara pemeluk dakwah ini dengan para ulamanya, demikian pula dengan kesungguhan para da&#8217;i yang istiqamah di atas jalan dakwah ini. Semoga Allah membalas mereka dengan kebaikan.<br />
<span id="more-365"></span><br />
Sehingga dakwah ini menyatukan kata salafiyyin di penjuru-penjuru negeri. Terwujudlah saling bantu-membantu di antara mereka dalam hal kebaikan dan ketaqwaan, satu hal yang menyulut kemarahan para musuh dakwah. Dan bertambahlah kebaikan ini dengan berkesinambungannya daurah dan kunjungan para syaikh pada beberapa tahun terakhir ini. Maka, orang-orang pada umumnya dan salafiyyin pada khususnya, dapat mengambil manfaat dari bimbingan dan nasehat para ulama mereka. Semua itu semakin mengeratkan hubungan dan persaudaraan di antara salafiyyin.</p>
<p>Sungguh telah muncul suatu masalah yang mengkhawatirkan atas dakwah yang berkah ini, terpecahnya persatuan mereka dan terobek-robeknya barisan mereka. Sesuatu yang mengharuskan adanya peringatan dan nasehat. <strong>Masalah tersebut adalah apa yang diisukan perihal Al-Akh Ja&#8217;far bin Umar bin Tholib dan taubatnya, serta perbedaan menyikapinya. </strong></p>
<p>Kami, insya Allah, termasuk orang yang paling dekat dengannya, paling mengerti tentang keadaannya dan paling berharap akan taubatnya. Namun di sisi kami ada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah serta pengarahan para ulama, yang dengannya kami berjalan.</p>
<p>Maka dari itu, kami nasehatkan kepada segenap salafiyyin dan semua orang yang menjunjung tinggi dakwah salafiyyah dengan beberapa hal. Diantaranya adalah:</p>
<p>1. Bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala dan menjauhkan diri dari berbagai bentuk perpecahan serta segala sebab-sebabnya.</p>
<p>2. Tidak membuat keresahan dan kebingungan saudara-saudara kita dalam bentuk penyebaran SMS dan yang semisalnya, yang menimbulkan fitnah di antara mereka. Juga untuk selalu berhati-hati dari semua pihak yang ingin menggunakan kesempatan ini untuk memecah-belah barisan salafiyyin.</p>
<p>3. Membiarkan Al-Akh Ja&#8217;far pada keadaannya yang semula sebagaimana sikap kita sebelumnya berupa pemutusan hubungan apapun dengannya, sampai dia tampakkan taubatnya serta membaik taubatnya tersebut.</p>
<p>Hal ini sebagaimana difatwakan oleh syaikh-syaikh kita yang mulia,<br />
Ayahanda Asy-Syaikh yang mulia Rabi&#8217; bin Hadi Al-Madkhali,<br />
Ayahanda Asy-Syaikh yang mulia Ubaid Al-Jabiri dan<br />
Asy-Syaikh yang mulia Muhammad bin Hadi Al-Madkhali,<br />
serta yang selain mereka. Semoga Allah menjaga mereka semuanya.</p>
<p>Adapun yang terkait dengan masalah taubatnya, maka kami para da&#8217;i, para ustadz dan para penuntut ilmu berpegang teguh dengan kewajiban syar&#8217;i, yaitu tidak mendahului ulama dan mengembalikan urusan kepada mereka, serta tidak menyibukkan diri dengan menyebarkan atau menerima isu-isu seputar masalah ini. Inilah yang kami wasiatkan kepada diri kami dan seluruh salafiyyin, dalam rangka mengharap wajah Allah. Juga dengan mengharap dari semua pihak untuk merasakan besarnya tanggung jawab ini dalam rangka menjaga nama baik dakwah kita dan menjaga persatuan pemeluknya.</p>
<p>Wahai Rabb kami, janganlah Engkau menghukum kami bila kami lupa atau kami salah, dan janganlah Engkau jadikan dalam qalbu kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Dan kami memohon kepada Allah agar mengokohkan kami di atas kebenaran dan menyatukan kami di atasnya. Kabulkanlah, wahai Dzat yang mengabulkan permintaan hamba-hamba-Nya yang meminta.</p>
<p>Ahad, 14 Rabi&#8217;ul Awwal 1431 H<br />
28 Februari 2010 M</p>
<p>Dikeluarkan oleh :<br />
Al-Ustadz Muhammad bin Umar As-Sewed<br />
Al-Ustadz Luqman bin Muhammad Ba&#8217;abduh<br />
Al-Ustadz Usamah bin Faishol Mahri<br />
Al-Ustadz Abdush Shomad Bawazir<br />
Al-Ustadz Hamzah Abu Sa&#8217;id<br />
Al-Ustadz Salman bin Utsman<br />
Al-Ustadz Ruwaifi&#8217; bin Sulaimi<br />
Al-Ustadz Askari bin Jamal<br />
Al-Ustadz Afifuddin<br />
Al-Ustadz Ayip Syafruddin<br />
Al Ustadz Ahmad Khodim<br />
Al-Ustadz Qomar<br />
Al-Ustadz Muhammad bin Abdullah Barmim</p>
<p>DENGAN BIMBINGAN ASY-SYAIKH ABDULLAH BIN UMAR BIN BURAIK MAR &#8216; I , SEMOGA ALLAH SENANTIASA MENJAGANYA .</p>
<p>PDF:</p>
<p><a href="http://www.salafy.or.id/upload/PernyataanAsatidzTentangJUT280210.pdf" target="_blank">PernyataanAsatidzTentangJUT280210.pdf</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anakampah.wordpress.com/365/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anakampah.wordpress.com/365/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anakampah.wordpress.com/365/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anakampah.wordpress.com/365/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/anakampah.wordpress.com/365/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/anakampah.wordpress.com/365/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/anakampah.wordpress.com/365/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/anakampah.wordpress.com/365/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anakampah.wordpress.com/365/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anakampah.wordpress.com/365/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anakampah.wordpress.com/365/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anakampah.wordpress.com/365/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anakampah.wordpress.com/365/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anakampah.wordpress.com/365/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anakampah.wordpress.com&amp;blog=6274777&amp;post=365&amp;subd=anakampah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anakampah.wordpress.com/2010/03/19/pernyataan-terkini-dari-asatidz-tentang-jafar-umar-thalib28022010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">agungsuparjono</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kembali kepada Agama, Solusi Problematika Umat</title>
		<link>http://anakampah.wordpress.com/2010/03/16/kembali-kepada-agama-solusi-problematika-umat/</link>
		<comments>http://anakampah.wordpress.com/2010/03/16/kembali-kepada-agama-solusi-problematika-umat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Mar 2010 03:18:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agung Suparjono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian salafy]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[FATWA]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[ummat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anakampah.wordpress.com/?p=363</guid>
		<description><![CDATA[Wahai saudara-saudaraku yang dimuliakan Allah Subhanahu wata’ala, sudah sepatutnya kita banyak bersyukur kepada Allah, atas limpahan rahmat dan lindungan-Nya yang dianugerahkan kepada agama ini. Sehingga sampai hari ini, Allah masih menjaganya dari berbagai makar musuh-musuh Islam, yang ingin memadamkan cahaya agama-Nya. Namun jangan lupa bahwa tidak ada yang bisa menjamin diri kita selamat dari fitnah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anakampah.wordpress.com&amp;blog=6274777&amp;post=363&amp;subd=anakampah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Wahai saudara-saudaraku yang dimuliakan Allah Subhanahu wata’ala, sudah sepatutnya kita banyak bersyukur kepada Allah, atas limpahan rahmat dan lindungan-Nya yang dianugerahkan kepada agama ini. Sehingga sampai hari ini, Allah masih menjaganya dari berbagai makar musuh-musuh Islam, yang ingin memadamkan cahaya agama-Nya.</p>
<p>Namun jangan lupa bahwa tidak ada yang bisa menjamin diri kita selamat dari fitnah dalam menempuh sirathal mustaqim ini, kecuali dengan mempelajari ilmu agama dan mengamalkannya. Fitnah penyimpangan dari jalan yang lurus ini merupakan gejala yang amat berbahaya. Sehingga bisa merusak sendi-sendi kehidupan manusia itu sendiri. Akibatnya manusia jauh dari kebenaran dan menganggap, bahwa jalan kembali kepada Dien ini hanya akan menghambat laju perkembangan modernisasi (baca : tidak sesuai dengan perkembangan zaman). Na’udzubillah. Model opini seperti inilah yang akan mengakibatkan lemahnya kaum muslimin di hadapan musuh-musuh mereka sehingga barisan mereka tercerai-berai.<br /><img src="http://anakampah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" class="mceWPmore mceItemNoResize" title="Selebihnya..."><img src="http://anakampah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" class="mceWPmore mceItemNoResize" title="Selebihnya..."><br />Telah diriwayatkan dalam hadits shohih bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Sebentar lagi akan muncul umat-umat yang berkerumun (memperebutkan) kalian seperti berkerumunnya orang-orang yang makan pada piringnya. Maka seseorang bertanya : “Apakah karena kami sedikit pada waktu itu? Rasulullah menjawab : “Bahkan jumlah kalian banyak, akan tetapi kalian seperti buih ombak di lautan. Dan sungguh-sungguh Allah akan mencabut rasa gentar di hati musuh-musuh kalian, kemudian Allah benar-benar akan melemparkan wahn ke dalam hati-hati kalian,” Maka seseorang berkata : “Wahai Rasulullah, apakah wahn itu?” Rasulullah menjawab : “Cinta dunia dan benci pada kematian.” (Dishohihkan oleh Syeikh Al Albani dalam Ash shahihah 958).</p>
<p>Riwayat ini menceritakan keadaan umat Islam yang memprihatinkan sepeninggal Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam. Bukti kebenaran hadits ini semakin jelas, sejak munculnya fitnah besar. Yaitu sejak terbunuhnya khalifah Utsman bin ‘Affan radliyallahu’anhu, yang menyebabkan terpecahnya kalimat persatuan pada kaum muslimin dan tercerai-berainya barisan mereka. Sehingga kaum muslimin digambarkan bagai buih di lautan, diombang-ambing kesana kemari dan tidak memiliki kewibawaan lagi dihadapan musuh-musuh Islam. Dewasa ini percikan fitnah yang dahsyat itupun telah menimpa hati-hati kaum muslimin.</p>
<p>Dalam hadits di atas, Rasulullah juga memberikan gambaran tentang keadaan umat ini setelah Beliau wafat. Yaitu kabar kelemahan dan keterpurukan umat ini dihadapan musuh-musuh dikarenakan penyakit wahn yang melanda mereka. Penyakit ini jelas tidak dapat diobati Kecuali dengan kembalinya umat ini kepada pemahaman yang benar terhadap Al Qur’an dan As Sunnah, melalui bimbingan para ulama yang mengikuti jejak salafush sholeh (para pendahulu yang sholih).</p>
<p>Maka upaya untuk mengembalikan ‘izzah (kemuliaan kaum muslimin) adalah dengan mempelajari ilmu agama ini dan mengamalkannya. Sehingga umat ini dapat kembali kepada Dien dan terlepas dari berbagai macam problematika yang melanda.</p>
<p>Al Allamah Al Muhaqqiq Asy Syaikh Abdurrahman bin Yahya Al Mu’allimi Al Yamani mengatakan : “Telah banyak orang yang berilmu tentang Islam menetapkan, bahwa setiap kelemahan dan kehinaan serta berbagai bentuk kemunduran lainnya yang menimpa kaum muslimin ini, hanya dikarenakan jauhnya mereka dari pemahaman Islam yang benar. Saya berpendapat bahwa (seluruhnya itu) kembali kepada tiga perkara :</p>
<p>1. Tercampurnya perkara yang tidak termasuk Dien dengan perkara Dien.</p>
<p>2. Lemahnya keyakinan terhadap perkara Dien.</p>
<p>3. Tidak mau beramal dengan hukum-hukum Dien</p>
<p>Oleh sebab itu, berilmu tentang adab-adab Nabawiyah As-Shahihah di dalam perkara ibadah dan mu’amalah –seperti mukim (bertempat tinggal), safar, bergaul, bersatu, bergerak, diam, bangun, tidur, makan, minum, berbicara, dan perkara-perkara lain yang terdapat pada manusia ketika hidupnya, dan beramal sesuai dengan kemampuan- adalah satu-satunya obat bagi problem itu. Sesungguhnya perkara-perkara adab tersebut adalah perkara yang mudah bagi jiwa. Maka apabila manusia beramal dengan perkara-perkara mudah dari adab-adab tersebut dan meninggalkan perkara yang menyelisihinya, Insya Allah dia senantiasa mempunyai keinginan untuk menambah amalannya.</p>
<p>Akhirnya, tidak ada sedetik pun waktunya kecuali akan menjadi tauladan yang baik bagi orang lain dalam perkara itu. Dia mengambil petunjuk yang lurus dan berperilaku dengan akhlak yang agung. Hati akan bercahaya dan dada akan lapang, jiwa akan tenang, keyakinan akan kokoh, dan amal akan menjadi baik. Apabila telah banyak orang yang berjalan di atas jalan ini, maka segala problematika itu, insya Allah akan sirna. (Muqaddimah Fadlullahis Shamad 1/17)</p>
<p>Asy Syaikh Al Albani rahimahullah menjelaskan bahwa jalan satu-satunya untuk terlepas dari keadaan muslimin yang menyedihkan ini adalah dengan kembali kepada Dien yang metodenya adalah dengan At Tashfiyah wat Tarbiyah (pembersihan pemikiran dan pendidikan). Beliau mengatakan : “Agar kita dapat memberikan dalil yang menunjukkan benarnya pendapat yang kita pegangi dalam manhaj (jalan) ini (yaitu) kita kembali kepada kitab Allah Al karim. Didalamnya ada satu ayat yang menunjukkan kesalahan orang-orang yang menyelisihi kita pada perkara yang sudah kita yakini, yaitu bahwa Al Bidayah (langkah pertama untuk kembali kepada Dien) adalah dengan melakukan At Tashfiyah dan At Tarbiyah.” Allah Ta’ala berfirman :</p>
<p>“Jika kamu menolong Allah, maka Allah akan menolong kamu.” (Muhammad : 7).</p>
<p>Inilah ayat yang dimaksudkan. Di sini para mufassirin (Ahli Tafsir) menerangkan bahwa makna Nashrullah (menolong Allah) adalah beramal dengan hukum-hukum Allah Subhanahu wata’ala. Allah Ta’ala berfirman :</p>
<p>&#8220;(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat&#8221;. (Al Baqarah : 3) (lihat Tafsir Ibnu Katsir 7/293)</p>
<p>Maka, apabila pertolongan Allah tidak akan turun kecuali dengan menegakkan hukum-hukum-Nya, bagaimana kita dapat masuk ke dalam jihad. Yakni perang di medan tempur yang kita berharap pertolongan Allah turun di sana. Sedangkan kita tidak menolong Allah sesuai dengan yang telah disepakati oleh mufassirin. Bagaimana kita akan berjihad sedang akidah kita bobrok? Bagaimana kita bisa mendapat pertolongan dalam berjihad sedang akhlak kita rusak?</p>
<p>Jadi, sebelum berjihad hendaklah kita berusaha untuk membekali diri dengan ilmu terlebih dahulu. Sehingga dengan demikian kita dapat menegakkan hukum-hukum Allah yang bisa menyebabkan turunnya pertolongan Allah. Sesungguhnya saya mengetahui bahwa manhaj (jalan) kita dalam melakukan Tashfiyah dan Tarbiyah tidak luput dari pertentangan. Ada orang yang mengatakan : “Sesungguhnya perkara Tashfiyah dan Tarbiyah membutuhkan masa panjang !” Akan tetapi saya (Syaikh) katakan, bukan itu yang penting dalam perkara ini. Yang penting bahwa kita memulai dengan mengenal dien kita dan setelah itu, tidak menjadi soal apakah jalannya akan panjang atau pendek. Sesungguhnya perkataanku ini saya hadapkan kepada para da’i muslimin, para ulama dan para pembimbing. Saya mengajak mereka agar berjalan di atas ilmu yang sempurna tentang Islam yang shahih dari berbagai penyimpangan. Agar mereka dapat memerangi berbagai macam kelalaian dan kelengahan serta berbagai perselisihan dan pertentangan. Allah Ta’ala berfirman :</p>
<p>“Dan janganlah kamu berselisih yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu.” (Al Anfal : 46)</p>
<p>Apabila kita telah menghilangkan perselisihan dan kelalaian ini, dan kita telah menempati Shahwah Islamiyah (Kemajuan Islam) yang bersatu dan bersepakat, berarti kita mulai mengarah untuk merealisasikan kekuatan materi. (Allah berfirman) :</p>
<p>“Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah.” (Al Anfal : 60)</p>
<p>Merealisasikan kekuatan materi adalah suatu perkara yang harus dilaksanakan misalnya dengan membangun perekonomian yang baik dan lainnya. Tetapi sebelum itu semua, haruslah kembali kepada Dien yang benar, suluk (akhlak) dan seluruh perkara yang berkaitan dengan syari’at dengan meneladani Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam. Oleh karena itu, saya ulangi kembali perkataanku : “Tidak ada jalan untuk terlepas dari kenyataan yang menyedihkan yang menimpa umat ini melainkan (kembali) kepada Al Kitab dan As Sunnah, dan melakukan At Tashfiyah wa Tarbiyah dalam rangka kembali kepada keduanya. Untuk itu kita dituntut untuk mengetahui ilmu hadits yang dapat membedakan antara yang shohih dan yang dhoif, agar kita tidak membangun hukum-hukum yang salah, sebagaimana yang telah terjadi di kalangan muslimin akibat banyaknya mereka berpegang kepada hadits dhaif (lemah)&#8230;.(Hayatul Al Albani wa Aatsaruhu 1/389-391 karya Ibrahim As Syaibani).</p>
<p>Beliau (Asy Syaikh Al Albani) rahimahullah menyatakan lagi : “……Dan saya memandang bahwa problematika (keterpurukan dan kelemahan kaum muslimin di segala bidang) semacam ini, telah disebutkan dan digambarkan oleh Rasulullah dalam sebagian hadits-hadits shohih darinya. Dan beliau shallallahu’alaihi wasallam menjelaskan jalan keluar sekaligus obat penawar (terhadap segala problem yang dihadapi umat Islam tersebut). Diantara hadits-hadits itu adalah sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam yang berbunyi :</p>
<p>إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ, وَ أَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ, وَ رَضِيْتُمْ بِالزَّرْعِ, وَ تَرَكْتُمُ الْجِهَادَ, سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُ إِلَى دِيْنِكُمْ</p>
<p>“Apabila kalian telah melakukan jual beli dengan sistim ‘iinah. Dan kalian telah mengambil ekor-ekor sapi. Juga kalian ridha dengan sawah ladang kalian serta kalian meninggalkan jihad. Maka Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian. Dan tidak akan dicabut kehinaan tersebut hingga kalian kembali kepada agama kalian.” (Ash Shahihah 11)</p>
<p>Kami mendapati dalam hadits ini adanya penyebutan penyakit yang melanda kaum muslimin. Maka Rasulullah menyebutkan dua macam penyakit tersebut sebagai contoh -bukan suatu pembatasan- (sebagai berikut) :</p>
<p>1. Sebagian besar umat islam terperosok dalam perkara-perkara yang diharamkan dengan melakukan tipu daya (muslihat) sedangkan mereka mengetahuinya. Hal ini terkandung dalam sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam : (Apabila kalian telah melakukan jual beli dengan sistim ‘iinah). Maka (defenisi) ‘iinah –sebagaimana yang dikenal di dalam kitab-kitab fiqih- adalah : satu sistim jual beli yang diisyaratkan oleh hadits ini tentang keharamannya. Walaupun sebagian ulama- terlebih lagi selain mereka- membolehkan sistim jual beli ini. Gambarannya seperti ; Seorang membeli sebuah barang dari penjual, misalkan sebuah mobil; dia membelinya dengan harga yang dibayar secara angsuran dan dengan tempo yang ditentukan. Kemudian pembeli ini kembali menjual mobil tersebut kepada penjual pertama tadi dengan harga yang lebih kecil dari harga yang dia beli sebelumnya. Namun dia menjualnya dengan harga kontan. Kemudian penjual pertama tadi –yang bertukar menjadi pembeli sekarang- membayar harga tersebut kontan dengan nilai nominal yang lebih kecil dari transaksi pembelian yang pertama secara angsuran dan hutang. Misalkan ; mobil ini dibeli dengan harga 10 ribu lira secara berkala (pembayarannya). Lalu pembeli menjualnya kembali dengan harga 8 ribu secara tunai kepada penjual yang pertama tadi. Maka (penjual pertama tersebut) memiliki hutang sebesar 2 ribu. (pembeli tadi mendapat dua keuntungan, pertama mobil miliknya kembali seperti semula dan mendapatkan tambahan sebesar 2 ribu, pent)</p>
<p>Maka tambahan ini (kata syaikh) adalah riba. Dan wajib atas setiap muslim –yang mendengar ayat-ayat Allah Azza wa Jalla dan hadits-hadits Nabi shallallahu’alaihi wasallam yang menerangkan tentang haramnya riba- agar jangan menganggap halal jenis jual beli seperti ini selama di sana masih ada bentuk tambahan yang harus dibayar. Karena tambahan ini adalah riba yang nampak jelas. Akan tetapi sebagian manusia memandang kebolehan perkara tersebut. Karena (menurut mereka) perkara tersebut diletakkan dalam bab jual beli. Dan mereka berdalilkan dengan keumuman (nash-nash) yang menunjukkan bolehnya jual beli seperti itu. Seperti ayat yang telah dikenal :</p>
<p>“Dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (Al Baqarah : 275), mereka mengatakan : “ini kan (namanya) jual beli, maka tidak apa-apa adanya penambahan atau pengurangan!”</p>
<p>Kemudian beliau melanjutkan : “Dan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam adalah sebagai pemberi keterangan bagi manusia, sebagaimana firman Rabb kita Tabaraka wata’ala :</p>
<p>“Dan kami telah menurunkan pemberi peringatan, agar menjelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.” (An Nahl : 44)</p>
<p>Demikian pula Rasulullah digambarkan oleh Rabb kita Tabaraka wata’ala dengan firman-Nya :</p>
<p>“…..dengan kaum mukminin dia adalah penyantun dan penyayang. “ (At Taubah : 128). Maka diantara kelembutan dan kasih sayang beliau shallallahu’alaihi wasallam kepada kita, beliau memperingatkan tentang tipu daya syetan terhadap anak adam. Dan memperingatkan kita agar jangan terperosok ke dalam jeratan-jeratannya, sebagaimana yang disebutkan dalam banyak hadits.</p>
<p>Kemudian lanjut beliau : “Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menasehati kita di dalam hadits tersebut agar tidak terjerumus di dalam tipu muslihat ini, yaitu menghalalkan apa yang diharamkan Allah. Maka yang demikian itu lebih berbahaya daripada seorang muslim yang terjatuh dalam keharaman dalam keadaan dia mengetahui keharamannya. Dan masih diharapkan suatu hari dirinya akan kembali bertaubat kepada Rabbnya. Karena dia berada di atas pengetahuan bahwa apa yang dia lakukan itu adalah haram.”</p>
<p>2. Sabda Rasulullah : (Dan kalian mengambil ekor-ekor sapi dan ridha kepada sawah ladang kalian), maksudnya ; Kalian sibuk mencari harta dunia dan mencari rezeki dengan alasan bahwa Allah Azza wa Jalla memerintahkan untuk mengais rezeki. Maka kaum muslimin berlebihan-lebihan dalam hal itu dan melalaikan diri mereka dari apa yang Allah perintahkan kepada mereka berupa kewajiban-kewajiban. Dan mereka melupakan diri mereka dengan menggarap sawah dan ladang mereka dan yang semisalnya dari berbagai jenis mata pencaharian. Mereka lupa diri atas apa-apa yang Allah wajibkan. Dan Beliau shallallahu’alaihi wasallam memberikan contoh (kewajiban tersebut) yang dilalaikan adalah seperti jihad fi sabilillah. (Dan masih banyak lagi kewajiban-kewajiban yang dilalaikan oleh sebagian besar kaum muslimin disebabkan terlalu berlebihan dalam mencari penghidupan di dunia ini, pent).</p>
<p>Lalu beliau (Syaikh) katakan : “(Bahwa) hadits di atas merupakan tanda-tanda kenabian sebagaimana yang kalian lihat. Dan sungguh kehinaan tersebut telah menimpa kita, seperti yang dapat disaksikan. Maka (sudah saatnya) wajib bagi kita untuk mengambil obat penawar dari hadits ini setelah digambarkan tentang penyakit yang menimpa (umat) dan dan apa saja yang ditimbulkan dari penyakit ini berupa kehinaan. Dan sungguh kita telah digerogoti oleh penyakit-penyakit tersebut sehingga menghantarkan kita kepada kondisi yang lemah. Oleh karena itu wajib bagi kita untuk merealisasikan resep obat penyembuh yang telah diwasiatkan oleh Rasulullah, dimana Beliau shallallahu’alaihi wasallam menjelaskan bahwa apabila kita kembali kepada agama Allah, maka Allah Azza wa Jalla akan mengangkat kehinaan tersebut dari kita.” (At Tashfiyah wat Tarbiyah karya Asy Syakh Muhammad Nashiruddin Al Albani hal 6-11, cet Maktabah Islamiyah)</p>
<p>Dengan adanya beberapa keterangan di atas, maka kita mengetahui dengan yakin bahwa cara yang benar untuk keluar dari berbagai macam cobaan dan problem yang menimpa kaum muslimin adalah kembali kepada Dien dengan mengikuti Dakwah Salafush Sholih yang mengajak kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah di atas pemahaman shahabat ridlwanullahu ‘alaihim ajma’in.</p>
<p>Akhirnya, kita memohon kepada Allah agar mengokohkan pijakan kaki kita di atas agama ini dan menganugerahkan kepada kita keistiqomahan dalam menjalani agama ini, serta semoga Allah menganugerahkan kembali ‘izzah kaum muslimin di hadapan musuh-musuh-Nya. Wallahul Muwafiq ilaa sawaais sabil</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anakampah.wordpress.com/363/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anakampah.wordpress.com/363/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anakampah.wordpress.com/363/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anakampah.wordpress.com/363/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/anakampah.wordpress.com/363/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/anakampah.wordpress.com/363/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/anakampah.wordpress.com/363/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/anakampah.wordpress.com/363/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anakampah.wordpress.com/363/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anakampah.wordpress.com/363/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anakampah.wordpress.com/363/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anakampah.wordpress.com/363/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anakampah.wordpress.com/363/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anakampah.wordpress.com/363/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anakampah.wordpress.com&amp;blog=6274777&amp;post=363&amp;subd=anakampah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anakampah.wordpress.com/2010/03/16/kembali-kepada-agama-solusi-problematika-umat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">agungsuparjono</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://anakampah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Selebihnya...</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://anakampah.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Selebihnya...</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pakai DNS google, browsing, downloading makin kenceng</title>
		<link>http://anakampah.wordpress.com/2010/03/01/pakai-dns-google-browsing-downloading-makin-kenceng/</link>
		<comments>http://anakampah.wordpress.com/2010/03/01/pakai-dns-google-browsing-downloading-makin-kenceng/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Mar 2010 06:34:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agung Suparjono</dc:creator>
				<category><![CDATA[komputer]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[DNS]]></category>
		<category><![CDATA[dns speedy]]></category>
		<category><![CDATA[google]]></category>
		<category><![CDATA[IP]]></category>
		<category><![CDATA[mengubah dns]]></category>
		<category><![CDATA[setting dns speedy]]></category>
		<category><![CDATA[software]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anakampah.wordpress.com/?p=361</guid>
		<description><![CDATA[Kita sering mendengar DNS , apa seh DNS, DNS adalah Domain Name Service sebuah aplikasi service di internet yang menerjemahkan sebuah nama domain seperti http://anakampah.wordpress.com.com ke alamat IP address seperti 202.134.10.122 dan salah satu jenis system yang melayani permintaan pemetaan IP address ke FQPN (Fany Qualified Domain Name) dan dari FQDN ke IP address. Google [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anakampah.wordpress.com&amp;blog=6274777&amp;post=361&amp;subd=anakampah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Kita sering mendengar DNS , apa seh DNS, DNS adalah Domain Name Service sebuah aplikasi service di internet yang menerjemahkan sebuah nama domain seperti http://anakampah.wordpress.com.com ke alamat IP address seperti 202.134.10.122 dan salah satu jenis system yang melayani permintaan pemetaan IP address ke FQPN (Fany Qualified Domain Name) dan dari FQDN ke IP address.</p>
<p style="text-align:justify;">Google kini telah meluncurkan dan menyediakan sebuah<strong> Layanan DNS Gratis</strong> untuk publik yang diberi nama <a title="Google Public DNS" href="http://d60pc.com/tag/google-public-dns" target="_blank"><strong>Google Public DNS</strong></a>. Kini setiap orang bisa menggunakan DNS Server milik Google yang beralamat di 8.8.8.8 dan 8.8.4.4</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan menggunakan Google Public DNS bisa meningkatkan kecepatan ketika melakukan browsing dan membuka sebuah halaman website. Tidak hanya itu, tapi juga meningkatkan keamanan ketika kita menjelajah dan membuka banyak situs di internet.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:left;"><img class="aligncenter" src="http://www.d60pc.com/wp-content/uploads/2010/02/google-public-dns.png" alt="" /></p>
<p>Namun harus diingat, dengan mengganti DNS maka kecepatan download internet kita tetap sama tergantung internet yang kita gunakan. Ini hanya untuk meningkatkan kecepatan dalam membuka sebuah alamat situs. Atau <a title="Google Public DNS" href="http://code.google.com/speed/public-dns/" target="_blank"><strong>Google Public DNS</strong></a> dapat dijadikan sebagai alternatif ketika DNS yang sedang kita gunakan sedang bermasalah dalam resolve sebuah alamat domain</p>
<p><strong>Beberapa Kelebihan Menggunakan Google Public DNS :</strong></p>
<ul>
<li>Speed up your browsing experience.</li>
<li>Improve your security.</li>
<li>Get the results you expect with absolutely no redirection.</li>
</ul>
<p>Yang menarik Google menggunakan nomor cantik untuk alamat DNS. Ini tentu akan mempermudah pengguna untuk mengingat dan menggunakannya</p>
<ul>
<li><strong>Preferred DNS server : 8.8.8.8</strong></li>
<li><strong>Preferred DNS server : 8.8.4.4</strong></li>
</ul>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anakampah.wordpress.com/361/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anakampah.wordpress.com/361/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anakampah.wordpress.com/361/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anakampah.wordpress.com/361/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/anakampah.wordpress.com/361/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/anakampah.wordpress.com/361/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/anakampah.wordpress.com/361/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/anakampah.wordpress.com/361/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anakampah.wordpress.com/361/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anakampah.wordpress.com/361/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anakampah.wordpress.com/361/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anakampah.wordpress.com/361/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anakampah.wordpress.com/361/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anakampah.wordpress.com/361/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anakampah.wordpress.com&amp;blog=6274777&amp;post=361&amp;subd=anakampah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anakampah.wordpress.com/2010/03/01/pakai-dns-google-browsing-downloading-makin-kenceng/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">agungsuparjono</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.d60pc.com/wp-content/uploads/2010/02/google-public-dns.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>HUKUM ONANI / MASTURBASI / COLI dll</title>
		<link>http://anakampah.wordpress.com/2010/02/27/hukum-onanimasturbasicoli-dll/</link>
		<comments>http://anakampah.wordpress.com/2010/02/27/hukum-onanimasturbasicoli-dll/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Feb 2010 02:56:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agung Suparjono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak & Adab]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[coli]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[hukum masturbasi]]></category>
		<category><![CDATA[hukum onani]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[masturbasi]]></category>
		<category><![CDATA[onani]]></category>
		<category><![CDATA[salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anakampah.wordpress.com/?p=358</guid>
		<description><![CDATA[Apa hukum onani/masturbasi bagi pria dan wanita? Dijawab oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah As Sarbini Al- Makassari Permasalahan onani/masturbasi (istimna’) adalah permasalahan yang telah dibahas oleh para ulama. Onani adalah upaya mengeluarkan mani dengan menggunakan tangan atau yang lainnya. Hukum permasalahan ini ada rinciannya sebagai berikut: 1. Onani yang dilakukan dengan bantuan tangan/anggota tubuh lainnya dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anakampah.wordpress.com&amp;blog=6274777&amp;post=358&amp;subd=anakampah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong><em>Apa hukum onani/masturbasi bagi pria dan wanita?</em></strong></p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Dijawab oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah As Sarbini Al- Makassari </span><br />
Permasalahan onani/masturbasi (istimna’) adalah permasalahan yang telah dibahas oleh para ulama. Onani adalah upaya mengeluarkan mani dengan menggunakan tangan atau yang lainnya. Hukum permasalahan ini ada rinciannya sebagai berikut:<br />
1.	Onani yang dilakukan dengan bantuan tangan/anggota tubuh lainnya dari istri atau budak wanita yang dimiliki. Jenis ini hukumnya halal, karena termasuk dalam keumuman bersenang-senang dengan istri atau budak wanita yang dihalalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.1 Demikian pula hukumnya bagi wanita dengan tangan suami atau tuannya (jika ia berstatus sebagai budak, red.). Karena tidak ada perbedaan hukum antara laki-laki dan perempuan hingga tegak dalil yang membedakannya. Wallahu a’lam. <span id="more-358"></span><br />
2.	Onani yang dilakukan dengan tangan sendiri atau semacamnya. Jenis ini hukumnya haram bagi pria maupun wanita, serta merupakan perbuatan hina yang bertentangan dengan kemuliaan dan keutamaan. Pendapat ini adalah madzhab jumhur (mayoritas ulama), Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu, dan pendapat terkuat dalam madzhab Al-Imam Ahmad rahimahullahu. Pendapat ini yang difatwakan oleh Al-Lajnah Ad-Da’imah (yang diketuai oleh Asy-Syaikh Ibnu Baz), Al-Albani, Al-’Utsaimin, serta Muqbil Al-Wadi’i rahimahumullah. Dalilnya adalah keumuman firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:</p>
<p>وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ. إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ. فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ</p>
<p>“Dan orang-orang yang menjaga kemaluan-kemaluan mereka (dari hal-hal yang haram), kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak wanita yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Barangsiapa mencari kenikmatan selain itu, maka merekalah orang-orang yang melampaui batas.” (Al-Mu’minun: 5-7, juga dalam surat Al-Ma’arij: 29-31)<br />
Perbuatan onani termasuk dalam keumuman mencari kenikmatan syahwat yang sifatnya melanggar batasan syariat yang dihalalkan, yaitu di luar kenikmatan suami-istri atau tuan dan budak wanitanya.<br />
Sebagian ulama termasuk Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu berdalilkan dengan hadits ‘Abdillah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:<br />
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ اْلبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ<br />
“Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kalian yang telah mampu menikah, maka menikahlah, karena pernikahan membuat pandangan dan kemaluan lebih terjaga. Barangsiapa belum mampu menikah, hendaklah dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa merupakan obat yang akan meredakan syahwatnya.” (Muttafaq ‘alaih)<br />
Al-’Utsaimin rahimahullahu berkata: “Sisi pendalilan dari hadits ini adalah perintah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi yang tidak mampu menikah untuk berpuasa. Sebab, seandainya onani merupakan adat (perilaku) yang diperbolehkan tentulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan membimbing yang tidak mampu menikah untuk melakukan onani, karena onani lebih ringan dan mudah untuk dilakukan ketimbang puasa.”<br />
Apalagi onani sendiri akan menimbulkan mudharat yang merusak kesehatan pelakunya serta melemahkan kemampuan berhubungan suami-istri jika sudah berkeluarga, wallahul musta’an.2<br />
Adapun hadits-hadits yang diriwayatkan dalam hal ini adalah hadits-hadits yang dha’if (lemah). Kelemahan hadits-hadits itu telah diterangkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu dalam At-Talkhish Al-Habir (no. 1666) dan Al-Albani dalam Irwa’ Al-Ghalil (no. 2401) serta As-Silsilah Adh-Dha’ifah (no. 319). Di antaranya hadits ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma:<br />
سَبْعَةٌ لاَ يَنْظُرُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يُزَكِّيْهِمْ وَيَقُوْلُ: ادْخُلُوْا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِيْنَ: &#8230; وَالنَّاكِحُ يَدَهُ &#8230;. الْحَدِيْثَ<br />
“Ada tujuh golongan yang Allah tidak akan memandang kepada mereka pada hari kiamat, tidak akan membersihkan mereka (dari dosa-dosa) dan berkata kepada mereka: ‘Masuklah kalian ke dalam neraka bersama orang-orang yang masuk ke dalamnya!’ (di antaranya): … dan orang yang menikahi tangannya (melakukan onani/masturbasi) ….dst.” (HR. Ibnu Bisyran dalam Al-Amali, dalam sanadnya ada Abdullah bin Lahi’ah dan Abdurrahman bin Ziyad bin An’um Al-Ifriqi, keduanya dha’if [lemah] hafalannya)<br />
Namun apakah diperbolehkan pada kondisi darurat, yaitu pada suatu kondisi di mana ia khawatir terhadap dirinya untuk terjerumus dalam perzinaan atau khawatir jatuh sakit jika air maninya tidak dikeluarkan? Ada khilaf pendapat dalam memandang masalah ini.<br />
Jumhur ulama mengharamkan onani secara mutlak dan tidak memberi toleransi untuk melakukannya dengan alasan apapun. Karena seseorang wajib bersabar dari sesuatu yang haram. Apalagi ada solusi yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meredakan/meredam syahwat seseorang yang belum mampu menikah, yaitu berpuasa sebagaimana hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu di atas.<br />
Sedangkan sekelompok sahabat, tabi’in, dan ulama termasuk Al-Imam Ahmad rahimahullahu memberi toleransi untuk melakukannya pada kondisi tersebut yang dianggap sebagai kondisi darurat.3 Namun nampaknya pendapat ini harus diberi persyaratan seperti kata Al-Albani rahimahullahu dalam Tamamul Minnah (hal. 420-421): “Kami tidak mengatakan bolehnya onani bagi orang yang khawatir terjerumus dalam perzinaan, kecuali jika dia telah menempuh pengobatan Nabawi (yang diperintahkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam), yaitu sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kaum pemuda dalam hadits yang sudah dikenal yang memerintahkan mereka untuk menikah dan beliau bersabda:<br />
فَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ<br />
“Maka barangsiapa belum mampu menikah hendaklah dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa merupakan obat yang akan meredakan syahwatnya.”<br />
Oleh karena itu, kami mengingkari dengan keras orang-orang yang memfatwakan kepada pemuda yang khawatir terjerumus dalam perzinaan untuk melakukan onani, tanpa memerintahkan kepada mereka untuk berpuasa.”<br />
Dengan demikian, jelaslah kekeliruan pendapat Ibnu Hazm rahimahullahu dalam Al-Muhalla (no. 2303) dan sebagian fuqaha Hanabilah yang sekadar memakruhkan onani dengan alasan tidak ada dalil yang mengharamkannya, padahal bertentangan dengan kemuliaan akhlak dan keutamaan.<br />
Yang lebih memprihatinkan adalah yang sampai pada tahap menekuninya sebagai adat/kebiasaan, untuk bernikmat-nikmat atau berfantasi/mengkhayalkan nikmatnya menggauli wanita. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata dalam Majmu’ Al-Fatawa (10/574): “Adapun melakukan onani untuk bernikmat-nikmat dengannya, menekuninya sebagai adat, atau untuk mengingat-ngingat (nikmatnya menggauli seorang wanita) dengan cara mengkhayalkan seorang wanita yang sedang digaulinya saat melakukan onani, maka yang seperti ini seluruhnya haram. Al-Imam Ahmad rahimahullahu mengharamkannya, demikian pula yang selain beliau.” Wallahu a’lam.<br />
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membimbing para pemuda dan pemudi umat ini untuk menjaga diri mereka dari hal-hal yang haram dan hina serta merusak akhlak dan kemuliaan mereka. Amin.<br />
Washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi washahbihi wasallam, walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.</p>
<p>Apakah pelaku onani/masturbasi mendapat dosa seperti orang yang berzina?<br />
Adi Wicaksono, lewat email<br />
Penetapan kadar dan sifat dosa yang didapatkan oleh seorang pelaku maksiat, apakah sifatnya dosa besar atau dosa kecil harus berdasarkan dalil syar’i. Perbuatan zina merupakan dosa besar yang pelakunya terkena hukum hadd. Nash-nash tentang hal itu sangat jelas dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.<br />
Adapun masturbasi/onani dengan tangan sendiri atau semacamnya (bukan dengan bantuan tangan/anggota tubuh dari istri atau budak wanita yang dimiliki), terdapat silang pendapat di kalangan ulama. Yang benar adalah pendapat yang menyatakan haram. Hal ini berdasarkan keumuman ayat 5-7 dari surat Al-Mu’minun dan ayat 29-31 dari surat Al-Ma’arij. Onani termasuk dalam keumuman mencari kenikmatan syahwat yang haram, karena melampaui batas syariat yang dihalalkan, yaitu kenikmatan syahwat antara suami istri atau tuan dengan budak wanitanya. Adapun hadits-hadits yang diriwayatkan dalam hal ini yang menunjukkan bahwa onani adalah dosa besar merupakan hadits-hadits yang dha’if (lemah) dan tidak bisa dijadikan hujjah. Di antaranya:<br />
سَبْعَةٌ لاَ يَنْظُرُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يُزَكِّيْهِمْ وَيَقُوْلُ: ادْخُلُوْا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِيْنَ: &#8230; وَالنَّاكِحُ يَدَهُ &#8230;. الْحَدِيْثَ<br />
“Ada tujuh golongan yang Allah tidak akan memandang kepada mereka pada hari kiamat, tidak akan membersihkan mereka (dari dosa-dosa) dan berkata kepada mereka: ‘Masuklah kalian ke dalam neraka bersama orang-orang yang masuk ke dalamnya!’: … dan orang yang menikahi tangannya (melakukan onani/masturbasi) ….dst.”4<br />
Sifat onani yang paling parah dan tidak ada seorang pun yang menghalalkannya adalah seperti kata Syaikhul Islam dalam Majmu’ Al-Fatawa (10/574): “Adapun melakukan onani untuk bernikmat-nikmat dengannya, menekuninya sebagai adat, atau untuk mengingat-ngingat/mengkhayalkan (nikmatnya menggauli seorang wanita) dengan cara mengkhayalkan seorang wanita yang sedang digaulinya saat melakukan onani, maka yang seperti ini seluruhnya haram. Al-Imam Ahmad rahimahullahu mengharamkannya, demikian pula selain beliau. Bahkan sebagian ulama mengharuskan hukum hadd bagi pelakunya.”<br />
Penetapan hukum hadd dalam hal ini semata-mata ijtihad sebagian ulama mengqiyaskannya dengan zina. Namun tentu saja berbeda antara onani dengan zina sehingga tidak bisa disamakan. Karena zina adalah memasukkan kepala dzakar ke dalam farji wanita yang tidak halal baginya (selain istri dan budak wanita yang dimiliki). Oleh karena itu, yang benar dalam hal ini adalah pelakunya hanya sebatas diberi ta’zir (hukuman) yang setimpal sebagai pelajaran dan peringatan baginya agar berhenti dari perbuatan maksiat tersebut. Pendapat ini adalah madzhab Hanabilah, dibenarkan oleh Al-Imam Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu dalam Asy-Syarhul Mumti’ Kitab Al-Hudud Bab At-Ta’zir dan difatwakan oleh Al-Lajnah Ad-Da’imah yang diketuai oleh Al-Imam Ibnu Baz rahimahullahu dalam Fatawa Al-Lajnah (10/259).<br />
Adapun bentuk hukumannya kembali kepada ijtihad hakim, apakah dicambuk (tidak lebih dari sepuluh kali), didenda, dihajr (diboikot), didamprat dengan celaan, atau lainnya, yang dipandang oleh pihak hakim dapat membuatnya jera dari maksiat itu dan bertaubat.5 Wallahu a’lam.<br />
Kesimpulannya, masturbasi tidak bisa disetarakan dengan zina, karena tidak ada dalil yang menunjukkan hal itu. Namun onani adalah maksiat yang wajib untuk dijauhi. Barangsiapa telah melakukannya hendaklah menjaga aibnya sebagai rahasia pribadinya dan hendaklah bertaubat serta memohon ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apabila urusannya terangkat ke mahkamah pengadilan, maka pihak hakim berwenang untuk memberi ta’zir (hukuman) yang setimpal, sebagai pelajaran dan peringatan baginya agar jera dari perbuatan hina tersebut. Wallahu a’lam.</p>
<p>1 Pertama kali kami mendengar faedah ini dari guru besar kami, Al-Walid Al-Imam Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullahu dalam majelis beliau. Silakan lihat pula Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah (10/259), Al-Iqna’ pada Kitab An-Nikah Bab ‘Isyratin Nisa’. Hal ini merupakan ijma’ (kesepakatan) ulama sebagaimana dinukilkan oleh Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullahu dalam kitabnya yang berjudul Bulughul Muna fi Hukmil Istimna’, walhamdulillah –pen.<br />
2 Lihat tafsir surat Al-Mu’minun dalam Tafsir Ath-Thabari, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al-Baghawi, Majmu’ Al-Fatawa (10/574, 34/229), Fatawa Al-Lajnah (10/259), Tamamul Minnah (hal. 420), Majmu’ Ar-Rasa’il (19/234, 235-236), Asy-Syarhul Mumti’ Kitab Al-Hudud Bab At-Ta’zir –pen.<br />
3 Lihat Majmu’ Al-Fatawa (10/574, 34/229-230) –pen.<br />
4 Lihat penjelasan hadits ini dalam Problema Anda: Hukum Onani/Masturbasi.<br />
5 Lihat Asy-Syarhul Mumti’ Kitab Al-Hudud Bab At-Ta’zir –pen.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anakampah.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anakampah.wordpress.com/358/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anakampah.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anakampah.wordpress.com/358/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/anakampah.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/anakampah.wordpress.com/358/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/anakampah.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/anakampah.wordpress.com/358/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anakampah.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anakampah.wordpress.com/358/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anakampah.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anakampah.wordpress.com/358/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anakampah.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anakampah.wordpress.com/358/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anakampah.wordpress.com&amp;blog=6274777&amp;post=358&amp;subd=anakampah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anakampah.wordpress.com/2010/02/27/hukum-onanimasturbasicoli-dll/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">agungsuparjono</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KEMUNGKARAN Peringatan Maulid nabi Muhammad</title>
		<link>http://anakampah.wordpress.com/2010/02/17/kemungkaran-peringatan-maulid-nabi-muhammad/</link>
		<comments>http://anakampah.wordpress.com/2010/02/17/kemungkaran-peringatan-maulid-nabi-muhammad/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Feb 2010 09:13:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agung Suparjono</dc:creator>
				<category><![CDATA[FATWA]]></category>
		<category><![CDATA[all]]></category>
		<category><![CDATA[aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[maulid nabi]]></category>
		<category><![CDATA[muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[peringatan maulid nabi muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anakampah.wordpress.com/?p=355</guid>
		<description><![CDATA[leh: Asy Syaikh Muhammad Bin Jamil Zainu Peringatan maulid yang banyak diselenggarakan, tidaklah pernah kosong dari kemungkaran, bidah dan pelanggaran terhadap syariat Islam. Peringatan ini tidak pernah diselenggarakan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, juga tidak oleh para sahabat, tabi’in dan imam yang empat, serta orang-orang yang hidup di masa generasi terbaik serta tidak ada dalil [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anakampah.wordpress.com&amp;blog=6274777&amp;post=355&amp;subd=anakampah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><em>leh: Asy Syaikh Muhammad Bin Jamil Zainu</em></p>
<p style="text-align:justify;">Peringatan maulid yang banyak diselenggarakan, tidaklah pernah kosong  dari kemungkaran, bidah dan pelanggaran terhadap syariat Islam.  Peringatan ini tidak pernah diselenggarakan oleh Rasulullah shallallaahu  ‘alaihi wasallam, juga tidak oleh para sahabat, tabi’in dan imam yang  empat, serta orang-orang yang hidup di masa generasi terbaik serta tidak  ada dalil syariat tentang penyelenggaraan acara ini.</p>
<p style="text-align:justify;">1. Kebanyakan orang-orang yang menyelenggarakan peringatan maulid  terjerumus pada perbuatan syirik, yakni ketika mereka mengatakan:<br />
يا رسول الله غوثا و مدد يا رسول الله عليك المعتمد<br />
يا رسول الله فرج كربنا ما رآك الكرْبُ إلا و شرَد<br />
“Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, berilah kami pertolongan  dan bantuan.<br />
Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kami bersandar kepadamu.<br />
Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, hilangkanlah derita kami.<br />
Tiadalah derita itu melihatmu, kecuali ia akan lari.”<span id="more-355"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Seandainya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam mendengar  senandung tersebut, tentu beliau akan menghukuminya dengan syirik besar.  Sebab pemberian pertolongan, penyandaran dan pembebasan dari segala  derita adalah hanya Allah semata. Allah berfirman,<br />
أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ<br />
“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan  apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan?”  (An-Naml: 62)</p>
<p style="text-align:justify;">Allah memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam agar  mengatakan kepada segenap manusia,<br />
قُلْ إِنِّي لا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلا رَشَدًا<br />
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu  kemudaratan pun kepadamu dan tidak (pula) sesuatu ke-manfaatan’.”  (Al-Jin: 21)</p>
<p style="text-align:justify;">Dan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam sendiri bersabda,<br />
إِذَا سَأَلْتَ فَسْأَلِ اللَّهَ ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ  بِاللَّهِ<br />
“Bila kamu meminta, mintalah kepada Allah dan bila kamu me-mohon  pertolongan maka mohonlah pertolongan kepada Allah.” (HR. At-Tirmidzi,  ia berkata hadis hasan sahih)</p>
<p style="text-align:justify;">2. Kebanyakan pada perayaan maulid terdapat sanjungan serta pujian  yang berlebihan kepada Rasulullah. Padahal Nabi shallallaahu ‘alaihi  wasallam melarang hal tersebut. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam  bersabda,<br />
لاَ تــطروْنِيْ كَماَ أطرتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا  عَبْدٌ فَقَوُلْوا عَبْدُ اللهِ وَ رَسُوْلِهِ<br />
“Janganlah kalian berlebihan dalam memujiku sebagaimana orang-orang  Nasrani berlebihan dalam memuji Isa bin Maryam. Aku ini hanyalah seorang  hamba, maka katakanlah ‘Abdullah (hamba Allah) dan Rasul-Nya.” (HR.  Al-Bukhari)</p>
<p style="text-align:justify;">3. Dalam ulang tahun perkawinan dan lainnya, (terkadang) diucapkan  bahwa Allah menciptakan Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam dari  cahaya-Nya, lalu menciptakan segala sesuatu dari cahaya Muhammad.  Al-Quran mendustakan mereka, dalam firman-Nya,<br />
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ  إِلَهٌ وَاحِدٌ<br />
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kalian,  yang diwahyukan kepadaku, ‘Bahwa sesungguhnya sesembahan kalian itu  adalah Sesembahan Yang Maha Esa’.” (Al-Kahfi: 110)<br />
Telah kita ketahui pula bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wasallam diciptakan dengan perantara seorang bapak dan seorang ibu.  Beliau adalah manusia biasa yang dibedakan dengan pemberian wahyu oleh  Allah.<br />
Dalam peringatan maulid tersebut, sebagian mereka juga mengatakan bahwa  Allah menciptakan alam semesta karena Muhammad. Al-Quran mendustakan apa  yang mereka katakan itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Allah berfirman,<br />
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ<br />
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka  menyembahKu.” (Adz-Dzaariyaat: 56)</p>
<p style="text-align:justify;">4. Orang-orang Nasrani merayakan hari kelahiran Isa Al-Masih,  demikian pula mereka merayakan hari ulang tahun sanak famili mereka.  Dari tradisi mereka inilah, kaum muslimin mengambil bidah ini (yaitu  perayaan ulang tahun –pent.). Mereka merayakan maulid (ulang tahun) nabi  mereka, serta merayakan ulang tahun setiap sanak famili mereka.<br />
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memperingatkan,<br />
مَنْ تَـشَـبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ<br />
“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.”  (Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud)</p>
<p style="text-align:justify;">5. Dalam peringatan maulid Nabi tersebut, banyak terjadi ikhtilath  (campur aduk laki-laki dan perempuan dalam satu ruangan –pent.). Ini  merupakan perkara yang sesungguhnya diharamkan oleh Islam.</p>
<p style="text-align:justify;">6. Harta yang dihabiskan untuk menghiasi perayaan maulid berupa  kertas dekorasi, cat, lampu hias dan yang selain itu mencapai jutaan.  Uang sebanyak itu dihabiskan tanpa adanya faedah dan tidak sebanding  dengan uang yang diperoleh orang-orang kafir yang menjual hiasan-hiasan  yang diimpor dari negeri mereka. Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wasallam telah melarang untuk menyia-nyiakan harta.</p>
<p style="text-align:justify;">7. Waktu yang dipergunakan untuk hiasan-hiasan itu terkadang  menyebabkan mereka meninggalkan shalat, sebagaimana yang kami  perhatikan.</p>
<p style="text-align:justify;">8. Sudah menjadi tradisi bahwa di akhir acara peringatan mauled,  orang-orang berdiri, dengan keyakinan bahwa Rasulullah shallallaahu  ‘alaihi wasallam hadir. Ini adalah kedustaan yang nyata. Sebab Allah  Subhannahu wa ta’ala berfirman,<br />
وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ<br />
“Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka di-bangkitkan.”  (Al-Mu’minuun: 100)</p>
<p style="text-align:justify;">Yang dimaksud barzakh (dinding) pada saat tersebut adalah pembatas  antara dunia dengan akhirat.<br />
Anas bin Malik radhiallaahu ‘anhu berkata,<br />
“Tidak ada seorang pun yang lebih dicintai oleh para sahabat daripada  Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Tetapi jika mereka melihat  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka tidak berdiri untuk  (menghormati) beliau, karena mereka tahu bahwa Rasulullah membenci hal  itu.” (Sahih, HR. Ahmad dan At-Tirmidzi)</p>
<p style="text-align:justify;">9. Sebagian orang mengatakan, “Dalam maulid, kami membaca siroh  (perjalanan hidup) Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Tetapi pada  kenyataannya mereka melakukan hal-hal yang bertentangan dengan sabda  dan siroh beliau. Seorang yang mencintai Rasulullah shallallaahu ‘alaihi  wasallam adalah yang membaca siroh beliau setiap hari, bukan setiap  tahun. (Mereka bersuka-ria –pent.) pada bulan Rabi’ul Awal, bulan  kelahiran Nabi, juga merupakan bulan di mana Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wasallam wafat. Maka bersuka cita di dalamnya tidak lebih utama  daripada bersedih pada bulan tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">10. Seringkali peringatan maulid itu berlarut hingga tengah malam.  Akhirnya mereka, minimal meninggalkan salat Shubuh secara berjamaah,  atau malahan tidak melakukan salat Shubuh.</p>
<p style="text-align:justify;">11. Banyaknya orang yang ikut tidaklah menjadi pembenaran bagi  peringatan maulid. Karena Allah Subhannahu wa ta’ala telah berfirman,<br />
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الأرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ<br />
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini,  niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (Al-An’am: 116)<br />
Hudzaifah berkata, “Setiap bidah adalah sesat, meskipun oleh manusia hal  itu dianggap sebuah kebaikan.”</p>
<p style="text-align:justify;">12. Hasan Al-Bashri berkata, “Sesungguhnya Ahlus Sunnah, sejak dahulu  adalah kelompok minoritas di antara manusia. Demikian pula, sampai saat  ini mereka adalah minoritas. Mereka tidak mengikuti para tukang maksiat  dalam kemaksiatan mereka, tidak pula para ahli bidah dalam perbuatan  bidah mereka. Mereka bersabar atas jalan yang mereka tempuh ini, sampai  mereka menghadap Rabb mereka. Oleh karena itulah mereka menjadi Ahlus  Sunnah”.</p>
<p style="text-align:justify;">13. Sesungguhnya yang pertama kali mengadakan peringatan maulid  adalah Raja Al-Muzhaffar di negeri Syam, pada awal abad ke tujuh  hijriah. Sedangkan yang pertama kali mengadakan maulid di Mesir adalah  orang-orang Fathimiyun. Mereka ini sebagaimana dikatakan oleh Ibnu  Katsir adalah orang-orang kafir, fasik dan fajir (tukang maksiat  –pent.).<br />
Diterjemahkan dari Minhaj Firqatinnajiyah, Darul Haramain, halaman  108-110.</p>
<p style="text-align:justify;">copast dari :  http://ulamasunnah.wordpress.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anakampah.wordpress.com/355/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anakampah.wordpress.com/355/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anakampah.wordpress.com/355/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anakampah.wordpress.com/355/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/anakampah.wordpress.com/355/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/anakampah.wordpress.com/355/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/anakampah.wordpress.com/355/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/anakampah.wordpress.com/355/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anakampah.wordpress.com/355/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anakampah.wordpress.com/355/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anakampah.wordpress.com/355/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anakampah.wordpress.com/355/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anakampah.wordpress.com/355/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anakampah.wordpress.com/355/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anakampah.wordpress.com&amp;blog=6274777&amp;post=355&amp;subd=anakampah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anakampah.wordpress.com/2010/02/17/kemungkaran-peringatan-maulid-nabi-muhammad/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">agungsuparjono</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Maulid Nabi dalam sorotan Islam</title>
		<link>http://anakampah.wordpress.com/2010/02/17/maulid-nabi-dalam-sorotan-islam/</link>
		<comments>http://anakampah.wordpress.com/2010/02/17/maulid-nabi-dalam-sorotan-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Feb 2010 09:11:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agung Suparjono</dc:creator>
				<category><![CDATA[FATWA]]></category>
		<category><![CDATA[all]]></category>
		<category><![CDATA[aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[maulid nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anakampah.wordpress.com/?p=353</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah, semoga sholawat dan salam selalu terlimpahkan kepada junjungan kita Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, dan para sahabatnya, serta orang orang yang mendapat petunjuk dari Allah. Telah berulang kali muncul pertanyaan tentang hukum upacara (ceremoni ) peringatan maulid Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam ; mengadakan ibadah tertentu pada malam itu, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anakampah.wordpress.com&amp;blog=6274777&amp;post=353&amp;subd=anakampah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Segala puji bagi Allah, semoga sholawat dan salam selalu terlimpahkan  kepada junjungan kita Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam,  keluarganya, dan para sahabatnya, serta orang orang yang mendapat  petunjuk dari Allah.</p>
<p>Telah berulang kali muncul pertanyaan tentang hukum upacara (ceremoni )  peringatan maulid Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam ;  mengadakan ibadah tertentu pada malam itu, mengucapkan salam atas beliau  dan berbagai macam perbuatan lainnya.<span id="more-353"></span></p>
<p>Jawabnya : Harus dikatakan, bahwa tidak boleh mengadakan kumpul kumpul /  pesta pesta pada malam kelahiran Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa  sallam, dan juga malam lainnya, karena hal itu merupakan suatu perbuatan  baru (bid’ah ) dalam agama, selain Rasulullah belum pernah  mengerjakanya, begitu pula Khulafaaurrasyidin, para sahabat lain dan  para Tabi’in yang hidup pada kurun paling baik, mereka adalah kalangan  orang orang yang lebih mengerti terhadap sunnah, lebih banyak mencintai  Rasulullah dari pada generasi setelahnya, dan benar benar menjalankan  syariatnya.</p>
<p>Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :<br />
&#8221; من أحـدث في أمـرنا هذا ما ليس منـه فهـو رد &#8220;، أي مـردود.<br />
“Barang  siapa mengada adakan ( sesuatu hal baru ) dalam urusan ( agama )   kami yang ( sebelumnya ) tidak pernah ada, maka akan ditolak”.</p>
<p>Dalam hadits lain beliau bersabda :<br />
&#8221; عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين بعدي، تمسكوا بها وعضوا  عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة  &#8220;.<br />
“Kamu semua harus berpegang teguh pada sunnahku (setelah  Al qur’an)  dan sunnah Khulafaurrasyidin yang mendapatkan petunjuk Allah sesudahku,  berpeganglah dengan sunnah itu, dan gigitlah dengan gigi geraham kalian  sekuat kuatnya, serta jauhilah perbuatan baru ( dalam agama ), karena  setiap perbuatan baru itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat” (  HR. Abu Daud dan Turmudzi ).</p>
<p>Maka dalam dua hadits ini kita dapatkan suatu peringatan keras, yaitu  agar kita senantiasa waspada, jangan sampai mengadakan perbuatan bid’ah  apapun, begitu pula mengerjakannya.</p>
<p>Firman Allah ta’ala dalam kitab-Nya :<br />
] وما آتاكم الرسول فخذوه وما نهاكم عنه فانتهوا واتقوا الله إن الله شديد  العقاب [<br />
“Dan apa yang dibawa Rasul kepadamu, maka terimalah ia, dan apa yang  dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah ia, dan bertaqwalah kepada Allah,  sesungguhnya Allah keras siksaan- Nya” ( QS. Al Hasyr 7 ).</p>
<p>] فليحـذر الذين يخالفـون عن أمـره أن تصيبـهم فتنة أو يصيبـهم عذاب أليم [<br />
“Karena itu hendaklah orang orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan  ditimpa cobaan atau adzab yang pedih” ( QS. An Nur, 63 ).</p>
<p>] لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة لمن كان يرجو الله واليوم الآخر وذكر  الله كثيرا [<br />
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa  sallam suri tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang orang yang  mengharap (rahmat ) Allah,  dan ( kedatangan )  hari kiamat,  dan dia  banyak menyebut Allah” ( QS. Al Ahzab,21 ).<br />
] والسابقون الأولون من المهاجرين والأنصار والذين اتبعوهم بإحسان رضي الله  عنهم ورضوا عنه وأعد لهم جنات تجري تحتها الأنهار خالدين فيها أبدا ذلك  الفوز العظيم [</p>
<p>“Orang orang terdahulu lagi pertama kali (masuk Islam ) diantara orang  orang Muhajirin dan Anshor dan orang orang yang mengikuti mereka dalam  kebaikan itu, Allah ridho kepada mereka, dan merekapun ridho kepadaNya,  serta Ia sediakan bagi mereka syurga syurga yang disana mengalir  beberapa sungai, mereka kekal didalamnya, itulah kemenangan yang besar” (  QS, At taubah, 100 ).</p>
<p>] اليوم أكملت لكم دينكـم وأتممت عليكـم نعمتي ورضيت لكـم الإسلام دينا [<br />
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan  kepadamu ni’matKu, dan telah Kuridlai Islam itu sebagai agama bagimu” (  QS. Al Maidah, 3 ).</p>
<p>Dan masih banyak lagi ayat ayat yang menerangkan kesempurnaan Islam dan  melarang melakukan bid’ah karena mengada-adakan sesuatu hal baru dalam  agama, seperti peringatan peringatan ulang tahun, berarti menunjukkan  bahwasanya Allah belum menyempurnakan agamaNya buat umat ini, berarti  juga Rasulullah itu belum menyampaikan apa apa yang wajib dikerjakan  umatnya, sehingga datang orang orang yang kemudian mengada adakan  sesuatu hal baru yang tidak diperkenankan oleh Allah, dengan anggapan  bahwa cara tersebut merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada  Allah. Tidak diragukan lagi, bahwa cara tersebut terdapat bahaya yang  besar, lantaran menentang Allah ta’ala, begitu pula ( lantaran )  menentang Rasulullah. Karena sesungguhnya Allah telah menyempurnakan  agama ini bagi hamba-Nya, dan telah mencukupkan ni’mat-Nya untuk mereka.</p>
<p>Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan risalahnya  secara keseluruhan, tidaklah beliau meninggalkan suatu jalan menuju  syurga, serta menjauhi diri dari neraka, kecuali telah diterangkan oleh  beliau kepada seluruh ummatnya sejelas jelasnya.</p>
<p>Sebagaimana telah disabdakan dalam haditsnya, dari Ibnu Umar rodhiAllah  ‘anhu bahwa beliau bersabda<br />
" ما بعث الله من نبي إلا كان حقا عليه أن يدل أمته على خير ما يعلمه لهم  وينذرهم  عن شر ما يعلمه لهم ".<br />
“Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi, melainkan diwajibkan baginya agar  menunjukkan kepada umatnya jalan kebaikan yang telah diajarkan kepada  mereka,  dan  memperingatkan  mereka  dari  kejahatan ( hal hal tidak  baik ) yang telah ditunjukkan kepada mereka” ( HR. Muslim ).</p>
<p>Tidak dapat dipungkiri, bahwasanya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa  sallam adalah Nabi terbaik diantara Nabi Nabi lain, beliau merupakan  penutup bagi mereka ; seorang Nabi paling lengkap dalam menyampaikan  da’wah dan nasehatnya diantara mereka itu semua.</p>
<p>Jika seandainya upacara peringatan maulid Nabi itu betul betul datang  dari agama yang diridloi Allah, niscaya Rasulullah menerangkan kepada  umatnya, atau beliau menjalankan semasa hidupnya, atau paling tidak,  dikerjakan oleh para sahabat. Maka jika semua itu belum pernah terjadi,  jelaslah bahwa hal itu bukan dari ajaran Islam sama sekali, dan  merupakan seuatu hal yang diada adakan ( bid’ah ), dimana Rasulullah  Shalallahu ‘alaihi wa sallam sudah memperingatkan kepada umatnya agar  supaya dijauhi, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam dua hadits  diatas, dan masih banyak hadits hadits lain yang senada dengan hadits  tersebut, seperti sabda beliau dalam salah satu khutbah Jum’at nya :</p>
<p>" أما بعد، فإن خير الحديث كتاب الله، وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه  وسلم وشر الأمور محدثاتها، وكل بدعة ضلالة ".</p>
<p>“Adapun sesudahnya, sesungguhnya sebaik baik perkataan ialah kitab Allah  (Al Qur’an), dan sebaik baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad  Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan sejelek jelek perbuatan ( dalam agama)  ialah yang diada adakan (bid’ah), sedang tiap tiap bid’ah itu  kesesatan” ( HR. Muslim ).</p>
<p>Masih banyak lagi ayat ayat Al Qur’an serta hadits hadits yang  menjelaskan masalah ini, berdasarkan dalil dalil inilah para ulama  bersepakat untuk mengingkari upacara peringatan maulid Nabi Muhammad  Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan memperingatkan agar waspada  terhadapnya.</p>
<p>Tetapi orang orang yang datang kemudian menyalahinya, yaitu dengan  membolehkan hal itu semua selama  di dalam acara itu tidak terdapat  kemungkaran seperti berlebih lebihan dalam memuji Rasulullah Shalallahu  ‘alaihi wa sallam, bercampurnya laki laki dan perempuan (yang bukan  mahram), pemakaian alat alat musik dan lain sebagainya dari hal hal yang  menyalahi syariat, mereka beranggapan bahwa ini semua termasuk bid’ah  hasanah padahal kaidah syariat mengatakan bahwa segala sesuatu yang  diperselisihkan oleh manusia hendaknya dikembalikan kepada Al Qur’an dan  sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam.</p>
<p>Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman :<br />
] يا أيها الذين آمنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم فإن  تنازعتم في شيء فردوه إلى الله والرسول إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الآخر  ذلك خير وأحسن تأويلا [<br />
“Hai  orang orang  yang beriman, taatilah Allah, dan taatilah Rasul  (Nya), dan Ulil Amri ( pemimpin) diantara kamu, kemudian jika kamu  berlainan  pendapat  tentang  sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada  Allah ( Al Qur’an ) dan Rasul ( Al Hadits), jika kamu benar benar  beriman kepada  Allah  dan  hari kemudian. Yang demikian itu adalah  lebih utama ( bagimu ) dan lebih baik akibatnya” ( QS. An nisa’, 59 ).</p>
<p>] وما اختلفتم فيه من شيء فحكمه إلى الله ذلكم الله ربي عليه توكلت وإليه  أنيب [<br />
“Tentang  sesuatu  apapun  kamu  berselisih,  maka  putusannya (terserah  ) kepada Allah ( yang mempunyai sifat sifat demikian ), itulah Tuhanku,  Kepada -Nya- lah aku bertawakkal dan kepada –Nya- lah aku kembali” (  QS. Asy syuro, 10 ).</p>
<p>Ternyata setelah masalah ini (hukum upacara maulid Nabi) kita kembalikan  kepada kitab Allah ( Al Qur’an ), kita dapatkan suatu perintah yang  menganjurkan kita agar mengikuti apa apa yang dibawa oleh Rasulullah,  menjauhi apa apa yang dilarang oleh beliau, dan (Al Qur’an ) memberi  penjelasan pula kepada kita bahwasanya Allah subhaanahu wa ta’ala telah  menyempurnakan agama umat ini.</p>
<p>Dengan demikian upacara peringatan maulid Nabi ini tidak sesuai dengan  apa yang dibawa oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia  bukan dari ajaran agama yang telah disempurnakan oleh Allah subhaanahu  wa ta’ala kepada kita, dan diperintahkan agar mengikuti sunnah Rasul,  ternyata tidak terdapat keterangan bahwa beliau telah menjalankannya,  (tidak) memerintahkannya, dan (tidak pula) dikerjakan oleh sahabat  sahabatnya.</p>
<p>Berarti jelaslah bahwasanya hal ini bukan dari agama, tetapi ia adalah  merupakan suatu perbuatan yang diada adakan, perbuatan yang menyerupai  hari hari besar ahli kitab, Yahudi dan Nasrani.<br />
Hal ini jelas bagi mereka yang mau berfikir, berkemauan mendapatkan yang  haq, dan mempunyai keobyektifan dalam membahas ; bahwa upacara  peringatan maulid Nabi bukan dari ajaran agama Islam, melainkan  merupakan bid’ah bid’ah yang diada adakan, dimana Allah memerintahkan  RasulNya agar meninggalkanya dan memperingatkan agar waspada  terhadapnya, tak layak bagi orang yang berakal tertipu karena perbuatan  perbuatan tersebut banyak dikerjakan oleh orang banyak diseluruh jagat  raya, sebab kebenaran (Al Haq) tidak bisa dilihat dari banyaknya pelaku  (yang mengerjakannya), tetapi diketahui atas dasar dalil dalil syara’.<br />
Sebagaimana Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman tentang orang orang  Yahudi dan Nasrani :<br />
] وقالوا لن يدخل الجنة إلا من كان هودا أو نصارى تلك أمانيهم قل هاتوا  برهانكم إن كنتم صادقين [<br />
“Dan mereka ( Yahudi dan Nasrani ) berkata : sekali kali tak (seorangpun  ) akan masuk sorga, kecuali orang orang yang beragama Yahudi dan  Nasrani. Demikian itu (hanya) angan angan mereka yang kosong belaka ;  katakanlah : tunjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu orang orang yang  benar” ( QS. Al Baqarah, 111 ).</p>
<p>] وإن تطع أكثر من في الأرض يضلوك عن سبيل الله إن يتبعون إلا الظن وإن هم  إلا يخرصون [<br />
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang orang yang berada dimuka bumi  ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah ; mereka tidak  lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak lain hanyalah  menyangka-nyangka” ( QS. Al An’am, 116 ).</p>
<p>Lebih dari itu, upacara peringatan maulid Nabi ini – selain bid’ah  –tidak lepas dari kemungkaran kemungkaran, seperti bercampurnya laki  laki dan perempuan ( yang bukan mahram ), pemakaian lagu lagu dan bunyi  bunyian, minum minuman yang memabukkan, ganja dan kejahatan kejahatan  lainya yang serupa.</p>
<p>Kadangkala terjadi juga hal yang lebih besar dari pada itu, yaitu  perbuatan syirik besar, dengan sebab mengagung agungkan Rasulullah  secara berlebih lebihan atau mengagung agungkan para wali, berupa  permohonan do’a, pertolongan dan rizki. Mereka percaya bahwa Rasul dan  para wali mengetahui hal hal yang ghoib, dan macam macam kekufuran  lainnya yang sudah biasa dilakukan orang banyak dalam upacara malam  peringatan maulid Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam itu.</p>
<p>Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :<br />
" إياكم والغلو في الدين، فإنما أهلك من كان قبلكم الغلو في الدين ".<br />
“Janganlah kalian berlebih lebihan dalam agama, karena berlebih lebihan  dalam agama itu telah menghancurkan orang orang sebelum kalian”.<br />
" لا تطروني كما أطرت النصارى ابن مريم، إنما أنا عبد، فقولوا عبد الله  ورسوله " رواه البخاري في صحيحه من حديث عمر رضي الله عنه.<br />
“Janganlah kalian berlebih lebihan dalam memujiku sebagaimana orang  orang Nasrani memuji anak Maryam, Aku tidak lain hanyalah seorang hamba,  maka katakanlah : hamba Allah dan Rasul Allah” ( HR. Bukhori dalam  kitab shohihnya, dari hadits Umar,  Radliyallahu ‘anhu  ).</p>
<p>Yang lebih mengherankan lagi yaitu banyak diantara manusia itu ada yang  betul betul giat dan bersemangat dalam rangka menghadiri upacara bid’ah  ini, bahkan sampai membelanya, sedang mereka berani meninggalkan sholat  Jum’at  dan sholat jama’ah yang telah diwajibkan oleh Allah kepada  mereka, dan sekali kali tidak mereka indahkan. Mereka tidak sadar kalau  mereka itu telah mendatangkan kemungkaran yang besar, disebabkan karena  lemahnya iman kurangnya berfikir, dan berkaratnya hati mereka, karena  bermacam macam dosa dan perbuatan maksiat. Marilah kita sama sama  meminta kepada Allah agar tetap memberikan limpahan karuniaNya kepada  kita dan kaum muslimin.</p>
<p>Diantara pendukung maulid itu ada yang mengira, bahwa pada malam upacara  peringatan tersebut Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam datang,  oleh kerena itu mereka berdiri menghormati dan menyambutnya, ini  merupakan kebatilan yang paling besar, dan kebodohan yang paling nyata.  Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan bangkit dari kuburnya  sebelum hari kiamat, tidak berkomunikasi kepada seorangpun, dan tidak  menghadiri pertemuan pertemuan umatnya, tetapi beliau tetap tinggal  didalam kuburnya sampai datang hari kiamat, sedangkan ruhnya ditempatkan  pada tempat yang paling tinggi (‘Illiyyin ) di sisi TuhanNya, itulah  tempat kemuliaan.</p>
<p>Firman Allah dalam Al Qur’an :<br />
] ثم إنكم بعد ذلك لميتون ثم إنكم يوم القيامة تبعثون [<br />
“Kemudian sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian pasti mati, kemudian  sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan ( dari kuburmu ) di hari  kiamat” ( QS. Al Mu’minun, 15-16 ).</p>
<p>Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :<br />
" أنا أول من ينشق عنه القبر يوم القيامة، وأنا أول شافع وأول مشفع "</p>
<p>“Aku adalah orang yang pertama kali dibangkitkan / dibangunkan diantara  ahli kubur  pada hari kiamat, dan aku adalah orang yang pertama kali  memberi syafa’at dan diizinkan memberikan syafa’at”.</p>
<p>Ayat dan hadits diatas, serta ayat ayat dan hadits hadits yang lain yang  semakna menunjukkan bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam  dan mayat mayat yang lainnya tidak akan bangkit kembali kecuali sesudah  datangnya hari kebangkitan. Hal ini sudah menjadi kesepakatan para  ulama, tidak ada pertentangan diantara mereka.</p>
<p>Maka wajib bagi setiap individu muslim memperhatikan masalah masalah  seperti ini, dan waspada terhadap apa apa yang diada adakan oleh orang  orang bodoh dan kelompoknya, dari perbuatan perbuatan bid’ah dan  khurafat khurafat, yang tidak diturunkan oleh Allah subhaanahu wa  ta’ala. Hanya Allah lah sebaik baik pelindung kita, kepada-Nyalah kita  berserah diri dan tidak ada kekuatan serta kekuasaan apapun kecuali  kepunyaan-Nya.</p>
<p>Sedangkan ucapan sholawat dan salam atas Rasulullah adalah merupakan  pendekatan diri kepada Allah yang paling baik, dan merupakan perbuatan  yang baik, sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an :<br />
] إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا  تسليما [<br />
“Sesungguhnya Allah dan Malaikat malaikatNya bersholawat kepada Nabi,  hai orang orang yang beriman, bersholawatlah kalian atas Nabi dan  ucapkanlah salam dengan penghormatan kepadanya” ( QS. Al Ahzab, 56 ).</p>
<p>Dan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :<br />
&#8221; من صلى علي واحدة صلى الله عليه بها عشرا &#8220;.<br />
“Barang siapa yang mengucapkan sholawat kepadaku sekali, maka Allah akan  bersholawat ( memberi rahmat ) kepadanya sepuluh kali lipat.”</p>
<p>Sholawat itu disyariatkan pada setiap waktu, dan hukumnya Muakkad jika  diamalkan pada ahir setiap sholat, bahkan sebagian para ulama  mewajibkannya pada tasyahud ahir di setiap sholat, dan sunnah muakkadah  pada tempat lainnya, diantaranya setelah adzan, ketika disebut nama  Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, pada hari Jum’at  dan malamnya,  sebagaimana hal itu diterangkan oleh hadits hadits yang cukup banyak  jumlahnya.</p>
<p>Allah lah tempat kita memohon, untuk memberi taufiq kepada kita sekalian  dan kaum muslimin, dalam memahami agama Nya, dan memberi mereka  ketetapan iman, semoga Allah memberi petunjuk kepada kita agar tetap  kosisten dalam mengikuti sunnah, dan waspada terhadap bid’ah, karena  Dialah MahaPemurah dan MahaMulia, semoga pula sholawat dan salam selalu  dilimpahkan kepada junjungan besar Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa  sallam.</p>
<p>(Dikutip dari الحذر من البدع Tulisan Syaikh Abdullah Bin Abdul Aziz Bin  Baz, Mufti Saudi Arabia. Penerbit Departemen Agama Saudi Arabia. Edisi  Indonesia &#8220;Waspada terhadap Bid&#8217;ah&#8221;)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anakampah.wordpress.com/353/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anakampah.wordpress.com/353/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anakampah.wordpress.com/353/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anakampah.wordpress.com/353/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/anakampah.wordpress.com/353/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/anakampah.wordpress.com/353/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/anakampah.wordpress.com/353/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/anakampah.wordpress.com/353/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anakampah.wordpress.com/353/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anakampah.wordpress.com/353/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anakampah.wordpress.com/353/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anakampah.wordpress.com/353/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anakampah.wordpress.com/353/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anakampah.wordpress.com/353/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anakampah.wordpress.com&amp;blog=6274777&amp;post=353&amp;subd=anakampah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anakampah.wordpress.com/2010/02/17/maulid-nabi-dalam-sorotan-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">agungsuparjono</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
